Dari semalam aku membicarakan #secangkirkopi dalam penggalan 140 karakter di timeline. HAnya kicauan terpisah setiap kalimat yang tertulis disana :)
4 Jan 2011
Aku menikahi #secangkirkopi .Menemaniku melewati malam,bergumul dgn deadline
Hanya ada dia,aku dan #secangkirkopi di sudut @sabang16.tatapan beradu,membisu
Pusaran adukan #secangkirkopi seolah merefleksikan apa yg terjadi setahun yg lalu.
Aku tahu,hanya #secangkirkopi yang menguatkanmu lalui hari dan malammu.
Aku cemburu.kamu terlalu setia pada #secangkirkopi mu.
Cintaku tertuang penuh dalam #secangkirkopi di hadapanmu.
Sedihku meluruh,air mataku jatuh.#secangkirkopi semakin penuh,siap meluapkan kesedihan
Jangan cegah kantukku dgn #secangkirkopi mu. Ijinkan mataku tertutup.
5 Jan 2011
Dear @tatamifta kami baik-baik saja,#secangkirkopi tetap jd favorit kami
Pagi tanpa #secangkirkopi .Cangkir masih menyisakan ampas semalam.
Tanpa gula #secangkirkopi tetap terasa manis dan hangat dengan percakapanmu
Kala itu,hanya hujan dan #secangkirkopi yg menemaniku.Membunuh waktu hingga lelahku
Rejeki itu seperti #secangkirkopi layak dinikmati dan disyukuri
***
Sekian :)
Wednesday, January 05, 2011
Wednesday, November 24, 2010
Membeli=Peduli 'Empat Elemen'
Setahun yang lalu The Hermes berhasil beramal melalui penjualan e-book Hermes For Charity yang hasil penjualannya disumbangkan kepada korban gempa padang (jangka panjang/ recovery)
Tahun ini, Indonesia kembali berduka, innilah yang mengetuk hati The Hermes untuk kembali membuat e-book Hermes For Charity Vol.2 dengan tajuk ‘Empat Elemen’.
Pada e-book kali ini The Hermes juga mengajak teman-teman lain untuk turut berpartisipasi menulis cerita pendek. Proyek amal ini digarap dalam jangka waktu 1 bulan.
Tahun ini, Indonesia kembali berduka, innilah yang mengetuk hati The Hermes untuk kembali membuat e-book Hermes For Charity Vol.2 dengan tajuk ‘Empat Elemen’.
Pada e-book kali ini The Hermes juga mengajak teman-teman lain untuk turut berpartisipasi menulis cerita pendek. Proyek amal ini digarap dalam jangka waktu 1 bulan.
Segera rilis 25 November 2010
The Hermes & Friends
proudly present
The Hermes Charity Vol.2 ‘Empat Elemen’
| design by @lalabohang |
Cara pembelian, silahkan klik disini
Membeli=Peduli.
Labels:
The Hermes
1 comments
Saturday, November 06, 2010
[emagz#4 The Hermes] Hermes Duets
Setelah melalui proses panjang akhirnya E-magazine #4 The Hermes rilis juga :)
Judulnya kali ini ' Hermes Duets'. Yap, kami hermesian menulis cerita secara duet.
Cara menentukan pasangan duet unik lho... Sehabis buka puasa bersama di Roti Bakar edy blok M, kita bikin arisan duet. hahaha... Hasil undiannya saya akhirnya berduet dengan Jia Effendie
Seperti kata editor, Rahne Putri
Sila unduh dengan klik Covernya berikut
Judulnya kali ini ' Hermes Duets'. Yap, kami hermesian menulis cerita secara duet.
Cara menentukan pasangan duet unik lho... Sehabis buka puasa bersama di Roti Bakar edy blok M, kita bikin arisan duet. hahaha... Hasil undiannya saya akhirnya berduet dengan Jia Effendie
Seperti kata editor, Rahne Putri
E-magz duets ini, bagai kupu kupu.Semoga emagz kali ini menghibur :)
Dimana sebuah kisah akan lahir dari kepakan sayap
aksara dari geliat jemari sepasang penulis.
Sila unduh dengan klik Covernya berikut
| Hermes Duets |
Labels:
The Hermes
0
comments
Monday, November 01, 2010
Si Tolol
“Mikir tu make otak!” Hardiknya.
Aku hanya diam. Tak menanggapi. Tak menatap juga. Dengan langkah lunglai kutinggalkan ruang tengah begitu saja.
Bantal dan guling adalah teman tidur sekaligus pendengar yang baik bagiku. Seperti malam ini, lagi-lagi keduanya ikhlas menampung air mataku. Aku masih tak berkata-kata, hanya linangan air mata yang tak terbendung dari mataku.
Ini bukan kali pertama aku mendengar ucapan serupa keluar dari mulutnya. Intinya, aku sama dengan tolol. Ya, baginya aku adalah orang tolol. Yang tak pernah berpikir panjang, tak pernah berpikir menggunakan otak, selalu ceroboh, dan selalu tolol sampai akhir hayatku.
Memang, aku terkadang ceroboh. Misalnya tak sengaja menyenggol gelas berisi larutan penyegar yang sedang bereaksi setelah diaduk 18 kali, hingga tumpah di atas meja makan saat makan pagi.
Atau tak sengaja menduduki kumpulan laporan penelitiannya hingga sedikit lecek, yang diletakkan di jok belakang mobil.
Atau mengotori lantai teras rumah dengan jejak kaki karena tak sadar mengenakan sepatu yang penuh lumpur di solnya.
Tapi aku bukan orang tolol!
Meski tak selalu ranking satu, aku tak pernah keluar dari sepuluh besar setiap pembagian rapor saat sekolah.
Aku juga punya beberapa prestasi sampai tingkat nasional, dimana tak semua orang bisa meraihnnya.
Disaat kuliah, indeks prestasiku tak pernah dibawah angka tiga. Dan aku lulus tepat waktu 4 tahun dari jurusan yang kebanyakan orang menganggapnya susah dan berat.
Bahkan saat aku sudah bekerja di perusahaan ternama, dengan posisi bagus yang diidamkan banyak orang, ia tetap saja melabeliku dengan stiker tolol.
Aku tak akan pernah berubah dimatanya. Aku tetap si tolol.
Saat kecil aku selalu dibuatnya menangis karena berkelahi untuk hal apa saja. Saat beranjak remaja tak jauh beda, aku masih sering menangis setelah adu otot. Di kala usia sudah dewasa, setelah berdebat, aku masih menyisakan tangis juga.
Mungkin, ia memang tak pernah bangga punya adik sepertiku. Dan aku tetap menjadi ‘si tolol’.
Kupandangi cermin, kutatap bayanganku di sana. Mataku merah dan masih berair.
Mungkin ia akan lebih bangga bila si tolol tiada?
Tertanda, adikmu yang tolol.
Kububuhkan tanda tangan diatas kertas ini, dan berkemas.
Jakarta,
End of October 2010
Labels:
[Fiksi Lepas] Super GaL
3
comments
Thursday, October 14, 2010
Ketika Ketak Ketik
Suara keyboard yang ditekan terdengar jelas disini.
Dari sebelah sana juga begitu.
Di seberang sana juga.
Di ujung sana juga sama.
Seluruh ruangan ini dipenuhi suara sentuhan tangan-tangan yang lincah menari-nari diatas keyboard. Irama dan temponya berbeda. Tapi semua berbunyi. Sama.
Semua orang disini seperti terpenjara dalam ruangannya masing-masing. Iya, meski meja kami terbuka, tapi ruang maya sudah terbentuk. Masing-masing orang memiliki kapling tak lebih dari 1 x 1 m. Itu sudah lebih dari cukup. Untuk meja, kursi , dan perangkat komputernya.
Semua orang tak lepas memandang layar monitor. Sementara tangannya sedang mengetik sesuatu. Aku juga.
Ini perdana bagiku. Setelah genap satu minggu aku nyaris tak menyentuh keyboard untuk mengetik.
Satu Minggu?
Yap, satu Minggu. Waktu yang lama untuk ukuran seorang aku tidak berakrab-akrab dengan komputer lengkap dengan keyboardnya.
Ada apa dengan satu Minggu yang lalu?
Well, Aku hanya ingin mengetik satu paragraf sebagai penjelasan.
Percaya atau tidak, ketika kamu patah hati kamu akan sangat produktif mengetik hingga menghasilkan banyak tulisan. Tapi ketika kamu jatuh cinta kamu akan lumpuh dari aktivitas mengetikmu bahkan tak menghasilkan apa-apa.
Ya, aku jatuh cinta tepat seminggu yang lalu!
–Galuh Parantri
Labels:
Flash Fiction
7
comments
Subscribe to:
Posts (Atom)