Friday, January 14, 2011

#WanitaJakarta -Part1


Hak sepatuku beradu dengan panasnya aspal. Gesekannya nyaris menciptakan api amarah

Tergesa meneguk sekaleng minuman ringan setengah berlari mengejar taksi


Merengkuh waktu berburu sesuatu, meski hanya selintas lalu. Hati telah membatu.
Debu menyapu raut lesuku. Langkah semakin lunglai menunggumu di sudut jalan itu.



Beradu dengan waktu, bersikeras dengan argumen. Namun tatkala hati lumpuh, aku luluh saat dimadu.


Kala bulan berganti fajar, dia menatap datar. Aku sadar , hidupku bagai di sangkar

Aura bahagia selalu mengawali langkah pagi hari . Dan menutup hari dengan sapuan bedak berkali-kali

Denyut nadi berubah cepat terpacu saat harus tiba tepat waktu di bangunan pencakar langit #WanitaJakarta

Wednesday, January 05, 2011

#secangkirkopi

Dari semalam aku membicarakan #secangkirkopi dalam penggalan 140 karakter di timeline. HAnya kicauan terpisah setiap kalimat yang tertulis disana :)



4 Jan 2011
Aku menikahi .Menemaniku melewati malam,bergumul dgn deadline

Hanya ada dia,aku dan di sudut @.tatapan beradu,membisu

Pusaran adukan seolah merefleksikan apa yg terjadi setahun yg lalu.

Aku tahu,hanya yang menguatkanmu lalui hari dan malammu.

Aku cemburu.kamu terlalu setia pada mu.

Cintaku tertuang penuh dalam di hadapanmu.

Sedihku meluruh,air mataku jatuh. semakin penuh,siap meluapkan kesedihan

Jangan cegah kantukku dgn mu. Ijinkan mataku tertutup.

5 Jan 2011
Dear @ kami baik-baik saja, tetap jd favorit kami

Pagi tanpa .Cangkir masih menyisakan ampas semalam.


Tanpa gula tetap terasa manis dan hangat dengan percakapanmu

Kala itu,hanya hujan dan yg menemaniku.Membunuh waktu hingga lelahku

Rejeki itu seperti layak dinikmati dan disyukuri

***
Sekian :)

Wednesday, November 24, 2010

Membeli=Peduli 'Empat Elemen'

Setahun yang lalu The Hermes berhasil beramal melalui penjualan e-book Hermes For Charity yang hasil penjualannya disumbangkan kepada korban gempa padang (jangka panjang/ recovery)

Tahun ini, Indonesia kembali berduka, innilah yang mengetuk hati The Hermes untuk kembali membuat e-book Hermes For Charity Vol.2 dengan tajuk ‘Empat Elemen’.

Pada e-book kali ini The Hermes juga mengajak teman-teman lain untuk turut berpartisipasi menulis cerita pendek. Proyek amal ini digarap dalam jangka waktu 1 bulan.

Segera rilis 25 November 2010

The Hermes & Friends
proudly present
The Hermes Charity Vol.2 ‘Empat Elemen’
1290508131913046147
design by @lalabohang



Cara pembelian, silahkan klik disini

Membeli=Peduli.

Saturday, November 06, 2010

[emagz#4 The Hermes] Hermes Duets

Setelah melalui proses panjang akhirnya E-magazine #4 The Hermes rilis juga :)


Judulnya kali ini ' Hermes Duets'. Yap, kami hermesian menulis cerita secara duet. 


Cara menentukan pasangan duet unik lho... Sehabis buka puasa bersama di Roti Bakar edy blok M, kita bikin arisan duet. hahaha... Hasil undiannya saya akhirnya berduet dengan Jia Effendie


Seperti kata editor, Rahne Putri 
E-magz duets ini, bagai kupu kupu.
Dimana  sebuah  kisah  akan  lahir  dari  kepakan  sayap
aksara dari geliat jemari sepasang penulis.
Semoga emagz kali ini menghibur :)

Sila unduh dengan klik Covernya berikut 
Hermes Duets



Monday, November 01, 2010

Si Tolol



“Mikir tu make otak!” Hardiknya.

Aku hanya diam. Tak menanggapi. Tak menatap juga. Dengan langkah lunglai kutinggalkan ruang tengah begitu saja.

Bantal dan guling adalah teman tidur sekaligus pendengar yang baik bagiku. Seperti malam ini, lagi-lagi keduanya ikhlas menampung air mataku. Aku masih tak berkata-kata, hanya linangan air mata yang tak terbendung dari mataku.

Ini bukan kali pertama aku mendengar ucapan serupa keluar dari mulutnya. Intinya, aku sama dengan tolol. Ya, baginya aku adalah orang tolol. Yang tak pernah berpikir panjang, tak pernah berpikir menggunakan otak, selalu ceroboh, dan selalu tolol sampai akhir hayatku.

Memang, aku terkadang ceroboh. Misalnya tak sengaja menyenggol gelas berisi larutan penyegar yang sedang bereaksi setelah diaduk 18 kali, hingga tumpah di atas meja makan saat makan pagi.

Atau tak sengaja menduduki kumpulan laporan penelitiannya hingga sedikit lecek, yang diletakkan di jok belakang mobil.

Atau mengotori lantai teras rumah dengan jejak kaki karena tak sadar mengenakan sepatu yang penuh lumpur di solnya.

Tapi aku bukan orang tolol!

Meski tak selalu ranking satu, aku tak pernah keluar dari sepuluh besar setiap pembagian rapor saat sekolah.

Aku juga punya beberapa prestasi sampai tingkat nasional, dimana tak semua orang bisa meraihnnya.

Disaat kuliah, indeks prestasiku tak pernah dibawah angka tiga. Dan aku lulus tepat waktu 4 tahun dari jurusan yang kebanyakan orang menganggapnya susah dan berat.

Bahkan saat aku sudah bekerja di perusahaan ternama, dengan posisi bagus yang diidamkan banyak orang, ia tetap saja melabeliku dengan stiker tolol.

Aku tak akan pernah berubah dimatanya. Aku tetap si tolol.

Saat kecil aku selalu dibuatnya menangis karena berkelahi untuk hal apa saja. Saat beranjak remaja tak jauh beda, aku masih sering menangis setelah adu otot. Di kala usia sudah dewasa, setelah berdebat, aku masih menyisakan tangis juga.

Mungkin, ia memang tak pernah bangga punya adik sepertiku. Dan aku tetap menjadi ‘si tolol’.

Kupandangi cermin, kutatap bayanganku di sana. Mataku merah dan masih berair.

Mungkin ia akan lebih bangga bila si tolol tiada?

Tertanda, adikmu yang tolol.  

Kububuhkan tanda tangan diatas kertas ini, dan berkemas.

Jakarta,
End of October 2010