Monday, November 01, 2010

Si Tolol



“Mikir tu make otak!” Hardiknya.

Aku hanya diam. Tak menanggapi. Tak menatap juga. Dengan langkah lunglai kutinggalkan ruang tengah begitu saja.

Bantal dan guling adalah teman tidur sekaligus pendengar yang baik bagiku. Seperti malam ini, lagi-lagi keduanya ikhlas menampung air mataku. Aku masih tak berkata-kata, hanya linangan air mata yang tak terbendung dari mataku.

Ini bukan kali pertama aku mendengar ucapan serupa keluar dari mulutnya. Intinya, aku sama dengan tolol. Ya, baginya aku adalah orang tolol. Yang tak pernah berpikir panjang, tak pernah berpikir menggunakan otak, selalu ceroboh, dan selalu tolol sampai akhir hayatku.

Memang, aku terkadang ceroboh. Misalnya tak sengaja menyenggol gelas berisi larutan penyegar yang sedang bereaksi setelah diaduk 18 kali, hingga tumpah di atas meja makan saat makan pagi.

Atau tak sengaja menduduki kumpulan laporan penelitiannya hingga sedikit lecek, yang diletakkan di jok belakang mobil.

Atau mengotori lantai teras rumah dengan jejak kaki karena tak sadar mengenakan sepatu yang penuh lumpur di solnya.

Tapi aku bukan orang tolol!

Meski tak selalu ranking satu, aku tak pernah keluar dari sepuluh besar setiap pembagian rapor saat sekolah.

Aku juga punya beberapa prestasi sampai tingkat nasional, dimana tak semua orang bisa meraihnnya.

Disaat kuliah, indeks prestasiku tak pernah dibawah angka tiga. Dan aku lulus tepat waktu 4 tahun dari jurusan yang kebanyakan orang menganggapnya susah dan berat.

Bahkan saat aku sudah bekerja di perusahaan ternama, dengan posisi bagus yang diidamkan banyak orang, ia tetap saja melabeliku dengan stiker tolol.

Aku tak akan pernah berubah dimatanya. Aku tetap si tolol.

Saat kecil aku selalu dibuatnya menangis karena berkelahi untuk hal apa saja. Saat beranjak remaja tak jauh beda, aku masih sering menangis setelah adu otot. Di kala usia sudah dewasa, setelah berdebat, aku masih menyisakan tangis juga.

Mungkin, ia memang tak pernah bangga punya adik sepertiku. Dan aku tetap menjadi ‘si tolol’.

Kupandangi cermin, kutatap bayanganku di sana. Mataku merah dan masih berair.

Mungkin ia akan lebih bangga bila si tolol tiada?

Tertanda, adikmu yang tolol.  

Kububuhkan tanda tangan diatas kertas ini, dan berkemas.

Jakarta,
End of October 2010