Wednesday, May 08, 2013

#Nguping - Tante Jetset

Di pojok sana wanita-wanita cantik itu tertawa lantang, menggerombol. Nampaknya dunia hanya milik mereka. Bila diperhatikan sekilas, sepertinya tak ada pembahasan yang serius di sana. Sedari tadi mereka hanya tertawa, diam menyimak, tertawa, diam lagi, lalu tertawa lagi. 

Tapi ternyata tidak. Semua bergiliran bercerita, namun tak jarang suara mereka tumpang tindih. Ya, layaknya suara pedagang di pasar yang bersahut-sahutan menjadi gemuruh bila kau mendengarnya dari kejauhan. 

Saat giliran wanita yang berambut lurus bercerita. Suaranya lirih, wajahnya memucat. Semua terpaku, prihatin. Kasihan, rasanya rumah tangganya bermasalah. Sepertinya.

"Ya ampun, lingkaran matamu sampai hitam gitu jeung.."

"Iya sayang. Lupakanlah.. kita senang-senang disini." Wanita berambut ikal menimpali.


"Ember.. kamu lebih beruntung daripada dia," ujar wanita berkulit gelap sambil memandang wanita berambut pendek, "haus belaian suami!" 

Tawa kencang menyambut pernyataan terakhir sampai aku tak lagi bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan selanjutnya.

Mungkin suami mereka tidak tahu keberadaan kelompok ini. Apalagi tema obrolan yang diangkat, suami-suami mereka pasti tidak pernah menyangka. 

Oya, mereka sangat cantik lho. Tak terlihat seperti ibu-ibu dengan dua anak. Kulit mereka putih merona. Tapi bila kamu teliti kerutan di bawah dagu dan dekat mata tak bisa bohong. Aku yakin dokter kulit dan perawatan paling mahal di bilangan Pondok Indah adalah langganan mereka.

Pojokan cafe ini terlalu murah untuk wanita jetset seperti mereka. Harusnya mereka ke cafe yang lebih eksklusif di hotel mungkin, bukan di mall seperti sekarang.

Aku memperhatikan wanita yang duduk paling ujung. Cantik. Kurasa anaknya baru seumur keponakanku yang baru belajar berjalan. Rambutnya tidak panjang tergerai, pendek dan sederhana. Dia tampak lebih kalem dibanding yang lain. Bila aku tidak salah, setelah bercerita paling pertama di awal pertemuan, sisanya ia hanya fokus pada secangkir minuman di depannya. Terlebih tadi ia dipojokkan oleh olokan haus belaian. Menyedihkan.

Interior cafe bernuansa minimalis ini sangat dipadati mereka gerombolan wanita yang hobi tertawa. Enam orang itu layaknya manekin di etalase sebuah cafe. Sangat menarik setiap yang melintas untuk sekedar menoleh, bahkan memilih masuk ke dalam cafe.

Sepersekian detik tatapanku bertabrakan dengannya. Ah. Semoga ia tidak berburuk sangka denganku. Aku tidak menilai mereka kumpulan wanita aneh kok.

Seorang lelaki muda menghampiri mereka.

Dan kali ini aku tak salah dengar.

"Halo tante... nama saya Adam. Bolehkah saya bermanja di sini?"

---
Ditulis untuk meramaikan #nguping by @JiaEffendie 
Ditulis saat menunggu seseorang di pojok cafe Senayan City, Jakarta 2013.