Sunday, November 22, 2009

Jari-Jari


Kuteguk segelas susu coklat ini seraya mengganti saluran televisi. Kutekan tombol remote secara cepat dari saluran satu ke saluran lain. Pandanganku tak lepas dari layar kaca dengan tangan yang terus menekan tombol remote, seperti mengabsen satu persatu tombol remote. Belum ada yang menarik, itu kesimpulanku sebelum menekan tombol off pada televisiku. Aku bergegas meraih tas dan handphoneku. Kulirik jam dinding masih menunjukkan pukul 7 pagi. Masih banyak waktu untuk mencapai kantor.

*
Tuut..tut..tuut..tut
Pesan masuk di handphoneku. Ah, Rita, sepagi ini dia akan mengacaukan agendaku kah? Benar saja. Isi pesan ini meminta tolong aku untuk menemui klien di luar kantor siang nanti. Baiklah, aku menyanggupi dengan sedikit omelan dalam pesan singkat yang tengah kuketik. Jari-jari lentikku dengan cepat menekan keypad handphoneku. Fyuh, lebih dari 160 karakter. Yap, pesan terkirim. Taksiku sudah merapat di lobi kantor.

*
30 new message di inbox emailku. Baru ditinggal weekend plus cuti di hari Jumat minggu lalu email pekerjaan sudah menumpuk. Kubaca subjectnya satu persatu, mencoba memprioritaskan email mana yang harus aku dahulukan.

Mmm...ini penawaran yang cukup lama baru di follow up oleh klien. Oke, intinya mereka deal dengan desain awalku. Tinggal negosiasi harga dan kontrak, sebelum aku melayani permintaan desain sesuai apa yang diinginkan. Kubalas email tersebut dengan cepat. Sudah cukup terlatih untuk menanggapi klien seperti ini. Aku tidak butuh draft atau template surat. Semua sudah ada di otakku, tinggal kutuangkan lewat ketikan ini.

Dari email satu ke email lain. Fyuh, ini sudah jam makan siang. Tak terasa pagiku hanya dihabiskan waktu dengan membalas email-email ini. Aku belum sempat membuka file desain Rita yang harus aku persentasikan nanti jam 1.

Perutku terasa lapar, roti dan susu tadi pagi nampaknya hanya cukup memberi energi membaca dan membalas email saja. Kuangkat gagang telpon dan mulai memencet nomer yang sudah kuhafal luar kepala.
"Udin, saya minta tolong ya dibelikan nasi sayur dengan ayam goreng. Seperti biasa minta sambal sedikit dan kerupuk ya. Jangan make lama ya, saya ada meeting jam 1. Makasih"

Menunggu pesanan dari OB datang, aku teringat harus membalas sms dari teman lamaku semalam. Karena mengantuk aku belum menanggapi smsnya. Kubuka inbox di handphoneku, dan membalas smsnya, menyanggupi untuk bertemu sore ini di Mall.
"Bok, gue minta tolong bentar dunk..." tiba-tiba suara teman kerjaku yang lenje terdengar jelas disampingku.
"Aduh neek...!kaget gue!lo kaya setan ajah tau-tau dateng!"
"Gilingan yey..."
"Apaan seh cin?"
"Ini, itungin bentar dunk bok... maksud gue dicek lagi. Gue daritadi ngitung kok ada yang kurang pas hasilnya dari di proposal projectnya.Cuma untuk pekerjaan kusen ajah kok..."
"Aduhh elo tu ye, gue jam 1 mo nemuin klien ngegantiin Rita. Ampun! Desainnya aja gue belom liat cun!!" aku panik dan membuka file yang di attach Rita tadi pagi.
"Bentar ajah kok say...ini nih cuma kusen pintu yang model 1 ma 3 aja..."
Aku belum menjawab si Ndut lelaki lenje disampingku. Aku memandangi file presentasi Rita.
Klik, klik, klik, klik...
Mouse ku terus mengklik opsi next pada file presentasi ini.
"Boookk...!!lo jangan jadi patung gituh dunks..."
Klik,klik,klik,klik,
Tanganku terus mengklik hingga di halaman terakhir. Mmmm..30 halaman yang tidak terlalu rumit. Kupalingkan pandanganku kembali ke si Ndut.
"Oke, mana berkasnya?"
"Thank you manis..." Ndut menyerahkan satu lembar rancangan anggaran biaya beserta kalkulator.
Aku menerimanya dan mulai memainkan angka-angka yang tersebut di kertas ke dalam kalkulator.

Tangan ini sudah hafal letak angka dan simbok pada kalkulator. Ndut masih disampingku memandangi aku yang tengah asyik dalam dunia hitung berhitung.
"Ow..say...ini kenapa harga satuan lo segini? Lo bukan salah itung, tapi salah input data. Di proposal kan segini..." Gue menemukan human error versi 25 dari Ndut.
"Hihihi...iya ya?Pantesan akika nggak dapet hasil yang pas...uh..makasih ya nek...Sukses buat presentasinya ntar..." Ndut memberesi dokumennya dan meninggalkan mejaku.

Pesanan makan siangku datang tepat waktu. Aku menyantapnya dan segera bergegas meninggalkan ruangan untuk ke tempat klien. Laptop ini akan jadi senjataku. Rita, aku akan membantumu untuk kali ini. Masih sedikit menggerutu aku melaju bersama mobil kantor.

*
"Jadi Pak, ini adalah contoh desain awal fasade hunian di cluster bagian Selatan." Aku mempresentasikan pekerjaan Rita di depan klien. Semoga tidak banyak yang dipertanyakan klien, ini bukan desainku, aku tak begitu menguasainya.
"Desain arsitektur tropis kami tonjolkan disini dari bentukan atap." Aku menggerakan pointerku ke arah gambar desain detail di bagian atap.
Klienku hanya mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum. Nampaknya mereka sudah puas dengan gambar awal Rita.
"Bisa saya minta soft copy nya mbak Fira?" tanya si Bos klien
"Ow tentu Pak, sebentar saya kirimkan ke email anda" aku kembali berkutat pada laptopku. Dengan sentuhan keyboard, kutuliskan email lengkap beserta lampiran gambar.
"Sudah terkirim pak."
"Oke, sudah saya terima mbak Fira terimakasih"

*
Selesai sudah pekerjaanku. Kuputuskan untuk tidak kembali ke kantor lagi, melainkan ke Mall tempat aku berjanji bertemu dengan teman lamaku. Aku harus menunggu 1 jam lagi. Kupilih coffeshop dengan meja di pojok.

Kubuka kembali laptopku. Kesempatan untuk memperbaiki beberapa revisi desain klien. Kugerakkan mouseku dengan lincah, aplikasi gambar teknik ini sangat membantu. Di kantor tidak lagih dipenuhi meja gambar yang memakan ruang. Setiap orang hanya butuh satu unit komputer di kubikelnya.

"Fira...!"
Keasikanku mengerjakan gambar dikejutkan oleh teriakan.
"Mila...! Lama nggak ketemu...!" aku menyambutnya dengan cipika cipiki.
"Maaf aku telat..." Aku tak sadar ini sudah satu setengah jam dari jam yang dijanjikan untuk bertemu. Aku seperti terisolasi dari dunia bila sudah berhadapan dengan mouse dan keyboard.

Mila duduk disampingku. Tangannya memangku dagunya dengan siku bertumpu di meja. Dia memandangku sambil tetap tersenyum. Aku juga tak tahu sudah berapa lama memandanginya sedari tadi tanpa berkata-kata.

"Eeng.. jadi Mila, kecelakaan itu..."
"Iya Fira, kecelakaan itu membuat jari-jari tanganku tak lagi berjumlah 10..." dia tersenyum menjelaskan
Perih mendengarnya dan melihatnya langsung. Telapak kanannya tak lagi memiliki 5 jari. Tapi tak tampak kemuraman di wajahnya. Mila sekarang memiliki bisnis rumah membuat kue dan coklat. Kecelakaan yang menimpanya membuat dia semakin kreatif dan sukses seperti sekarang. Terakhir aku bertemu dengannya saat dia berulang tahun setahun yang lalu, sebelum dia pindah kota dan kecelakaan menimpanya.

"Oiya, maukah kamu menuliskan sesuatu buatkku Fir?"
"Ow, dengan senang hati Mil..."
Mila mengeluarkan kartu ucapan kosong dengan ukuran 5 cm x 5 cm. Nampaknya dia akan memberikan kado kepada seseorang. Kubuka kartu tersebut dan bersiap menuliskan apa yang hendak ditulis oleh Mila.
"Jadi apa yang mau kamu tulis disini Mil?"
"Mmm.. Selamat ulang tahun sahabatku tersayang..." Mila belum menuntaskan kalimatnya, aku mulai menulis kata yang terucap dan berkonsentrasi pada kartu dan pena yang kugenggam.

Berapa lama aku tak menulis? Pikiranku melayang. Selama ini aku mengetik, menekan tombol dan mengklik. Mengetik di keypad handphone, keyboard, menekan tombol remote, tombol telpon, tombol kalkulator, mengklik mouse. Aku hampir tak pernah menulis dengan pensil atau pena seperti sekarang! Aku masih bisa menulis? Ya aku masih bisa menulis tangan! Bahkan menuliskan sesuatu untuk Mila yang sudah tak lagi bisa menulis dengan tangannya. Aku beruntung, jauh lebih beruntung dari Mila.

"Uda?" pertanyaan Mila lagi-lagi mengejutkanku
"Mm ntar...,sa-ha-bat-ku. Mmm... ter-sa, -yang" aku masih meneruskan kalimat Mila
"Uda?"
"Yup, terus..?"mataku tak berpaling dari kartu ucapan didepanku.
"Fira Miranda. With love...Mila."
Aku tertegun meletakkan pena dan memandang Mila. Tak ada yang bisa kuucapkan, aku hanya segera memeluknya dan menangis terharu. Aku sangat beruntung bukan hanya masih memiliki jari yang utuh tapi juga memiliki Mila, sahabatku yang tak lagi utuh jarinya.