Friday, January 18, 2013

#BanjirJKT dan Deep Tunnel

Nggak ada yang menyangka bahwa kemarin, 17 Januari 2013, menjadi hari yang paling absurd buat saya, teman-teman saya, gubernur DKI, bahkan RI 1. Setelah dari Rabu (16/1) malam Jakarta dan sekitarnya dihujani tak henti-henti, akhirnya air pun menggenang dan meluap dimana-mana. Alam murka? Mungkin. Atau manusia yang lalai? Jelas itu juga.
/via @waraney / via @achidhana #BanjirJKT



Saya ingat ketika akhir tahun 2012, Jokowi sempat merencanakan konsep 'Deep Tunnel' untuk Jakarta. Ia menyatakan langkah tersebut diambil sebagai salah satu cara untuk mengatasi banjir yang sudah menggenangi Jakarta sejak berpuluh-puluh tahun. Menurut Jokowi, rencana pembangunan deep tunnel tersebut merupakan terobosan baru yang diambilnya, di luar dari blue print pembangunan Jakarta yang sudah ada. *

Tapi peristiwa banjir hebat kemarin yang hingga menjamah landmark Jakarta- bunderan HI dan jalan protokol disekitarnya membuktikan bahwa infrastruktur sehebat apapun tidak mampu mengimbangi bila mobilitas warga tidak diatur. 





Tadi pagi di salah satu tv swasta saya tertarik mendengar penjelasan seorang Sejarahwan. Ia mendeskripsikan bagaimana sejarah kota Jakarta bersama riwayat banjirnya. Ia juga menyatakan bila dikatakan banjir Jakarta merupakan siklus 5 tahunan, infrastruktur yang disiapkan tidak mampu menjadi solusi lebih dari 15 tahun. 

Contohnya adalah Banjir Kanal. Banjir kanal ini merupakan gagasan Prof H van Breen dari Burgelijke Openbare Werken atau disingkat BOW, cikal bakal Departemen PU, yang dirilis tahun 1920. ** Pada saat itu, pemerintahan Belanda fokus kepada Banjir Kanal yang dikenal dengan Banjir Kanal Barat. Hal ini terbukti tidak menjadi solusi selamanya, karena kahirnya dibuat pula Banjir Kanal Timur yang mengacu pada rencana induk yang kemudian dilengkapi "The Study on Urban Drainage and Wastewater Disposal Project in the City of Jakarta" tahun 1991, serta "The Study on Comprehensive River Water Management Plan in Jabotabek" pada Maret 1997. 

Jadi? Bagaimana?
Seorang dosen saya, Arman Yulianta (dosen Arsitektur UII), pernah menulis di notes FBnya tentang jawaban kritik Gubernur DKI Jokowi yang mengkritik arsitek yang tidak mampu menangani penataan kota dan arsitektur Jakarta yang berkarakter. Ia menyatakan bahwa Deep Tunnel bukan solusi. 

Dia menuliskan opini dalam bentuk tulisan QnA dialog imajiner dengan NARUTO. Dinyatakan bahwa Jakarta mau tenggelam ? Tenggelamkan saja ! Dalam tulisannya konsep Jakarta sebagai Kolam Besar. Ya semacam Venesia begitu. 

Saya merenung-renung. Bila kita melihat lagi (1)sifat air yang mengalir ke tempat yang lebih rendah, (2) posisi Jakarta yang di pinggir laut dengan pantai, jadi mengapa tidak kita pikirkan untuk tidak melawan kekuatan alam? Menahan-nahan air mengarahkannya kesana kemari rasanya bukan solusi. Ya itu tadi, sejauh mana infrastruktur terus-terusan berlomba-lomba dengan mobilitas manusia? 

Bagaimana dengan opini Anda? Hehehhe tulisan saya kok serius banget ya? Sekedar merenung-renung. Meski saya bukan orang Jakarta, tapi saya mencintai Jakarta seperti Jogjakarta. :)

Oya lihat juga kumpulan foto #BanjirJKT saya di boards Pinterest saya http://pinterest.com/galoeh11/banjirjkt/




Sumber: