Wednesday, August 29, 2012

(dis) Orientasi Patung MH Thamrin


Masih ingat donk tentang peresmian landmark baru di daerah Medan Merdeka Juni lalu? Yep, kalau teman-teman sedang berada di Jakarta dan berjalan-jalan menuju Monas, tepat di dekat bunderan patung Arjuna, pada sisi Timur berdiri gagah sebuah patung baru tokoh nasional MH Thamrin. Patung MH. Thamrin ini baru diresmikan pada tanggal 18 Juni 2012 oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Sumber: VIVAnews.com
Awalnya saya kagum dengan keberadaan sclupture baru ini. Gimana enggak, kan sudah ada patung Sudriman di jalan Sudirman, nah sekarang giliran patung MH Thamrin lah di jalan Thamrin. Tapi setelah direnung-renung kok agak mengganjal ya? Kenapa? Karena posisinya berada di sisi Timur dari poros nadi utama Jakarta Sudirman- Thamrin. Engg.. bukan tepat di jalan Thamrin sih, di poros jalan Medan Merdeka Selatan. 

Ternyata opini pribadi saya ini benar adanya saat menilik dan mencocokkan dengan ilmu Urban Design/ Arsitektur perkotaan. Sekjen IAI, Satrio S. Herlambang menuliskan opininya tentang kondisi ini. Tulisannya diberi judul Distorsi Patung MH Thamrin.

Ia mengatakan, "Bagaimana  sebaiknya meletakkan patung pada koridor yang telah menjadi landmark dan sekaligus backbone dari ibukota republik ini? Sungguh sayang bila keberadaan patung yang memakan biaya lebih kurang 2 milyar rupiah tersebut kontra produktif." Wah statement yang sangat tegas ya?

Dalam tulisannya Ia berpendapat bahwa poros jalan Medan Merdeka – Thamrin – Sudirman tak pernah sepi dari drama perkotaan. Dari peristiwa G 30 S PKI, Malari, hingga Reformasi yang seakan menjadi saksi bisu sejarah berdirinya republik ini.
Tak hanya itu, menurut sekjen IAI, poros tersebut disemarakkan oleh patung.  Yang ternyata tidak lebih sebagai Urban Signature, penanda masa pemerintahannya. Sebut saja antara lain, patung Arjuna dengan bundaran Bank Indonesia di depan gedung Bank Indonesia, Tugu Selamat Datang dengan bundaran Hotel Indonesia di depan Grand Indonesia, Patung Jenderal Sudirman di depan wisma BNI, Tugu Gelora Pemuda dengan bundaran Senayan di depan Panin Centre.
Satrio mengatakan bila mengacu pada prinsip teori Perancangan Kota, bila terlalu banyak landmark/symbol/icon pada suatu wilayah, symbol-simbol tersebut tidak akan pernah dapat memiliki pemaknaan yang berarti pada suatu kawasan (wilayah). Karena ikon sebelumnya dapat kehilangan arti karena adanya simbolisasi yang baru.
Penulis
Satrio S. Herlambang, MUD, IAI , Follow him  @SatrioSuryoSekjend Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)
Artikel utuh di atas bisa di baca di media online.
Jadi, apa opini kamu? Setujukah, atau.... ?