Thursday, April 03, 2014

Presiden Idaman, bukan yang Pencitraan

Dulu saya nggak peduli dengan #Politik. Tapi sejak 2009 masuk ke dunia kerja media, mau nggak mau, saya jadi punya perhatian dengan Politik. Terlebih saat baru nyemplung di dunia media, pas banget di tahun pesta demokrasi.


Yang saya ingat saat itu adalah, saya 'terhipnotis' dengan bungkusan pencitraan si bapak (Yeah, bapak yang terpilih dan menjabat hingga kini) lewat pendekatannya dengan rakyat melalui situsnya. Di tahun 2009, situs yang mempertemukan para fans berat si bapak itu terlihat HEBAT lho. Kalo tahun sekarang sih, website kayak gitu udah jadi hal biasa. Oiya satu lagi, campaign si bapak saat itu kan 'sedikit mencontek' cara Obama di pemilihan presiden AS.

Semakin kesini saya semakin sadar, terlebih saat saya belajar Komunikasi di bangku kuliah Magister. Bahkan jurusan Politik, khusus lho belajarnya. Meski saya nggak menyelami jurusan Politik, tapi satu-dua teori yang mendasari komunikasi Politik, sempat saya ketahui.

Mungkin susah ya bisa mencapai sebuah #PolitikJujur , karena rakyat dikelabui dengan dramaturgi juga agenda setting. Bagaimana seorang tokoh politik dapat dibungkus rapi dan terciptalah pencitraan yang baik di masyarakat. 

Trus, masih maukah dipimpin oleh Presiden yang lahir dari proses pencitraan?

Bercermin dari kinerja 5 tahun ini, rasa-rasanya hampir semua rakyat sekarang menyatakan kecewa, bahkan kapok memilih si bapak lagi. :)

Menuju Pemilu, nama paling heits untuk Capres siapa dong? Menurut sekian banyak survei  popularitas Jokowi memang sedang melambung. Tapi.. survei versi siapa nih? Benarkah survei itu mewakili suara rakyat?

Sejak Jokowi diumumkan maju ke bursa pencalonan Presiden, tidak sedikit lho yang kecewa. Karena menyayangkan kenapa harus terburu-buru menuju ke kursi nomor satu di Indonesua? Bukankah lebih baik bila apa yang diprogramkan untuk Jakarta dituntaskan dulu?

Mengutip dari salah satu artikel yang saya baca hari ini, ada 41% kaum profesional di Jakarta   yang keberatan dengan keputusan Jokowi maju mencalonkan diri sbg Presiden. Ya 41% itu mewakili suara warga Jakarta yang bersiap ditinggalkan.
Kaum profesional Jakarta yang sebelumnya memiliki harapan akan kinerja Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) ternyata tidak senang mantan wali kota Solo itu mencalonkan diri jadi calon presiden (capres). Sebanyak 41 persen kaum profesional di Ibu Kota menurut survei dari Populi Center menyesalkan Jokowi bakal "meninggalkan" Jakarta. (Beritasatu, 3 April 2014)

Picture: Investor.co.id
Jadi timbul pertanyaan.. ini kemauan seorang pemimpin? Atau kemauan kepentingan golongan yaitu partai??


Keputusan  Jokowi nyapres bisa menjadi bumerang. Ya karena kehilangan simpati dari masyarakat yg awalnya berharap ia dapat memimpin Jakarta dan menyelesaikan masa jabatannya sehingga hasilnya juga dirasakan  warga. Mengutip dari salah satu tulisan di media, masyarakat sudah mulai jenuh dengan pemberitaan Jokowi. Terlebih paska deklarasi, grafik elektabilitasnya justru menurun.

Selain itu, di salah satu artikel di media mengatakan bahwa, sosok Jokowi tidak seimbang dengan 'citra' PDI-P. Dimana rakyat banyak sekali yang mendukung Jokowi, namun simpatik tersebut bertolak belakang kepada partai yang mengusungnya.
"Citra Jokowi jauh lebih positif dari PDI-P sehingga pemilih Jokowi belum otomatis adalah pemilih PDI-P. Wajar kemudian kalau muncul fenomena 'Jokowi Yes, PDI-P No'," kata Hendri, Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina. (Kompas, 3 April 2014)
Jika ingin yakin maju di bursa Capres, idealnya, citra Jokowi dan PDI-P harus disamakan. Gimana caranya? Ya penyetaraan komunikasi politik yang sama untuk semua kader dan caleg mendekati, Jokowi.

Well, ini suara hati saya... saya ingin Jokowi menjadi presiden yang bukan karbitan pencitraan partai.   

Tuntaskan dulu semua program kerja di kursi DKI 1.. saat tiba waktunya saya yakin Jokowi akan menjadi RI 1 idaman bagi rakyat.

Setuju?