Tuesday, April 01, 2014

Jokowi Stay For JKT atau #JKW4P?

Judulnya bukan mendadak dangdut, tapi  #MendadakPolitik.

Masih inget percakapan saya dengan driver taxi beberapa waktu lalu? Ya, percakapan singkat tentang mau milih siapa untuk jadi Presiden.

Si driver bilang kalau sebagai rakyat kecil dia bingung mau milih siapa. Yang menggelitik saya, dia merasa dibohongi dengan Jokowi. Kala itu memang baru beberapa hari setelah Deklarasi Jokowi diajukan sebagai Capres dari PDIP.

Sebegitunya ya, seorang rakyat merasa 'dibohongi' oleh pemimpin. Padahal kenal dekat pun tidak lho. Namun si driver ini nampaknya menaruh harapan penuh terhadap Jokowi saat ia hijrah dari Solo dan memimpin DKI Jakarta. Tapi... harapnnya kandas saat mendengar berita pencalonan Jokowi sebagai Presiden di Pemilu mendatang.

Lain waktu, saya justru melontarkan pertanyaan serupa ke seorang teman saya. "Apa pendapat lo tentang pencalonan Jokowi sebagai Capres?" . Saat itu dia mengatakan, "Gue gak paham sih apa visi misi Jokowi untuk lingkup negara Indonesia. Beda dengan capres lainnya yang gue rasa uda tahu bakal ngebawa Indonesia kemana."


Saya pribadi menaruh simpati dengan sosok Jokowi. Saat Jokowi mulai memimpin DKI Jakarta, saya semakin semangat dan percaya Jokowi bisa membawa perubahan lebih baik. Tapi...Entah apa saya terpengaruh terpaan media yang mengemas pencitraan beliau dengan rapi? Mungkin, bisa jadi demikian.

Belum lagi berita-berita yang merilis hasil-hasil survey tentang Capres dan memasukkan nama Jokowi di dalma daftar...Hasilnya, ya  popularitasnya semakin menanjak. Judul-judul pemberitaannya pun sangat mendrive orang untuk ingin tahu, sebutlah Jokowi-Jusuf Kalla Raih Presentase Tertinggi di Survey Media Sosial , IRC: Jokowi Teratas, Wiranto dan Prabowo Menguntit , Indeks Kepemimpinan Jokowi Paling Tinggi , Jokowi Diibaratkan Seperti Lionel Messi ... Alhasil seluruh Indonesia bahkan dunia pun tahu Jokowi!

Dan... sampailah di titik PDIP mengumumkan Jokowi maju untuk Pemilihan Presiden di Pemilu 2014. Saya patah hati. :(
Nampaknya ada yang salah di sini. Kemarin saya membaca tulisan teman saya tentang logika survei , ia menjabarkan bahwa:
Menjelang pemilu, survei jadi salah satu instrument baru. Karena muncul sebagai instrument, ia dipaksa hadir untuk melengkapi drama politk. Alasannya juga masuk akal, supaya bisa memetakan kecondongan pilihan para pemilih untuk meramaikan pemilu sebagai momen demokrasi. Hal ini juga bisa dijadikan alat baca kontesk untuk menyiapkan atau memperbaiki strategi. Bahkan, survei bisa menggerus kekuatan kompetitor. Ibarat pisau manfaat sesungguhnya survei berada di tangan user. Lho kok?! Memang, metodologi survei adalah metodologi ilmiah, harusnya ini berada dalam koridor ilmiah, bukan by order atau by design.
Dan dijelaskan dalam tulisan itu  contoh-contoh rilis survei yang saya sebutkan di atas, menjdi tidak masuk akal karena Jokowi yang notabene tidak pernah menyampaikan visi misinya  kok lebih unggul dibanding nama capres yang lain?

Setiap berangkat kerja, saya melintasi jalur Lebak bulus- Fatmawati- Sudirman. Jalur dimana MRT sedang dipersiapkan untuk dibangun. Dan setiap lewat saya jadi khawatir apakah proyek ini akan tetap selesai? Atau hanya menjadi tiang-tiang Monorel seperti yang ditinggalkan pemimpin DKI sebelumnya? Bukan cuma masalah MRT sih... itu hanya salah satu wujud konkrit program yang belum selesai dan akan dihandover ke sang wakil gubernur pasti.. Tapi lebih kepada ya apakah Jokowi sudah punya visi yang cukup masif untuk Indonesia?

Lalu, saya menjadi posesif. Hehehe. Ya posesif nggak ingin Jokowi maju untuk RI-I di tahun ini.

Ternyata saya nggak sendiri. Siang ini saya bertanya melalui postingan status di FB... 
Siapa yang di sini lebih rela ‪#‎Jokowi‬ stay untuk DKI Jakarta dulu ketimbang nyapres?
‪#‎Nanya‬

dan mayoritas menginginkan Jokowi menuntaskan tugasnya di DKI dulu sebelum maju menjadi Presiden di tahun ini.

Gimana dengan kamu? :)