Friday, November 30, 2012

Warna, Rasa, dan Rupa Susu Pink

Sore ini, saya tiba-tiba teringat cerita teman saya. Tepatnya bahasan dari caption foto keponakannya yang bermata cerlang itu. Kurang lebih begini ia menulisnya di Facebook:
Namanya Tara. Empat setengah tahun usianya. Mungkin saat ini di matanya saya serupa superhero. Seorang om berjanggut runggut dengan rambut lebih panjang dari miliknya yang hanya pulang kadang-kadang serta selalu bisa dan mau melakukan apa s
aja untuknya. 
 Mulai dari membersihkan ingus di hidungnya; mendirikan tenda di kebun samping rumah untuk kemudian berpura-pura berkemah di tengah belantara; membelikan susu cokelatmengajari mewarnai gambar tanpa peduli warna apa yang akan dipilih dan digunakannya untuk kepala seekor hiu, pun tak akan pernah melarang semisal dia ingin menambahkan gambar matahari ungu yang bersinar redup di bawah tanah... (Setyo )
Lucu ya? Sebagai seorang om dengan tampang sangar, ternyata teman saya ini di mata keponakannya adalah seorang super hero. 



Tentu ini mengingatkan saya juga kepada keponakan saya. Sejak ia berumur 2 hingga 4 tahun , saya tinggal serumah dengannya. Namanya Godiva. Saat ia mulai menginjak umur 4 tahun hobinya hanya Disney channel dan bila berpergian dalam tasnya yang berwarna pink tak pernah ketinggalan sebotol mungil susu.

Sama dengan Tara, Godiva bahkan semua anak kecil seumur mereka pastinya senang dengan susu. Apalagi susu kemasan zaman sekarang sudah beraneka rasa, warna, dan rupa. Saya suka bengong bila sedang belanja ke supermarket bersama dia pasti yang diambil adalah susu dengan rasa Strawberry tentunya berwarna pink, dan dengan kemasan botol yang lucu. 

Sekarang dia sudah kelas 1 SD. Kelucuannya tak pernah luntur, ditambah semakin kritis. Tempo hari yang ia tanyakan pada saya "Kenapa sih aku harus minum susu?". Tantenya yang belum berpengalaman menghadapi anak kecil kecuali keponakannya ini hanya bisa menjawab sesuai dengan artikel-artikel. "Karena susu itu bagus buat kesehatan. Buat gizi kamu taukkk.." . Pertanyaannya tak berhenti, "apa sih gizi?". Lalu saya gigit jari. Hehehe... 

Ada cerita lain lagi masih soal kritisinya. Saat memegang botol susu kemasan tiger milkuat pertanyaannya "Kenapa bentuknya Macan sih botolnya?". Jawaban saya (semoga tidak salah) "Macan itu kan kuat! Makanya kalo minum susu ini ya kamu jadi kuat..." Setelahnya saya memilih  mengalihkan perhatiannya ke rasa susu saja, daripada menjawab pertanyaan kritisnya :)

Setelah saya coba browsing lagi di internet, tentang susu dan si kecil, beberapa faktanya adalah susu merupakan salah satu sumber terbaik kalsium dan nutrisi penting bagi tubuh. Tapi kadang suka terbentur dengan argumen ilmiah yang menyebutkan bahwa susu buruk bagi tubuh. Ternyata, enzim pencerna susu hanya bertahan pada diri manusia sampai usia dua tahun lho.

Nah saya sudah mulai siap-siap nih someday mungkin si ponakan bakal bosen suruh negak susu cair. Ada cara lain ternyata... asupan kalsium bisa disiasati lewat produk olahan susu seperti yogurt, cream soup, pudding susu, dan es krim. Hehehe...

Well semoga pertanyaan kritis ini tidak keburu datang :)