Friday, September 25, 2009

Mudik ala Galuh #3- Sutradara juga punya sutradara

Sugeng Rawuh
begitu kata baliho besar di jalan raya ini

Ini malam pertama aku di Jogja setelah hampir 6 bulan tidak pulang ke kota yang berslogan BERHATI NYAMAN ini. Jalan raya belum sudah mulai ramai dengan mobil-mobil plat selain AB. Aku mengemudikan mobilku menuju pojok benteng wetan, lalu mengarah ke Selatan.

Aku berjanji pada seseorang untuk datang kerumahnya dikala aku libur lebaran. Lama tak berjumpa dengannya, sekitar 2-3 bulan mungkin. Ada yang bilang janji adalah hutang, maka dari itu malam ini aku menyempatkan untuk bertandang dulu ke kediamannya di bilangan jalan parangtritis, sebelum aku menemui teman-teman SMAku di daerah Umbulharjo. Sahabatku Saskia turut bersamaku saat ini.

*
"Assalamu'alaikum...", belum jauh dari pagar halaman rumahnya aku sudah menyapa sambil tersenyum melihatnya.
"Walaikumsalam..."jawabnya
Aku mendekat dan menjabat tangannya, lalu memperkenalkan temanku "Kenalke, koncoku, Saskia"
"Saskia..."
"Acong", jawabnya lalu mempersilahkan kami duduk.
"Piye mas?" pertanyaan standar yang terucap dari mulutku.
"Yo koyo ngene ki lah..." dan sebuah jawaban standar dari mulutnya.

Ruangan ini tak banyak berubah dari terakhir kali aku bertandang kemari. Hanya saja ruangan ini penuh dengan rak kaca yang biasa digunakan etalase toko.
"Arep banting stir dagang po piye?" tanyaku asal sambil memandangi rak-rak kaca yang tersusun rapi di ruangan ini.
"Ora...", jawabnya singkat seraya mendekatkan kursi rodanya ke arah tempat aku duduk
"Tak kiro..." aku tertawa.
"Eh, saskia kok nggak bulan madu?", tanyanya jahil.
Kami tertawa. Iya berita terhangat memang adalah pernikahan Zaskia Mecca dan Hanung Bramantyo.
Obrolan pun berlanjut. Mulai dari pertanyaan kapan aku datang, rencana kapan kembali ke Jakarta, Saskia temanku apa, Miyabi akan main film (dasar lelaki ya?dan sebagai pekerja seni, ini wajar masuk ke topik pembicaraannya), Nugros yang sudah mudik ke jogja juga, apa Nugros sudah datang kerumah sini, pekerjaannya yang tertunda, hingga kesibukan dia mengisi hari-harinya di Jogja, sampai menceritakan kejadian yang membuat dia harus berkawan kursi roda atau tongkat sementara waktu. Meski sebelumnya dia sudah pernah menceritakannya lewat telepon, mendengarnya sekali lagi secara langsung ternyata jauh lebih afdol.(seperti meminta maaf secara langsung ketika hari raya)

Aku tidak berkomentar banyak merespon ceritanya tentang kecelakaan itu. Aku hanya mencoba menunjukan support aku. Dan aku yakin dia bisa melewati masa-masa temporer ini dengan sabar dan tegar tentunya. Tidak tampak aura suram dari wajahnya, yang mungkin kita dapati di orang-orang yang sedang mengalami cobaan hidup yang sama dengannya.

Ini masalah semangat hidup bukan? Meski sedang mengeluhkan ngilu akibat pen yang dipasang di kaki kirinya, dia tertawa lho. Semoga tawanya tulus bukan akting. Seorang sutradara pintar berakting seperti artis yang diarahkannya tidak ya? Aku tertawa kecil dengan pikiranku.

Kali ini tiba di episode tentang hasil periksa rutinnya sejak operasi kaki. Dia menunjukkan hasil rontgen terakhir. Oke, ini foto sudah pernah aku lihat di wall postnya, yang saat ituh komen ku hanya 'Glek!'. Dan sekarang hasil rontgen itu jelas di tangan aku. Aku menerawang lembaran ini mencoba memperhatikan lebih detail.'Ya Allah...ini pasti sakit!!' aku membatin memandangi lembaran ini.




"Ini tulang yang patah..." dia menunjuk, mencoba menjelaskan apa yang sedang kupandangi
Saskia pun terpaku memandangi lembaran-lembaran hasil rontgen ini. Aku yakin Saskia memikirkan hal sama denganku ini-pasti-sakit-sekali.
"Ampunn dah!! Liat di wall ajah waktu itu aku uda tercengang!" aku sedikit meninggi menangapi penjelasannya.
Dia tertawa, "Ya gitu deh.."
"Gila ya, ini tulang ajah masih sedikit transparan, begitu yang ini...." aku menunjuk gambar masif putih didekat tulang, "ini MASIF putih aja gitu warnanya! dan ini pen!huah!"
"Dan ini sakit kalau uda dingin gal..." dia mencoba mendetail rasa.
"Mas, ini pennya apa?kan ada tuh katanya yang emas gitu", Saskia bertanya.
"Hehehehe susuk kali ya emas...",timpalku
Dia tertawa dan menjawab " Ya platina bukan seh?"
Kami manggut-manggut sambil terus memandangi hasil rontgen ini.

Obrolan terus bergulir, mengenai apa saja dari A sampai Z. Bahkan ketika segerombolan anak membunyikan alat pukul sebagai persiapan lomba takbir di daerahnya pun terbahas oleh kami. Dan juga soal proyek yang baru dia selesaikan
"Yah proyek tangkyu deh gal", dia memprotes sedikit proyek yang baru dia selesaikan dengan kondisinya yang belum pulih total.
"Daripada enggak mas?", hiburku
"Iya karena aku uda bosen ...pengen suting!", sanggahnya
Saskia tertawa lalu meneguk teh hangat yang disajikan ibunya tadi.
"Yah itung-itung kowe membantu mempromosikan Jogja, sekaligus obat kangen ma kerjaan" timpalku.

*
Berusaha mengerti kondisinya yang selalu full dengan syuting dan editing dan miting dan hunting(..hehhehe..) di Jakarta dan sekitar,tiba-tiba harus bedrest dari semua aktivitas dan berada di Jogja. Sekarang saatnya untuk istirahat sejenak.

Ini pelajaran hidup buat aku.Sekaliber sutradara yang biasa mengatur orang dengan scriptnya mentok adalah manusia juga.Iya bukan? Skenario hidup memang hanya Tuhan sutradaranya.Manusia memang boleh punya skenario tetapi kembali lagi, Tuhan sutradaranya.

Malam sudah menunjukkan pukul 20.30, teman-teman SMAku sudah mengirimiku pesan singkat untuk segera datang. Aku dan Saskia pun berpamitan. Janji aku sudah lunas untuk menjenguknya saat di Jogja. Dia hanya mengantarku sampai teras dengan senyum yang tak pernah lepas.

Sutradara juga punya sutradara,
get well soon Harwan Aconk Panuju !
Badan boleh sakit, tapi Otak nggak boleh sakit
Ide nggak boleh mati.TITIK.

***
Yang ini soal pelajaran dan pengalaman idup, itung-itung siraman rohani saat lebaran hehehehhe