Thursday, July 01, 2010

#BuktiCinta

http://www.flickr.com/photos/redspotted/272104/


Tergesa kuparkirkan mobilku disamping Strada berwarna merah. Kupandangi antrian ATM dari dalam mobil. Ah antrian itu panjang sekali, kurang lebih ada 6 orang disana. Aku menggerutu. Kumatikan mesin mobil,memasang rem tangan, mengambil dompet dan payung lalu turun dari mobil.

Aku paling benci bila hujan sudah membasahi tanah seperti malam ini. Dan ini adalah malam kesekian Samarinda selalu hujan. Rasanya rumus hujan di bulan berakhiran -er sudah tak berlaku. Ini bulan juli dan hujan masih saja rutin hadir.


Mukaku pasti sudah seperti angka tiga dilipat sekarang. Kalau bukan karena keperluan mendesak si adik bungsu, aku harusnya menemani ayah menonton bola. Ini malah harus berhujan-hujan ke ATM karena rengekan adik yang minta dikirimi uang untuk bayar kuliah dan les di Jogja.

Sambil berjinjit-jinjit melewati beceknya jalan, sampailah aku di antrian ATM. Sambil melipat payungku kupandangi lagi antrian ini. Fuh, sekarang aku orang ke... satu,dua, tiga, empat tepat dibelakang mas-mas dengan rompi parasit yang bertudung kepala dan memegang sekotak susu coklat.

Tetesan air dari payung lipatku membasahi kakiku. Tercium olehku aroma parfum perempuan yang cukup merilekskan pikiran kacauku. Hmmm ini pasti parfum si mbak-mbak yang mengenakan mini itu. Umurnya pasti tak lebih tua dari adikku. Dia tampak risih memandangi kakinya yang basah terkena cipratan kubangan dari air hujan.

Mas-mas di depanku tampak melempar pandangan ke arah mobil di parkiran. Mobilku? bukan nampaknya fokusnya lebih pada mobil Strada merah disamping mobilku. Dia tampak asyik dengan susu coklatnya, nampaknya berusaha mengabaikan perempuan manis di depannya.

Masih ada ya laki-laki yang mengabaikan pemandangan sepasang kaki indah milik perempuan cantik seperti mbak-mbak itu? Sedangkan mataku saja langsung menangkap ini dari kejauhan tadi terlebih saat berada di antrian ini dengan aroma parfum mbak-mbak ini. Mungkin dia memang sudah punya kekasih jadi tak mau berlama-lama memandangi hal indah ini.

"Mbak!" mas-mas tadi menegur untuk memberi tahu bahwa giliran si mbak itu masuk ke bilik ATM.

Si perempuan tergesa masuk. Terlihat gugup, mungkin karena malu juga karena bengong hingga tak sadar bahwa gilirannya sudah tiba.

Si mas ini masih saja mengamati mobil strada sesekali melirik ke dalam bilik tempat si mbak-mbak itu sedang bertransaksi. Tak lama si mbak-mbak tadi keluar dan mempersilahkan si mas-mas di depanku. Laki-laki yang sopan. Aku menyimpulkan seperti itu saat ia tersenyum dan mengangguk ramah pada si mbak-mbak yang juga tersenyum dengan sangat manis.

Tetesan air dari payung lipatku masih jatuh membasahi lantai tempat aku berdiri. Membuat genangan disepanjang antrian ATM ini. Aku memalingkan pandangan ke atas, gerimis masih menghiasi langit.

Pintu bilik terbuka, mas-mas tadi keluar, dan giliran aku yang masuk ke bilik ATM.

Kuletakkan payung lipatku di samping mesin ATM. Mengeluarkan kartu ATM dari dalam dompet dan bersiap memasukkan ke dalam mesin. Sekejap aku tertahan. Layar masih menunjukkan menu pilihan.
Transaksi telah berhasil
Apa anda akan melakukan transaksi lain?

Kembali ke menu utama>>
Selesai>>

Ya ampun! Aku menoleh ke arah parkiran apa mas-mas tadi masih di sekitar sana? Kartu ATM dia masih disini!

Kutekan tombol 'Selesai' dan meraih struk yang keluar. Lalu keluar dari bilik mencari si mas-mas bertudung tadi. Aku abaikan orang-orang yang memperhatikanku karena aku berlari-lari dan menoleh sana-sini mencari sosok mas-mas yang tadi.

Ah itu dia!
Masih berdiri menghadap mobil strada dan memegang BBnya.

"Mas!"
Dia menoleh ke arahku dengan ekspresi bingung.

Aku mendekat sedikit terengah-engah. "Untung masih disini...."

Dia menatapku bingung.

Tanpa berkata-kata, kuserahkan kartu ATM beserta kertas putih struk transaksi padanya.

Dia tersenyum sambil mengucap terimakasih.

"Makanya mas, jangan bengong gara-gara kaki si mbak-mbak tadi ya?"

Dia menggeleng sambil menyedot susu coklat di genggamannya lalu menyerahkan kertas putih tanda transaksi padaku.

Meski aku bingung, kuterima dan kubaca struk itu.
Transaksi berhasil. Anda telah melewati ujian tahap 1. Simpan Bukti Cinta anda ini dan tunjukkan pada kekasih anda kelak.
***
Hihihi seandainya semua mesin ATM bisa ngeluarin struk bukti cinta kaya gitu...:)
Mas Endik.. kulonuwun...hihihi

Side story dari Endik Koeswoyo  5 menit di ATM BNI Samarinda #BuktiCinta