Wednesday, July 07, 2010

Kreatif Yang Tidak Sportif

Pernah ada sebuah anekdot berkisah seperti ini:
A: Otak paling mahal di dunia itu adalah otaknya orang Indonesia.
B: Ha? Kok bisa? Kenapa?
A: Karena otak orang Indonesia ituh masih ORI. Nggak pernah dipake.
Kalau saya pribadi tidak setuju dengan cerita itu. Dinyatakan bahwa otak orang Indonesia masih orisinil , tidak pernah digunakan. Memang banyak sekali peristiwa-peristiwa dalam keseharian yang menunjukkan bahwa orang-orang Indonesia (termasuk saya) masih nggak menggunakan akal sehat untuk hal-hal tertentu. Misalnya buang sampah sembarangan padahal kalau sudah banjir mengeluh. Atau menerobos lampu merah, padahal kalau kecelakaan mengeluh.

Kenyataannya disisi lain, orang Indonesia itu sangat cerdas dan kreatif. Banyak kita jumpai bentuk kreatifitas yang berawal dari ide sederhana yang dihasilkan oleh otak. Misalnya Mendaur ulang plastik menjadi tas jinjing yang lucu. Membuat dompet dari bekas botol minuman kemasa. Atau membuat mobil-mobilan mainan anak-anak dari kaleng bekas.

Sumber: weheartindonesia.tumblr.com
Itu bentuk kreatif yang positif. Coba kita tilik, ada juga hal-hal kreatif yang negatif . Mengapa negatif ? Karena ada hal-hal yang merugikan pihak lain. Contohnya saya baru saja membaca sebuah artikel tentang merusak botol mineral. Aneh juga bunyinya kita dihimbau untuk merusak kemasan botol.

Setelah saya baca seksama, saya mengiyakan juga, setuju sekali dengan artikel tersebut. Ini lah salah satu bentuk kreatif yang negatif. Kemasan-kemasan plastik seperti botol mineral, botol sampo, sabun, dan sebagainya ternayta membuka peluang tindak kejahatan yakni pemalsuan produk.

Dari artikel yang saya baca diatas, contohnya yang paling mudah adalah air mineral. Tentu saja, pikir saya, hanya modal kemasan air mineral bekas, dan air putih, lalu laminating segel botol, seseorang dengan curangnya bisa menjual di pasar atas nama label produk yang sama.

Mengenaskan ya?  Ternyata, otak kreatif yang terdorong dari desakan kebutuhan ekonomi tidak selalu positif. Untuk kasus diatas, jelas merugikan produsen produk dan konsumen. Produsen rugi secara perhitungan penjualan dan keuntungan, dan konsumen semakin haus dengan nilai kejujuran pasar.

Mari teman-teman waspada untuk memilih produk di pasaran. Kampanyekan untuk berpihak pada kebenaran dan kelegalan produk. Untuk meminimalisir pemalsuan terkait kemasan produk, himbauannya adalah mari kita rusak kemasan agar tidak disalahgunakan setelah pemakaian.  Dan yang terpenting, mari kita gunakan otak kita untuk kreatif yang sportif, menghasilkan sesuatu yang berguna dan tidak merugikan pihak lain.

:)
GaL
Lantai 31
12:24 wib
7/07/10