Friday, January 20, 2012

I Love 69

Hup! Badanku kini sudah berada diatas angkutan umum yang terjebak macet di daerah Bulungan. Ehem! Semoga suaraku kali ini sudah sedikit enak didengar mengingat flu yang tengah menderaku dua hari ini.

"Ya... selamat pagi Bapak-bapak Ibu-ibu para penumpang terhormat, bertemu lagi dengan saya pengamen jalanan nan rupawan...Mohon maaf mengganggu kenyamanan Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian perkenankan saya mempersembahkan satu tembang pilihan menemani anda melewati kemacetan..." Kalimat yang sudah diluar kepalaku, sehari bisa mencapai puluhan kali kuucapkan sebagai salam pembuka. Dan aku seperti layaknya kaset yang diputar berulang kali mengeluarkan bunyi yang sama.

http://winningelevenblog.com


Jreeengg....Aku mulai memainkan gitar kopongku. Kali ini tembang kesukaanku Kerispatih "Tak Lekang Oleh Waktu" .Meski penampilanku terkesan gahar, tapi aku selalu membawakan lagu-lagu mello. Ya, ini cerminan perasaanku. Tidak munafik, meski laki-laki aku sering patah hati. Dan tidak disitu saja, patah hati dan nyaris bunuh diri. Pelarianku hanya melalui senandung-senandungku yang hanya dihargai kepingan uang receh, paling tinggi selembar uang bergambar pahlawan Tuanku Imam Bonjol.

Suaraku harus mengalahkan suara kenek yang sibuk menawarkan metro mininya, " Dug, dug, dug Ciledug, duduk duduk..." Kurang lebih seperti itu bunyinya. Metro mini jurusan Blok M- Ciledug ini memang selalu dipenuhi penumpang terutama pada jam-jam berangkat dan pulang kerja.

Dirimu di hatiku
Tak lekang oleh waktu
Meski kau bukan milikku
Intan permata yang tak pudar
Tetap bersinar
Mengusik kesepian jiwaku
Tak Lekang oleh waktu....



Kuakhiri lagu ini dengan senyuman dan mulai membuka kantong bekas bungkus permen yang kujadikan tempat untuk menagih imbalan ke penumpang. Dan tak lupa kumemberikan pidato penutup disetiap akhir penampilan sebelum menjalankan kantongan ini menuju pintu belakang dan turun.

"Baik Terimakasih Bapak-bapak Ibu-ibu sekalian atas waktunya. Harap hati-hati terhadap bawaan anda, jangan sampai jatuh ke tangan orang yang tidak anda inginkan. Selamat jalan dan berjumpa lagi dengan saya lain waktu dalam kesempatan yang lebih baik tentunya. Salam pengamen jalanan..."

Aku berjalan mulai menyodorkan kantongan tadi dengan tangan kananku. Gitarku terselempang dengan aman di pundak dan tangan kiri ini memegang erat besi yang menggelantung diatas langit-langit bis. AKu berjuang mepertahankan keseimbangan tubuh kala metro mini ini melaju kencang disaat ada kesempatan bergeser dari titik macet sebelumnya. 

"Terimakasih..." Aku berucap seraya menundukkan kepala kepada ibu-ibu di depanku yang memasukkan uang receh.
"Iya....pak.. makasih..."
"Terimakasih neng..."
"Makasih pak..." Aku tetap mengucap terimakasih saat Bapak setengah tua ini hanya mengangkat tangannya tanda tidak kepadaku.
"Makasih..."
"Alhamdulilah, terimakasih dek..." Seorang anak kecil baru saja mencemplungkan uang lembaran duaribuan baru yang dikeluarkan dari dompet ibunya.
"Makasih..."
"Terimakasih banyak..."
"Iya ibu, makasih..."
"......" Aku terdiam ketika sebuah tangan mulus putih memasukkan selembar uang berwarna merah dengan nominal sepuluh ribu rupiah. Kutatap wajahnya, ia tersenyum. Aku salah tingkah dan mematung sesaat. 
"Suaranya bagus mas..." Dia hanya mengucapkan itu dan kembali mengalihkan pandangannya pada buku seraya memasang kembali earphone iphonenya.
Aku tersenyum kikuk dan bergegas menuruni metro mini ini karena sopir segera menancap gas saat lampu berubah menjadi hijau.

Kuberjalan ke pinggiran trotoar. Memilih duduk diatasnya. Mengeluarkan kantongan tadi dan menghitung uang yang ada di dalamnya. Masih terbayang senyum manis gadis itu. Gadis dengan paras ayu, rambut tidak terlalu panjang, enggg..apalagi yang kuingat darinya? Senyumnya? Ya hanya senyumnya yang terekam jelas.

Aku memisahkan uang recehan dan kertas. Kusisihkan segenggam uang receh yang kudapat. Aku terlebih dahulu akan menghitung uang kertas. Aku memulai menghitung satu persatu lembaran uang ini, sambil membenarkan lipatan-lipatannya menjadi lembaran yang utuh tak terlipat atau tergulung. 
"Satu,dua, tiga, empat...lima, enam...tujuh ...delaapp..." aku tak meneruskan hitunganku saat melihat uang sepuluhribu rupiah pemberian si gadis manis tadi.
Tulisan apa ini? Ada tulisan tangan diatas uang itu.
"I will love 69, semoga jumpa lagi di 69 yang lain"
Aku berteriak melonjak!
"I Love 69 too!" 

***
Inspired by Metro Mini 69 jurusan Blok M- Ciledug
Monday, October 26, 2009 at 5:34pm

Side Story from I Love 69 , Someday Lady You Will See, That We Are Meant To Be "> by Faizal Reza- 8 Feb 2010

Thx U Ikal.. :D