Saturday, May 08, 2010

101 Kisah Lavatory- Cerita Pagi

Si Bos tampak merapikan bajunya dan menyisir rambutnya dengan jari-jari lentiknya. Meski sudah memiliki anak, si bos punya selera berpakaian. Memadu-madakan warna dan asesoris. Penampilannya sangat menarik. Sayang, badannya sudah tak seindah saat ia belum melahirkan.

Aku menunggu apa yang akan dia tanyakan lagi

“Cantik mana saya dengan dia?”

Aku diam. Memperhatikan lagi si bos di depanku. Tak tahu harus menjawab apa. Mengapa dia seolah-olah bisa membaca pikiranku?

“Ah sudahlah Mila, lupakan pertanyaan bodohku barusan. Pulang sana. Semoga besok ada cerita dari dia saat berdandan di toilet.”

Bos pun berlalu.

Aku menarik nafas lega. Tapi hati tetap tidak tenang.

Akupun berjalan masuk kedalam lift servis untuk pulang.

***



Pagi ini aku tidak terlambat datang. Aku ingat pesan pengawasku bahwa hari ini aku harus lebih pagi tiba, karena bos-bos besar akan rapat lebih pagi. Itu artinya aku harus menyiapkan lavatory lebih awal dari biasanya. Pengawasku akan berbaik hati nanti, dia pasti mengijinkan aku pulang lebih awal.

Aku berjalan menuju lavatory. Ditangan kananku ada ember yang berisi perlengkapanku . Semua ada disini pembersih kloset, pembersih wastafel, lap, cairan pewangi kloset, cairan pewangi ruangan, cairan pencuci tangan, tissue, sikat, dan sarung tangan plastik.

Kudorong pintu lavatory dengan punggungku. Kuhirup udara di dalam lavatory. Mmm masih wangi. Nampaknya cairan pengharum ruangan masih belum waktunya diganti.

Kuletakkan ember tepat di tempat sampah alumunium di pojok ruangan dekat pintu masuk. Kugunakan sarung tangan plastik untuk memulai pekerjaanku.

Kumulai dari memeriksa satu persatu bilik untuk memastikan persediaan tisue. Selalu saja bilik paling pojok adalah bilik yang selalu lebih dulu kehabisan stok tisu. Mungkin orang lebih merasa nyaman ketika berada pada bilik pojok, lebih merasa privasinya terjaga. Segulung tisu masing-masing kupasangkan pada tempatnya untuk dua bilik yang berada di pojok.

Tanaman air di dekat wastafel sedikit menguning, mungkin dia butuh cahaya. Kutukar air didalam vasnya dengan air baru dari kerangan. Kuletakkan kembali pada tempatnya dengan posisi dimana daun-daunnya yang cantik terlihat proporsional.

Selanjutnya pekerjaan menyikat kloset dan wastafel. Ini pekerjaan yang gampang karena tak perlu ijazah s1 dan semua orang pasti melakukannya rutin dirumahnya masing-masing. Aku berdendang menghilangkan rasa bosanku. Aku memang baru bekerja disini tapi, pekerjaan macam ini sudah kulakukan cukup lama juga. Aku punya cita-cita bisa menjadi pengawas seperti mbak Susi. Pengawasku bernama Susi itu baik hati dan disukai oleh seluruh staffnya. Tidak seperti bos cerewet itu, malah bermasalah dengan anak buahnya, terlibat affair lelaki pula.

Tiba-tiba pikiranku melayang pada kejadian kemarin. Tak enak berada dibawah tekanan si bos. Aku masih merasa bersalah memberi keterangan pada bos itu soal percakapan Mbak Maskara itu dengan lelaki yang juga adalah selingkuhan si bos.

Tak terasa pekerjaanku selesai juga. Kuseka keringat yang mulai menetes di keingku dengan lengan bajuku. Sebentar lagi keringat ini juga hilang, karena AC kantor muali dinyalakan dan kedinginan akan segera menyerang.

Semua peralatanku kumasukkan kedalam ember seperti posisi semula. Sebelum meninggalkan lavatory aku memeriksa alat pengering tangan dismaping wastafel. Kutempelkan tanganku dibawahnya dan alat itu menderu. Berarti alat ini masih berfungsi baik. Kuraih emberku dan bermaksud meninggalkan lavatory.

Disaat yang bersamaan aku memegang handle pintu, pintu terdorong dari arah luar. Mbak maskara sudah berada di depanku dengan wajah murung.

"Eh pagi mbak." AKu terkejut.

"Pagi."

Dia melangkahkan kakinya mendekati wastafel. Melihatnya yang tak seceria kemarin aku mengurungkan niatku untuk keluar dari lavatory.

"Pagi amat mbak?"

"Hmmm iya, bos kan mau meeting, aku suruh nyiapin berkas-berkasnya. Lagipula dia juga akan ada di miting yang sama nanti. Sejak resign dari sini dia kan masih di perusahaan tetangga, masih stau grup juga dengan perusahaan ini. Sebel!"

Si mbak maskara mencuci tangannya sambil bercermin. Itu kebiasaannya bila berada di depan kaca.

"Baru aja dia terlihat tertarik ma gue dan mengabaikan si bos cerewet itu, pagi ini harus bertatap muka bertiga. Huh. Nggak sudi rasanya harus satu ruangan rapat dengan si bos cerewet. Yang gue pengen cuma berdua ma dia kaya dua malam ini...."

Aku menyimak penuturan mbak maskara sambil memainkan lap keringku. Dia membuka dompet andalannya yang berisi alat-alat make up. Wajahnya memang masih polos, dan nampak tak fit seperti kurang tidur.

"Semalam, gue jadi dinner ama dia. Dan dia beliin gue baju ini." mbak maskara menarik ujung dressnya untuk memamerkan kepadaku.

Aku tersenyum , dress ini memang bagus. Simpel dan seksi. Dua kata itu saja.

"Tapi dia bilang gue seksi make baju ini, seneng deh . Padahal awalnya gue sempat sedikit kesal sih karena pagi ini harus cepat-cepat bangun buat nyiapin miting dan bakal melihat dia ketemu dengan bos cerewet. Padahal gue ma dia baru tidur jam 4 pagi." ia selesai menyapu bedak pada wajahnya.

Wew. Aku berpikir ringkas, dua orang baru tidur jam 4 pagi? Menyenangkan sekaligus membahayakan.

"Eh bos itu uda datang belom seh?"

"Emm belom mbak."

Si mbak maskara kembali berkaca dan meneruskan make up pada bagian mata. Aku suka memperhatikannya, sama saat ia bertukar info soal maskara dengan si boss tempo hari.

"Istrinya lagi pergi keluar negeri 3 minggu. Dan ini uda masuk hari kelima dia sendiri. Gue seneng banget dua malam ini gue ma dia, dan malam-malam besok pasti akan sama indahnya kaya dua malam ini."

Aku manggut-manggut. Mbak maskara mulai menyapu blush on ke wajahnya sambil terus bercerita.

"Gue dibawa ke apartemennya yang dia punya buat investasi pribadi. Istrinya aja gak tau. Malam ini gue kudu puas-puasin ama dia lagi!"

Aku masih menyimak mbak ini bercerita sambil meperhatikan langkah-langkah ia berdandan.

"Semoga nggak ada kekacauan dari boss cerewet itu!"

Deg! Kenapa tiba-tiba ia membahas si bos? Apa mbak maskara tahu kalau aku sempat memberi info bahwa dia kemarin akan dijemput oleh selingkuhan si bos? Aku diam.

"Gue nggak mau dia merusak hari-hariku. Bolehlah my handsome ex boss sempat ngedate ama si bos cerwet, tapi tetep gue yang berhak bercinta ama my Man!"

Aku agak tidak paham dengan kalimat-kalimat inggris yang diucapkan mbak maskara. Mmmm sepertinya intinya ia tetap tidak mau kalah dari bos cerewet didepan ex bos mereka.

"Oya, ada masalah nggak dengan robekan kertas laporan keuangan kemarin? Apa si bos nanyain?" mbak maskara berganti topik sambil memoles lipstik pada bibirnya.

Aku menggeleng.

Ia menoleh padaku dan bertanya lagi, "Nanyain nggak?"

"Enggak mbak"

"Baguslah, gak penting juga ya. Yang penting jangan sampai dia ngerebut my handsome ex boss!"

Mbak maskara menyelesaikan dandanannya, dan merapikan semua peralatan makeupnya kembali kedalam dompet make up.

"Kamu sudah sarapan?" tanya si mbak sambil memasang arloji pada tangannya

Aku menggeleng lagi.

"Nih, tolong beliin aku sarapan ya, sisanya buat kamu. Makasih udah dengerin gue cerita." Mbak maskara menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.

"Banyak amat mbak sisanya kalau cuma beli Nasi uduk..."

"Ambil aja.."

Aku menerima uangnya dan mengantonginya. Perasaanku semakin tak enak. Mbak maskara baik dan percaya padaku, sementara aku sudah membocorkan info ke bos cerewet.

Pintu lavatory terbuka.

Aku dan mbak maskara menoleh bersamaan.

Bos cerewet berjalan masuk tanpa ekspresi dan seperti biasa menuju bilik paling pojok kanan. Dia tampak lebih muda dengan dress bercorak bunga. Aroma parfumnya cukup menyengat hidungku.

Mbak maskara menepuk bahuku tanpa bersuara ia menempelkan jari telunjuknya di bibir dan memberi isyarat agar aku segera pergi membeli sarapan. Lalu ia berlalu.

Aku memberesi emberku, tepat saat pintu bilik terbuka.

"Mi!"

Boss itu memanggilku. Aku terlambat menghindar.

"Iii ii ya bu." Aku menoleh padanya.

Aku sangat takut akan ditanya-tanya seperti kemarin sore. Karena ia memergokiku berdua saja dengan mbak maskara di lavatory ini barusan.

"Sudah lama perempuan itu disini tadi?" tanyanya sambil membasuh tangannya di wastafel.

"Sudah bu." Aku mengangguk.

Aku semakin gugup. Takut akan pertanyaan berikutnya. Pasti dia akan bertanya cerita apa dia padamu?

Bos cerewet mendekatiku.

Aku mencoba melangkah dan meraih handle pintu lavatory. Serta merta pundakku ditahan olehnya.

"Bentar mi."

Jantung ini rasanya semakin berdegup kencang. Apa wajahku tampak gugup ya? Aku takut diberodong pertanyaan seperti kemarin.

"Iya bu." Aku pasrah berbalik badan menghadap ke arahnya.

"Nasi uduk satu pake telor aja ya." ucapnya sambil menyerahkan uang padaku.

***

GaL
lantai 31
8 Mei 2010 | 7:47 pm