Sunday, May 23, 2010

Menunggumu Laki-laki

"Sudah lama?"

"Hei, baru saja kok." aku menjawab sambil tergesa menyingkirkan dua gelas diatas meja.

"Robi." ia mengulurkan tangannya.

"Vera." aku menjabatnya.

Dia menggeret kursi dan duduk dihadapanku. Tangannya dengan sigap meraih buku menu, melihat-lihat daftar menu lalu  memanggil pelayan.

Aku merapikan rambutku dengan jemari tangan, semoga rambut ini masih terlihat cantik. Semoga lipstik ini masih bagus terlihat meski aku sudah menegak gelas ketiga selama menunggu.

Ia memesan makanan kesukaannya. Dan mengalilhkan pandangannya padaku saat pelayan telah meninggalkan meja.

"Kamu cantik."

Aku tersenyum meraih gelas ketigaku.

"Jauh lebih cantik dari di foto." lanjutnya.

Aku tersipu dan menggenggam gelas dengan tanganku. Sengaja kupamerkan padanya, tangan yang menyajikan jemari  lentik berwarna senada dengan lipstikku .

"Hey kukumu apalagi... cantik banget. Iri deh."

"Ah, bisa aja." aku tak tahu harus menanggapi apa, mungkin wajahku sudah memerah saat ini. Merona senada dengan warna cat kuku dan lipstikku.

Dia tertawa kecil dan mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam saku celana. Sepertinya ada pesan masuk dan mimiknya sangat serius saat membaca dan mengetik balasan pesan singkat tersebut.

Kesempatan aku membenarkan posisi bajuku saat dia tak memperhatikanku.
Kubenarkan sedikit posisi tali bajuku. Dress casual corak etnik dengan tali berwarna kelabu ini kuharap bisa menarik perhatian dia.

Dia telah selesai dengan telepon genggamnya dan meletakkannya tepat disamping asbak. Asbak yang sudah penuh dengan abu selama aku menunggunya lebih dari 1 jam.

"Habis berapa batang?" tanyanya

Uh, mengapa harus meletakkan teleponnya disamping asbak itu sih? Aku kesal harus menjawab pertanyaan menjurusnya tentang bukti-bukti bahwa aku tak sebentar menunggunya disini.

"Baru beberapa kok." aku menjawab sekenanya dan menyingkirkan kotak rokokku agar tak mengundang pertanyaan lagi darinya.

Kami berdiam sesaat, dia nampak memperhatikan orang yang berlalu-lalang di luar restoran ini. Diluar cuaca sedang tidak cerah. Jalan tampak basah. Aku menunggunya sejak matahari maish terlihat hingga hilang digantikan awan tebal yang membawa hujan.

Lagi-lagi ia meraih telepon genggamnya, dan kembali berada di dunianya sendiri mengabaikan aku.

Aku memainkan jari-jariku tepat didepan daguku. Yang kulakukan hanya berusaha menarik perhatiannya. Dan berharap ia membahas baju yang kukenakan. Please... dress sedikit terbuka ini cukup menggoda bukan?

"Eh..."

"Ya?"

"Baju kamu lucu..."

Akhirnya ia memuji juga. "Oya? "

"Iyap!" Ia mengangguk mantap. Matanya memandangi area bahu dan dadaku. "Warnanya pas banget ama kulitmu."

Aku tertawa kecil.

"Kamu kelihatan seksi dengan bahu yang terbuka gitu lho..."

Aku tersenyum, malu. Yes... itu yang kuharapkan. Tak sia-sia menunggumu lama, tapi aku mendapatkan pujian dan berhasil menarik perhatiannya.

Lagi-lagi ia kembali berkutat dengan telepon genggamnya. Sementara aku mencoba menyisir rambutku lagi dengan jari-jariku.

"Sudah habis dua gelas?" tanyanya sambil meletakkan kembali telepon genggamnya di meja.

Sial! Dia memperhatikan juga dua gelas diatas meja ini dan satu gelas yang kugenggam sedari tadi. Aku mengangguk.

"Sudah lama ya menungguku?"

"Ah enggak kok." jawabku berbohong. "Ennggg... itu tadi ada teman mampir." semoga muka ini tak terlihat berbohong. Ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

Dasar perempuan, mengorbankan  perasaan demi menjaga perasaan  lawan jenisnya. Mana ada menunggu sebentar menghabiskan es teh di gelas ketiga? Kecuali aku baru maraton keliling kota!

Ini pertemuan yang sudah lama kuidamkan. Bertemu dengannya yang sudah lama kukenal lewat dunia maya. Dan dia sangat tampan sama seperti fotonya. Putih, tinggi, sangat harum, rapi sekali. Semoga aku memberikan kesan pertama yang elegan padanya.

Baju, sepatu, tas, rambut, make-up hingga cat kuku semua kupersiapkan jauh-jauh hari. Aku rasa aku sudah sangat sempurna sebagai wanita idaman saat ditemuinya di dunia nyata. Dan berharap ini awal yang baik untuk mengenal lebih dekat satu sama lain.

"Pinjam koreknya dong..."

"Owh, boleh..." kukeluarkan korek api dari dalam tasku.

Ia meraihnya dariku, sekilas tangannya menyentuh jemariku. Tangannya begitu halus. Aku gugup.

Rokoknya sudah menyala dan ia mulai menghembuskan asap keatas. Diletakkannya kotak rokok mentholnya tepat disamping telepon genggamnya yang bergetar lagi.

Aku memainkan ujung rambutku yang terurai seraya memperhatikannya membalas pesan melalui telepon genggamnya. Laki-laki yang sangat tampan ini idaman semua wanita kurasa.

"Ah akhirnya.. datang juga!" serunya.

Bagus, tampaknya pelayan sudah datang dari belakangku membawakan pesanannya. Kupastikan sambil menyantap pesanannya obrolan kami bisa lebih mencair.

Ia berdiri mengangkat bokongnya dari tempat duduk.

Mengapa menyambut pesanan yang dibawakan pelayan harus dengan berdiri? Aku merasa janggal dan menoleh.

Ia pun mengambil alih pembicaraan, "Vera, kenalkan ini Adam. Adam, ini Vera teman chat yang aku ceritakan itu lho sayang."

***
Draft dibuat waktu nungguin #hermesian kumpul di Plangi tadi siang
23 Mei 2010

Menunggu itu sudah membosankan berbuntut tidak menyenangkan pulak ya terkadang! :)