Monday, May 24, 2010

Korelasi Kopi


Korelasi Kopi
Share


Aku berkaca, bersiap-siap untuk segera meninggalkan rumah petak ini.

"Woi! Uda rapi aja lo?"

"Berisik amat ya? Keburu malem! Gue mo nemuin cem-ceman gue di taman!"

"Ngimpi kali! Kagak pantes lo mah punya gacoan kaya Mbak-mbak itu."

"Sirik lo ah." Kuletakkan sisir yang kupegang dan bergegas. Aku tak lagi menghiraukan ocehan teman kontrakanku yang masih mengejekku.

Kami tinggal di kontrakan rumah petak di kawasan Cikini. Aku tinggal bersama 3 orang temanku yang lain. Kami berasal dari daerah yang sama, Kuningan Jawa Barat. Mencoba mengadu keberuntungan di Jakarta.

:::
Aku sudah tiba di taman yang tadi kubicarakan dengan teman kontrakkanku. Sebuah taman di bilangan Menteng.Aku menyusuri jalan-jalan setapak di dalam taman ini sambil sesekali menyeka keringat yang mengalir di pelipisku. Taman ini cukup luas, butuh ketelitian untuk mencari sosok si Mbak itu.

Mmm dimana ya dia? Kurasa aku belum telat. Ini waktunya orang mulai pulang dari kantor. Tepat saat matahari meninggalkan langit diganti oleh kehadiran bintang dan bulan. Peluhku sudah mengering terkena hembusan angin malam yang mulai mendominasi.

Sambil terus memasang mata dengan jeli, aku memutari taman ini. Kali ini aku melintasi tempat dimana dulu sempat diletakkan patung Obama. Ah, itu dia, sosok perempuan manis berkacamata tengah duduk bersantai dengan laptopnya di bangku taman.

Kring... kring...kring
Kubunyikan bel sepeda yang sedari tadi kukayuh untuk menyapanya.

Dia melirik kearahku yang sudah berada tepat dihadapannya. Lalu tersenyum. Sangat manis.

"Sudah lama mbak?" tegurku.

"Eh elo. Lumayan juga."

Aku menyenderkan sepedaku pada tiang lampu taman. Sedikit grogi, ini kali kedua aku menyapanya dari sekian puluh kali melihat dan mengaguminya dari kejauhan. Aku memang berpenampilan biasa, mengenakan kaos dan celana jeans, sendal jepit dan rambut yang kubentuk ala vokalis Kangen Band.

"Rambut lo semakin lucu ajah!" komentarnya.

Aku tertunduk, baru kali ini ada orang memperhatikan aku dan berkomentar lucu pada rambutku. Biasanya abang-abang satpol PP itu suka mengataiku Andika jadi-jadian karena gaya rambut yang memang mirip dengan pentolan Kangen Band itu.

Aku hanya tersenyum dan tetap berdiri disamping sepeda usangku. Sepeda yang selama ini menemaniku kemanapun aku pergi. Menemaniku mencari rejeki.

"Senyam-senyum aja lo."

"Hehe.. abis bingung mbak."

"Minta api dong.."

Dengan sigap kuambil korek api yang memang aku siapkan di keranjang depan sepedaku bersama dengan kotak-kotak rokok.

Seaat si mbak yang tadinya manis ini berubah sedikit maskulin dengan cara dia merokok. Aku sedikit terkejut, karena baru kali ini aku melihat dia merokok. Ah, itu tak penting. Yang penting aku bersamanya, menikmati keindahan wajahnya dari dekat.

"Lagi ngapain sih mbak?" tanyaku

Si mbak ini bisa melakukan beberapa hal sekaligus. Sambil merokok, ia tak melepaskan pandangannya dari layar laptopnya.

"Lagi browsing."

"Ha?Bro apa mbak?" tanyaku lagi.

"Browsing... ini lho main internet."

"Oo..." aku mengangguk.

Aku bukan orang berada yang familiar dengan laptop, apalagi menghabiskan waktu dengan internet. Aku hanya sering melihat orang-orang yang hidup di kota metropolitan ini melakukan kebiasaan tersebut. Menenteng laptop dimanapun kapanpun. Dan hanya mendengar obrolan-obrolan para pekerja soal laptop dan internet.

"Kopi dong..." pinta si mbak ini.

Aku mengangguk. Kusiapkan gelas plastik dari sepedaku, kubuka satu sachet kopi hitam dan kutuang kedalamnya. Lalu kuseduh dengan air panas dari termos yang berada di boncengan sepedaku dan kuaduk. Tak lama segelas kopi hitam untuknya sudah siap tersaji.

"Makasih." katanya.

Aku mengangguk lagi dan kembali mendekati sepedaku.

Si mbak tampak resah melihat jam tangannya berkali-kali disela kegiatannya menatap layar laptop yang dipangkunya.

"Kok gelisah mbak?"

"Iya, lagi ada yang ditunggu."

"Oo..."

Dan dia kembali berkutat dengan laptopnya.

"Oya nih, ntar keburu lupa." ia menyerahkan uang untuk membayar.

Aku mendekatinya untuk mengambil dan memberanikan diri duduk disampingnya. Dia menggeser bokokngnya untuk memberiku ruang untuk duduk.

Aku memperhatikan layar laptopnya smabil memasukkan uang ke dalam saku. Apa sih yang ia baca? Terbaca olehku tulisan dengan bentuk simple dan berwarna berbunyi 'SepociKopi'. Letaknya besar di paling atas. Mmm mungkin itu semacam judul besar bacaan si mbak ini ya, pikirku.

"Itu mbak yang namanya internet?" tanyaku penasaran.

"Yap. Gue lagi baca majalah online. Tadinya gue mau nulis, tapi masih gak konsen nih nungguin dia. Bawaan gue khawatir kok gak dateng-dateng."

"Ooo..." aku melongo. Majalah online? Ya ya ya kuanggap aku mengerti yang ia bicarakan, mungkin semacam majalah yang biasa teman kontrakkanku jual di pagi hari. Unik juga judulnya majalahnya SepociKopi. Aku tertawa kecil.

"Hai!!!"

Tiba-tiba terdengar suara perempuan berteriak mendekat pada kami. O, ini rupanya orang yang ditunggu si mbak ini daritadi. Eh, dia mbak-mbak juga bukan ya? Tampilannya kok kaya laki? Tapi suaranya cewek. Tomboy juga si mbak yang baru datang ini. Aku menyimpulkan sendiri apa yang aku lihat.

Mereka mendekat, berpelukan. Lalu, lho? Kenapa bibir mereka bertemu?

Mereka larut dalam pembicaraan yang heboh. Aku perlahan beranjak dari bangku taman menuju sepedaku. Kukayuh sepedaku menjauh dari mereka. Aku tak mengerti dengan apa yang kusaksikan barusan. Aku membisu, seperti segelas kopi dan judul sepoci kopi yang turut menyaksikan kejadian itu.

***

Lantai 31
10:07 am

Terinspirasi Penjual kopi sepeda di Jakarta Pusat dan komen Ciko soal Hawa, googling, menemukan: sepocikopi.com