Tuesday, June 15, 2010

Sayang di Belakang

http://www.flickr.com/photos/vlijtigliesje/525389360/

"Dua ya bang."

"Iya neng."

Gadis itu melepas helm dan slayernya lalu duduk di atas trotoar. Ia memandangi jalan raya dan meluruskan kakinya.


"Neng, make telor apa?"

"Mmm, ayam satu. Mas apa?" tanyanya

"Bebek satu bang." sahut laki-laki yang datang bersamanya.

Aku mulai menyiapkan pesanan mereka. Sambil membelakangi keduanya aku mengipas tungku kecil dihadapanku, membuat api.



"Bang biasa mangkal dimana?" gadis ini bertanya.

Aku menoleh sambil terus mengipas tungku dihadapanku. "Di pelni neng. Ini sebulan dimari."

"Bayar berapa disini bang?"

"Tiga setengah neng."

"Tiga setengah maksudnya tigaratus limapuluh ribu?"

"Iya neng. Kalo didalam mahal lagi neng, nggak kuat saya bayarnya."

Dia berhenti bertanya. Seperti wartawan saja gadis ini bertanya hal-hal yang pokok buat pedagang seperti aku ini.

Aku menoleh lagi kearahnya saat mengocok telor yang siap aku tuang ke wajan diatas tungku. Kemana laki-laki yang bersamanya tadi? Ia meninggalkan gadis ini sendirian di sampingku. Entah kemana dia.

Suasana hening. Hanya suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya ini yang mengusik.

"Nih.."

"Makasih mas."

Aku menoleh, rupanya si laki-laki tadi membeli minuman. Sebotol air mineral tengah diteguk oleh gadis ini. Mereka mirip, mungkin bersaudara. Aku kembali berkonsentrasi dengan pesanan mereka.

"Jadi, apa yang kamu pengen sebenernya?"

Laki-laki tadi bersuara tegas. Aku tak mendengar apa jawaban si gadis atas pertanyaan laki-lakinya itu.

"Aku pengen tau tujuan kamu."

Lagi-lagi hanya suara laki-laki itu yang tertangkap jelas di telingaku. Aku membayangkan mereka sedang serius bercakap-cakap. Dan mimik mereka pasti sangat tegang. Sayang aku membelakangi mereka membuatkan kerak telor pesanan mereka, jadi aku hanya bisa menerka-nerka .

"Aku rasa masih ada peluang buat kita."

Sambil mengocok telor kedua, aku terus menyimak suara laki-laki yang sedari tadi melontarkan pertanyaan. Sayup-sayup terdengar penjelasan dari suara lirih si gadis. Tapi aku tak bisa menangkap apa yang ia sampaikan pada laki-laki di depannya itu.

"Kita harus yakin..."

Suara laki-laki itu tegas meski pelan. Kakak adik yang kompak, berdiskusi untuk sebuah masalah dan sempat mampir beli kerak telor, aku terus bermain-main dengan pemikiranku sambil terus bekerja.

"Aku dari awal kan selalu membebaskan kamu. Aku mendukung apa yang kamu pengen jalanin sekarang."

Dua kerak telor ini sudah siap. Aku bubuhkan serundeng diatasnya.

"Aku sayang kamu"

Ternyata mereka punya perasaan satu sama lain. Akhirnya aku mendengar dengan jelas kalimat yang terucap dari si gadis mungil itu.

"Aku sayang kamu juga."

Laki-laki menjawab tenang.Meski membelakangi, aku bisa merasakan getaran dari keduanya. Harusnya mereka berekspresi bahagia. Tidak seperti percakapan di awal yang terdengar bersitegang.

Aku menoleh dan bertanya, "Maap neng, ini mau dibungkus ato dimakan disini?"

"Makan sini bang."

Aku menyiapkan dua piring dan menyerahkan pada keduanya.

"Abangnya ya neng?" tanyaku ingin tahu.

"Abang ketemu gede bang." sahut si laki-laki. Si gadis hanya tersenyum kecil.

"O... " hanya itu yang bisa terucap dari mulutku sambil kembali membelakangi mereka duduk di bakulku. Kupikir mereka kakak adik.

Lalu keduanya larut dalam kunyahan kerak telor buatanku. Tak ada lagi diskusi tegang yang aku dengar. Hanya sesekali suara kecapan yang kudengar dari belakang. Semoga mereka baik-baik saja setelah saling mengatakan sayang. Karena aku yang hanya mendengar dari belakang bisa merasakan.

***

GaL
14:40
15.06.2010

Terinspirasi pedagang kerak telordi kawasan PRJ.