Thursday, April 19, 2012

1000 Kartu Pos untuk Presiden

Di era yang serba dihital (plesetannya ngomong digital.red) ini, sosial media nampaknya perlahan mengikis kebiasaan atau rutinitas yang dulunya sering kita lakukan. Mari kita tengok ke belakang pelan-pelan ya. Mundur selangkah dari sebelum jamannya Facebook dan Twitter semarak sekarang, apa kamu punya email? Owh pasti ya sampai saat inipun email masih kita gunakan. Kecuali orang yang praktis mungkin mengintegrasikan emailnya di Facebook. 

Kalau pertanyaannya saya ubah, sudah berapa lama Anda tidak mengirim e-cards? Hayo...
Saya sempat bertanya via Twitter waktu itu. Dan beberapa followers saya menjawab rata-rata 'Sudah lama tidak pernah berkirim kartu elektronik'.

Kalau kita tarik mundur lagi, bagaimana dengan surat? Atau kartu pos? Mmm saya rasa jawabannya akan lebih 'tidak pernah' ya. Saya adalah orang yang gemar berkorespondensi sejak duduk di bangku sekolah. Saya punya banyak sahabat pena di luar pulau Kalimantan (waktu sekolah saya tinggal di Bontang, Kalimantan timur). Hampir setiap bulan saya menanti surat balasan sahabat pena saya. 
Saya juga sempat merasakan menulis surat dengan kakak saya yang sedang sekolah di benua Australia. Ya, saat itu menulis surat berlembar-lembar adalah sebuah keasyikan. Selain mengirim surat, saya juga gemar bertukar kabar melalui kartu pos. Ayah saya juga menyempatkan mengirimi kartu os dari luar negeri saat ia sedang dinas. Menyenangkan dan membanggakan rasanya menerima kartu pos dengan cap pos dari negeri lain :)

Beberapa hari lalu, saya menemukan sebuah blog yang menggalakkan semangat berkirim kartu pos di era yang sudah digital ini. Card to post, begitu nama blognya. Gerakan ini nampaknya seru ya? Ada yang lebih seru dari sekedar berkirim kartu pos biasa. Card to post sedang mengajak teman-teman untuk mengirimi Presiden SBY 1000 kartu pos lho! Mereka menamainya ' Gerakan 1000 kartu pos untuk Presiden

Menarik kan?
Kalau selama ini kita cuma ngomel-ngomel soal negara, boleh deh ikutan nyentil lewat kartu pos. :)