Monday, October 05, 2009

Mudik ala Galuh #6- Kerajaan di Timur Jawa

Bukan hanya sekedar kata maaf di hari ini, tetapi rencana mudik juga kunanti!

Hari ini hari kemenangan bukan? Tapi aku masih terkapar diatas tempat tidur dengan suhu badan yang meninggi dan tenggorokan yang sangat sakit untuk menelan, sekalipun hanya ludah saja yang lewat. Seusai sholat Subuh tadi aku menegak obat flu dan melanjutkan tidurku hingga sekarang kuterjaga saat jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi. Aku melewatkan sholat Ied karena badan ini tidak korporatif. Aku tidak boleh sakit! Esok aku akan melakukan perjalanan ke Timur!

Aku beranjak berbenah diri dan memandangi meja makan yang sudah rapi menghidangkan makanan-makanan ringan versi Mamaku.
"Ayo, mandi, makan trus sungkeman.." Mama menegurku yang masih mengumpulkan nyawa dari bangun tidur.
"Yeaa...", jawabku malas.

*
Masih dengan tenggorokan yang sakit, aku bergegas menuju ruang tengah setelah berdandan tentunya. Sungkem ke Papa dan Mama, sadar tak sadar airmata aku menetes, Semoga Allah ridho dan memaafkan kesalahanku, begeitu juga ke kedua orang tuaku.

Seperti yang Mama instruksikan ke aku kala memandangi meja makan, sekarang waktunya makan dan minum obat lagi. Hari kemarin adalah hari bersih-bersih sedunia. Dan salah satu dampaknya adalah kondisi ku hari ini. Aku termasuk orang yang sensitif terhadap debu dan dingin. Dari kecil area hidung ini memang sedikit tak korporatif untuk masalah sensitifitas. Pasrahlah aku menyuap sop hangat ini demi menjadi sedikit sehat. Karena esok hari aku akan melakukan perjalanan panjang.

**
Hari ini kondisi badanku membaik dibanding hari kemarin. Ini Idul fitri hari kedua.Alhamdulillah...rencana mudik ke timur akan menyenangakan jika kondisi fit. Ya aku akan mudik bersama keluarga ke Mojokerto. Kota Mojokerto adalah sebuah kota (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) di Jawa Timur, Indonesia. Terletak 50 km barat daya Surabaya. Biasanya aku dan keluarga menempuh perjalanan darat yang memakan waktu 7-8 jam dengan kondisi santai. Kalo kata Mamaku 'Alon-alon waton kelakon'. Ini sudah menjadi rute wajib, bahkan Papaku sudah dari tahun 70-an melakukan perjalanan Jogja-Mojokerto.




Aku berkemas, tidak perlu membawa baju banyak. Sore ini kakakku bersama istrinya tiba dari Jakarta. Kami akan menjemputnya di bandara, dan langsung bergerak menuju Mojokerto. Berhubung aku lusa sudah harus kembali ke Jakarta, maka diputuskan kami hanya bermalam satu malam di Mojokerto dan akan kembali esok pagi ke Jogja. Aku masukkan semua ke dalam tas putihku, dan menuju mobil siap meninggalkan rumah. Aku akan mengemudi sampai di Solo. Semoga jalan tidak macet, Amin.

*
Perjalanan lancar. Selalu menyenangkan melewati kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mencapai Mojokerto. Aku diam-diam mengamati perubahannya. Jalan yang dikategorikan jalan Propinsi pasti membelah kota. Dan pastikan ada Alun-alun ditengah kota itu. Gambaran kota-kota di Jawa memang seperti itu. Biasanya tak jauh dari Alun-alun akan ada Masjid agung kota. Dan pusat kegiatan pemerintahan ada tak jauh dari wilayah itu juga

Jalan yang menghubungkan tiap kota ini secara fungsinya termasuk sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional.Dimana jaringan jalan ini menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan, dalm artian setiap kota. Kalau aku tidak salah, jalan seperti ini dikategorikan jalan kolektor I dengan definisi jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota propinsi.

Aku jadi ingat ketika sempat bekerja di Lampung untuk sebuah institusi pusat studi kawasan. Setiap Propinsi,Kotamadya, Kabupaten bahkan Kecamatan memiliki Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Yang semestinya dijadikan acuan untuk aplikasi sebuah perencanaan tata ruang kotanya. Termasuk pembahasan jaringan jalan yang akan membantu perkembangan sebuah kawasan. Tapi pada kenyataannya, apa yang aku analisa dengan bantuan teori urban sana-sini dan tertuang dalam sebuah konsep perencanaan dan termaktub di bundelan rencana detail tata ruang (yang tebalnya melebihi bundel skirpsi) hanya menjadi sebuah teori belaka. Pemerintah belum sanggup mengarahkan pembangunan dan meratakannya sesuai dengan apa yang sudah direncanakan lewat bundel RDTR itu tadi. Kesimpulan kasarnya, anggaran untuk sebuah bundel perencanaan itu harus cair, dan berwujud dokumennya. Setelah itu, untuk penerapannya jangan berharap lebih. Di proses pencairan anggaran pasti sudah disunat sana sini dulu.

Jawa memang lebih berkembang dibandingkan luar Jawa. Aku berkesimpulan seperti itu karena sudah pernah tinggal diluar Jawa atau hanya sekedar tinggal beberapa hari di kota-kota luar jawa. Ini liburan mengapa aku masih asyik dengan teori dan kesimpulan sih? Aku memejamkan mata berharap Mojokerto segera di depan mata.

*
"Dimana nih Pa?", tanyaku yang baru terbangun dari tidur.

"Trowulan dek..", jawab Papaku.

"Dikit lagi nyampe deh kita...",seruku. Sementara Mamaku nampak pulas tertidur disebelahku.
"Yes...", jawab Papaku.

"Eh, pap, Trowulan ini kan banyak situs sejarah ya...kalo nggak salah ada puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, temuan arca, gerabah, dan pemakaman kan?"
"Iya, kan kamu pernah main ke Museumnya segala to dulu,", Kata-kata dulu itu yang membuat aku menghela nafas. Kalo aku tak salah sih aku masih duduk di bangku SD."Dan ini pusat kerajaan Majapahit dek", lanjut papaku.

Aku mengangguk-angguk. Iya, Majapahit, sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Puncak kejayaannya ada pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, tahun 1350 hingga 1389. Menurut Mpu Prapanca dalam kitab Kakawin Nagarakretagama dan dalam sebuah sumber Cina dari abad ke-15, pusat kerajaan berada di wilayah ini, Trowulan.


"Jadi, begini asal mulanya Kerajaan Majapahit. Dulunya yang berkibar adalah bendera kerajaan Singosari yang terakhir dipimpin Kertanegara. Nah... Jayakatwang, adipati Kediri, membunuh Kertanagara. Kemudian memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantunya Kertanegara, yang menyerahkan diri. Raden Wijaya diberi wilayah hutan Tarik.Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru. yang akhirnya dinamai Majapahit, diambil dari buah maja, dan rasa "pahit" dari buah tersebut." Papaku mulai bercerita.

"Ooow..ya ya ya..terus, Kaitannya singosari dengan Majapahit?", tanyaku

"Kabar Singosari adalah kerajaan paling kuat di Jawa yang berhasil mengusir Sriwijaya sekitar tahun 1290 terdengar oleh Kubilai Khan, seorang penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi ke Singosari untuk menuntut upeti. Sayangnya...Kertanagara, penguasa kerajaan Singosari yang terakhir, menolak untuk membayar upeti. Malah ia mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya.Hal ini membuat Kublai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293."

"O geto...terus, lanjut pap Majapahit dibawah Raden Wijaya tadi gimana kelangsungannya...?"

"Sebelum ekspedisi yang dikirim Kublai Khan tiba, ternyata Kartanegara sudah dibunuh oleh Jayakatwang kan? Jadi saat pasukan Mongolia tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongolia untuk bertempur melawan Jayakatwang. Lalu Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya."

"Jadi Raden Wijaya adalah Raja pertama Kerajaan Majapahit?"

"Iya. Hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu pada tanggal 10 November 1293, ditetapkan pula sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit. Raden Wijaya dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana."

" Puncak masa Kejayaan Kerajaan Majapahit ada di bawah kepemimpinan siapa pap?"

"Emm...begini...setelah Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309, kepemimpinan dilanjutkan oleh Jayanegara. Ia digelari Kala Gemet, yang berarti "penjahat lemah". Namun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi pendeta wanita. Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Tribhuwana menguasai Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun 1350. Lalu ia diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk. Nah di masa kepemimpinan Hayam Wuruk inilah Majapahit mengalami puncak kejayaan"

Masih belum Papaku menceritakan Puncak kejayaan Majapahit, mobil kami sudah memasuki kecamatan Kemantren tempat Budheku. Artinya, dongeng ini harus dihentikan dulu. Badan rasanya sudah ingin berbaring diatas tempat tidur dengan posisi lurus.

"Pap, besok kita lanjutkan lagi puncak kejayaan Majapahitnya ya..."
Papaku mengangguk seraya membuka pintu mobil.

*
Saatnya memejamkan mata untuk tidur sebenar-benarnya tidur. Dengan bayang-bayang kerajaan Majapahit di awang-awangku. Eh juga tentang sekelumit analisa dan realita tentang perencanaan kawasan di Indonesia.

Pemerintah jaman kerajaan saja bisa merebut, memperjuangkan, dan mengatur dengan baik wilayahnya.Mengapa pemerintah sekarang yang tinggal memelihara wilayahnya saja terkesan susah ya?


***
Semoga nggak bosen ya baca sejarah indonesia yang kali ini....juga ada sentilan buat pemerintah Indonesia tercinta

Tetap ikutin cerita mudikku ya..dikit lagih selesai kok acara mudiknya...:)