Sunday, March 14, 2010

101 Kisah Lavatory- Menguping Curhatan Double Affair





Setelah memberi waktu untuk bos cerewet itu menyelesaikan urusan buang hajatnya, aku kembali memasuki lavatory. Masih ada beberapa tugasku yang belum aku lakukan sebelum bos tadi mensabotase waktuku di dalam lavatory. Gara-gara handphone sial. Mmm ralat, gara-gara kelalaianku.

Kudorong pintu lavatory ini pelan-pelan. Pintu dengan penampilan kayu cantik dikombinasi warna metal pada bagian handle dan boardsign LADIES.

Seperti setengah jam yang lalu, lavatory ini masih sepi, karena ini jam makan siang. Hanya terdengar dua suara yang sudah familiar di telingaku. Ya, ini suara dua mbak-mbak yang tempo hari bertukar cerita soal kekejaman si bos. Yang satu yang tadi pagi kutemui menggunakan maskara, yang satunya sahabat kental si mbak maskara itu. Nampaknya pembicaraan mereka seru, semoga tak ada tragedi maskara luntur lagi hari ini.

Aku sengaja menahan handle pintu agar tertutup perlahan sehingga tak menimbulkan suara gaduh.

"Jadi lo masih dihubungin sama mantan bos kita itu bok?"

Terdengar suara pertanyaan lantang menggema.
Oh, ternyata mereka berada di dalam bilik. Satu di bilik favorit bos, paling kanan sedang yang satu di bilik paling kiri.

"Mmm gitu lah.."

"Terus lo mau pas diajak semalam?"

"Lo nggak lihat nih baju gue kan masih sama dengan kemarin, untung gue punya scarf ma sepatu yang gue tinggal di kolong meja..."

"It means...?" si mbak yang satu bertanya minta penjelasan.

"Ya it means gue belom pulang ke kontrakan gue!"

"Astaga.. lo masih mau main api aja sih... "

Aku menyimak sambil pelan-pelan menambah cairan pencuci tangan di wastafel.

"Say... gue nggak flirting, doi kok yang mulai. Sapa sih yang nolak cowok cakep kaya gitu?"

"Giling, istri orang, affair bos lo, dan lo masih bisa menikmati itu?"

Terdengar suara tissu ditarik dari gulungannya disertai suara flush kloset.

"Hidup cuma sekali, kudu dinikmati bok..."

AKu selesai menambah cairan pencuci tangan di wastafel. Kali ini aku meneruskan dengan mengeringkan sisi-sisi wastafel yang basah dengan lap.

"Yang lo cari apa dari mantan bos kita itu sih?"

Kali ini terdengar suara sama dari bilik sebelah kiri. Suara tissu yang ditarik dan flush kloset.

Aku mempercepat pekerjaanku. Tak mau tertangkap basah menguping pembicaraan ini. Tinggal mengambil sampah di pojok ruang.

"Mmm... sensasinya beda ciinnn...."

"Ude gila lo!"

Rekannya hanya tertawa puas menanggapi komentar tersebut. Suara risleting terdengar dan tak lama pintu bilik kiri terbuka.

Sial, aku kurang cepat. Aku memasang muka polos. Seakan-akan tuli tak mendengar informasi apapun barusan.

Ternyata si mbak maskara yang keluar terlebih dulu dari bilik kiri. Dia melempar senyuman padaku. Dia pun seolah tak sedang membicarakan hal yang tabu barusan.

Aku sedikit lega, dan meneruskan pengumpulan sampah kamar mandi ke dalam plastik hitam besar.

"Terus?" bilik kanan terbuka diikuti keluarnya rekan si mbak maskara. "Heh, daritadi lo disitu?" tiba-tiba dia berteriak.

Aku menoleh, merasa pertanyaan yang dilontarkan pasti tertuju padaku.Aku mengangguk.

Mbak dengan kacamata berperawakan tinggi itu mendekatiku.

"Denger apa aja lo?"

"Heh.. udahlah bok. Gakpapa. Tadi pagi gue juga curcol dikit ma desse. Udin tau dia nek, gue ada apa-apa ma lekong itu..." Mbak maskara menenangkan rekannya, sedikit berpihak padaku.

Mbak berkacamata tadi ternganga memandang si mbak maskara dengan ekspresi yang kira-kira bila diterjemahkan dalam bahasa 'Serius lo? Lo pengen semua dunia tau lo punya affair atas affair?' Dan dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kembali berkutat ke kaca.

Mbak maskara itu tersenyum menanggapi gelengan kepala rekannya lalu memandangku.

"Tadi pagi lo mo nanya paan mbak?"

Aku gugup.

"Heh, bengong!"

"Eh iya mbak gimana?" tanganku menggenggam plastik hitam besar dengan kencang menimbulkan suara sedikit berisik.

"Tadi pagi.. tadi pagi itu lo mo nanya apa, sebelum bos cerewet masuk kesini?"

"Oh..."

Mbak maskara ini menunggu jawabanku sambil menatapku. Sementara mbak kacamata melirikku dari balik badan mbak maskara terlihat penasaran

"Ngomong paan sih?"tanyanya

"Tadi pagi nih si mbak ini mo nanya ma gue, tapi keputus gara-gara si bos cerewet itu datang tiba-tiba mau buang hajat!"

Dia tertawa.

"Emm i.. ini mbak..." AKu mengeluarkan robekan kertas ‘Laporan Keuangan Tahun 2009′ dari dalam sakuku.

Mbak maskara dan mbak kacamata kali ini sangat kompak. Mereka mengernyitkan dahi dan bersuara bersamaan,

"OMG ‘Laporan Keuangan Tahun 2009′ ???"

***
GaL
12:24 pm 14 March 2010