Saturday, March 06, 2010

101 Kisah Lavatory- No Handphone (Please)



Seperti biasa, saat makan siang tiba toilet kosong. Saatnya merapikan lavatory. Ini waktu yang menyenangkan untukku, karena saatnya aku bisa leluasa menggunakan handphoneku.

Ada peraturan bagi seluruh staff seperti aku. Kami dilarang mengaktifkan handphone selama bekerja, jam kerja, apalah, intinya selama jam 6 pagi hingga jam 8 malam. Handphone baru bisa dinyalakan saat kami beristirahat.

Tapi, aku suka menyiasati dengan mencuri waktu kala bekerja dan mengirimkan sms. Ke siapa? Ke pacarku tentu saja. Kalau kata kakakku, aku masih dikategorikan ababil. Katanya ababil adalah ABG labil. Umurku memang baru 19 tahun. Baru saja tamat dari Sekolah Menengah Atas.

Siang ini aku memasuki lavatory dan mencek semua biliknya. Kosong, hanya ada aku sendiri di dalam ruangan ini. Sebelum melakukan semua pekerjaan yang rutin aku lakukan, aku akan mengcek handphoneku terlebih dahulu.

Aku memilih bilik paling pojok kanan, bilik keempat bila kita menghitungnya dari arah pintu. Segera kutekan tombol ON telepon genggamku.

Tuuut.. tuttt…

Tuuut.. tuttt…

Tuuut.. tuttt…

Benar saja, 3 pesan aku terima. Semua dari nama pacarku. Aku tersenyum memandangi layar handphoneku. Pesan singkat dan lucu membuat aku tersenyum. Aku segera membalas semua smsnya.

Message Sent!

AKu masih berharap menunggu balasan darinya. 1 menit, 2 menit.

Terdengar suara pintu lavatory terbuka dan suara hak sepatu yang menggema di toilet. Bersamaan dengan itu, handphoneku tiba-tiba berbunyi kencang

Tuuut.. tuttt…

Sial… apes… siapa ya yang masuk ke toilet. Semoga bukan pengawasku. AKu keringat dingin.

Tiba-tiba, pintu bilikku digedor.

“Siapa di dalam?”

Mampus… kenapa bilik ini diketuk sih? AKu panik. Uh.. menyesal deh main-main handphone di jam kerja. Bener kata kakakku, aku ini ababil bodoh. Aku maish merutuki diri sendiri.

Sekali lagi pintu ini digedor kencang, disertai pertanyaan yang sama, ” Siapa di dalam?”

Aku semakin gugup. Aku belum hafal semua suara orang di lantai ini. Suara siapa ya ini. Aku ragu-ragu menjawab pertanyaan yang diteriakkan dari orang yang mengetuk pintu bilik ini.

“Hallooooo… siapa sih???”

Fyuh… aku pura-pura memflush toilet dan bersiap keluar dari bilik menghadapi siapapun yang menggedor pintu ini.

Klik, kubuka kunci daa pintu langsung terdorong ke dalam. Membuat aku terpojok nyaris terduduk ke toilet.

“Aw…”, aku menjerit kaget dan menegndalikan keseimbanganku agar tak terjatuh.

“Kamu lagi! Saya kan mau pakai bilik ini, kenapa nggak menjawab daritadi?”

Ughhh si bos cerewet ini rupanya. Aku tak bisa menjawab hanya diam. Aku ketakutan. Ibu ini ingat tidak ya soal kejadian tadi pagi saat dia bertanya soal sampah yang terpotong suara handphonenya? Atau dia benar mencari tahu soal sobekan kertas ‘Laporan Keuangan 2009′ yang kutemukan itu? Atau jangan-jangan dia akan memarahiku karena mendengar dering telepon genggamku tadi?

“Malah bengong, minggir…! Saya uda kebelet!”

Aku bergegas keluar dari bilik, mempersilahkan si bos ini masuk ke dalam. “Eee Si..silahkan.. bu.”

Pintu sedikit terbating dan tertutup. Fyuh, ternyata si bos hanya kebelet. AKu melangkah tenang menuju pintu untuk meninggalkan lavatory.

“Eh! Kamu…!”

Tiba-tiba suara ibu bos menghentikan langkahku.

“Engg, i.. i.. iya bu? Sa.. saya?” aku terbata-bata menyahut.

“Besok-besok, matikan handphonemu kalau bekerja! No Handphone! Kali ini saya memaklumi!” Suaranya menggema memperingatkanku.

“Baik bu. Maaf bu.” ternyata dia tahu apa yang aku lakukan… aku menggumam sambil meneruskan langkah memegang handle pintu untuk keluar.

“Satu lagi!”

AKu tehenti dengan posisi pintu yang sudah terbuka.

“Iya bu?”

“Jangan gunakan bilik paling kanan ini bila jam istirahat. Saya pasti akan pakai di jam segini!”

“Baik bu…”

“Ehh..ehhh.. satu lagi!!”

AKu nyaris menggerutu kali ini, sudah tak lagi ketakutan, “Apalagi bu?”

“Matiin hape kamu, sebelum pengawas kamu denger hapemu bunyi!”

Aku melengos keluar dari lavatory. Malu. Bos cerewet yang aneh. Kentutnya bau dan hanya mau menggunakan bilik paling kanan di pojok ruang. Tapi baik juga dia mengingatkanku. Tapi tetap saja aneh.

***

GaL
6 March 2010