Friday, April 16, 2010

101 Kisah Lavatory- Cantik Mana?

Kubuka dan kubaca pesan singkat yang masuk itu.
Dia dari toilet kan? Pasti dia cerita sama kamu. Ada cerita apa?



:::

Cepat-cepat kumatikan handphoneku. Aku belum bisa memutuskan akan bercerita pada si bos atau bungkam. Pilihan sulit. Ah nanti sajalah. Semoga aku tidak bertemu dengan bos besar itu nanti.

Kumasukkan handphoneku dan memberesi perlengkapan kerjaku segera meninggalkan lavatory.

:::

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku harus menyudahi jam kerjaku. Teman-teman shift sore sudah sedari tadi terlihat dan bekerja.

Aku terlalu rajin, sampai jam segini masih berada di kantor. Ini gara-gara terlambat makan siang dan serentetan kejadian setelahnya.

"Kamu belum pulang?", pengawasku menegurku.

"Iya bu, ini sudah mau ganti baju."

"Ya sudah cepat sana. Besok jangan sampai terlambat, karena ada meeting bos-bos besar pagi. Jadi lavatory harus rapi."

Aku mengangguk dan bergegas masuk ke ruang ganti.

:::

Aku sedikit tergesa keluar dari ruang ganti menuju lift. Berharap si Bos itu tak memergokiku. Cepat-cepat aku berjalan melintasi ruang kacanya.

Kulirik mejanya, fyuh kosong tak ada sosok bos itu disana. Hanya terlihat si mbak maskara yang serius menatap layar monitornya.

Bearrti aku aman, pasti si bos sedang ngopi di cafe bawah. Aku berpikir sambil lalu. Aku sudah mendekati pintu tangga darurat untuk mencapai lift servis.

"Mi! Mila!"

Ada yang memanggil, dan aku menoleh lemas karena kumulai hafal dengan suara ini, ya suara si bos.

"Ya bu?"

"Sms saya kok tidak kamu balas!"

Ia mendekatiku dan menarik lenganku memaksaku masuk keruang tangga darurat.

"Kenapa sms saya kok tidak dibalas?" Sekali lagi ia bertanya saat kami hanya berdua di ruang tangga darurat.

"Eeeng..ee.. itu bu, tadi hape saya tiba-tiba mati, jadi belum sempet bales bu."

"Arhhh.." Tangannya melepaskan cengkramannya dari lenganku berganti mengacak-ngacak rambutnya.

Aku dia mematung memandangi bos yang saat ini tengah gusar.

"Oke, jadi ceritakan saja langsung, ada info apa? Perempuan itu tadi pasti bicara banyak saat ke toilet kan?"

Aku gugup. Pilihan sulit yang sedari tadi aku khawatirkan untuk membuat pilihan.

"Ada cerita apa?" tanyanya lagi sambil mendekatkan wajahnya padaku.

"Ee...eee..."

"Lama banget deh kamu!"

"I ..iitu bu. Mmm Mbak itu tadi terima telpon. Katanaya nanti malam mmm...."

"Kenapa nanti malam?"

"Mm.. nanti malam kataanya... dia mau dijemput."

"Siapa?? Siapa yang mau jemput?"

"Engg...yang jemput..katanya... yang ngajakin dia makan makam..bu.."

"Siapa? Yang ngajakin makan malam itu siapa?"

"Engg...sa..saya gak tau bu. Namanya saya gak tau bu." Aku hampir menangis.

"Kamu yakin itu saja infonya?"

Aku mengangguk

"Bagaimana mungkin?!!"

Bos berteriak. Kesal mungkin. Marah pasti. Tapi jelas tidak padaku. Kalau padaku pasti ia sudah membunuhku barangkali.

"Mila! Kamu jannji ceritain semua ke saya ya kalau ada apa-apa. Ini penting Mila!"

Aku mengangguk lagi.

"Yakin Mila, tak ada yang mau kamu sampaikan lagi?"

Aku menggeleng.

" Ya sudah. Yang jelas dia akan makan malam dan dijemput nanti?"

"Iya bu."

"Oke."

Aku masih diam. Salahkah aku bercerita apa yang aku dengar kepada bos? Gimana nasibku terkait dengan sobekan kertas Laporan Keuangan itu? Padahal mbak maskara berjanji melindungiku sekarang aku mengkhianatinya.

Aku merasa bersalah. Pikiranku tak fokus.

"Mila!"

"Eh iya bu?" Aku kaget

Si Bos tampak merapikan bajunya dan menyisir rambutnya dengan jari-jari lentiknya. Meski sudah memiliki anak, si bos punya selera berpakaian. Memadu-madakan warna dan asesoris. Penampilannya sangat menarik. Sayang, badannya sudah tak seindah saat ia belum melahirkan.

Aku menunggu apa yang akan dia tanyakan lagi

"Cantik mana saya dengan dia?"

***

GaL
1:45 pm | 15 April 2010