Friday, April 02, 2010

101 Kisah Lavatory- Jangan Cuci Tangan






“OMG ‘Laporan Keuangan Tahun 2009′ ???”



Aku kaget. Mbak maskara dan mbak kacamata kali ini sangat kompak. Dengan ekspresi mereka yang juga sama, mengernyitkan dahi dan bersuara lantang.



"I..iya mbak..."



"Udah siniin, lo diem ajah. Kalau bos itu tanya-tanya soal kertas ini, lo pura-pura nggak tahu aja. "



"Tapi saya takut mbak, ini...ini nggak apa-apa kan mbak?"



"Tenang aja..." Mbak berkacamata mencoba menenangkanku."Kamu aman kok. Ini nggak ada kaitannya dengan kamu."



Tiba-tiba pintu lavatory terbuka. Dengan sigap mbak Maskara menyimpan sobekan kertas ke dalam saku kirinya.Lalu keduanya bergegas membuang tissue kotor mereka dan berlalu.



Aku menoleh ke arah pintu, ow ternyata bos cerewet itu kembali ke toilet ini.



"Siang bu." aku menyapa meski sedikit gugup mencoba terdengar wajar.



"Iya saya mau ketemu denganmu. Dari tadi pagi selalu tertunda."



Deg!



"Sa..saya bu? A..ada apa ya Bu?" Jantungku berdegup kencang. Baru saja aku merasa tenang karena tak lagi membawa sobekan kertas dengan judul yang cukup rahasia. Kali ini aku harus berbohong tak bisa memberi keterangan apa-apa ke bos cerewet ini.



Wajahku mungkin sudah tak karuan, aku hanya meremas-remas lap kotor yang berada di genggamanku mengurangi kecemasanku.



"Handphonemu sudah kamu matikan?"



"Su..sudah bu."



"Jangan sampai supervisor kamu tahu kamu main-main handphone selama kerja!"



"I..iya bu.."



Si bos cerewet ini membasuh kedua tangannya di wastafel. Dan aku masih mematung disampingnya.



"Saya minta nomor handphonemu." Ujarnya dingin sambil terus membasuh tangannya.



"Nomer saya bu?"



"Iya." Ia menoleh padaku sambil menadah sabun cair pencuci tangan.



"Ba..baik bu.."



"Kirim sms saja ke nomer saya. cepat. nomer saya, 0-8-1-1-1-1-0-0-1-1."



Dengan gugup aku mengeluarkan handphoneku menyalakan lalu menuruti perintah si bos, mengirim 1 pesan singkat yang kosong ke nomer yang ia sebutkan.



Handphone si bos ini berbunyi tanda sms ku sudah masuk di inboxnya.



"Oke. Jadi begini." kali ini si bos sudah selesai mencuci tangannya lalu berjalan mengambil tissue di sudut ruang."Kamu pasti sering mendengar percakapan dua orang krocoku tadi kan?"



Aku yang tadinya panik akan mendengar kata-kata kertas dan laporan keuangan tiba-tiba terkejut si bos ini membahas kedua mbak-mbak yang sangat karib tadi.



"Iya Bu. Kadang-kadang."



"Nah. Tugasmu gampang, cukup meneruskan pada saya apa yang kau dengar dari setiap percakapan mereka di toilet ini. "



O..o... Bos ini mungkin mencium gelagat mbak maskara yang punya affair dengan laki-laki selingkuhannya. Jadi ini bukan masalah sobekan kertas yang kutemukan tadi pagi?



"Lalu... kamu tinggal sms saya, nanti biar saya telpon kamu. Tentunya saat jam istirahat. " Dia selesai mengeringkan tangannya lalu meremas tissue itu menjadi gumpalan ditangannya.



"Ba..baik bu."



"Mengerti kan?"



"Mmm.. ee..ii...iya bu." Aku menjawab sedikit berat dan ragu-ragu. Bagaimana mungkin aku jadi mata-mata seperti ini? Sementara kedua mbak tadi baik hati mau melindungiku soal sobekan kertas yang kutemukan.



"Oke. Saya tunggu info dari kamu."



Si bos ini melenggang menuju pintu keluar sambil membuang tissue kotor ke tempat sampah.



Tiba-tiba langkahnya terhenti saat memegang handle pintu dan berbalik padaku.



"Tadi pagi saya mau bertanya soal sampah."



Deg!

Ini bagian yang daritadi aku khawatirkan dia ingat tadi pagi menemuiku di core tangga darurat menanyakan smapah semalam.



"Ke..kenapa bu dengan sampah?" aku merespon kalimatnya.



"Kamu ada nemuin kertas kecil gitu...."



Kalimat si bos ini menggantung sambil berusaha mengingat-ingat sesuatu. Aku semakin panik menunggu terusan kalimatnya.



"...emmm... kecil..warna putih... "



Lagi-lagi kalimatnya menggantung



"Mmm...ya ituh lho..kertas karcis parkir gituh... lihat nggak?"



Fyuh....!!

Si bos ini kehilangan karcis parkirnya?? Hampir aku pingsan ditempat kalau sampai yang keluar dari mulutnya adalah soal sobekan kertas laporan keuangan.



"Engg...enggak bu... nggak ada."



"Ah yasudahlah mungkin keselip di dompet saya. Saya semalam naik taksi, karena males bayar denda karcis hilang."



Pelit juga si bos ini. Bossy, kentutnya bau, rasa ingin tahu besar, pelit pulak! Aku merutukinya dalam hati.



Ia menarik handle pintu dan berlalu.



Aku menarik nafas lega. Mencuci tanganku yang sedari tadi meremas lap kotor.



Pintu terbuka lagi, dan si bos berdiri lagi di depan pintu. Aku terkejut. Apalagi bos??



"Ya Bu?" aku bertanya.



"Ingat ya, yang tadi RAHASIA. Dan kamu jangan cuci tangan kalau sudah terlibat urusan dengan saya."





***

Jumat, 2 April 2010

14:14