Friday, April 16, 2010

Hati (Sakit)



Aku terengah-engah.

Rasanya aku sudah nggak sanggup lagi bekerja. Sudah puluhan tahun aku meletakkan loyalitas aku untuk bekerja keras.

Aku sudah tak sangup lagi meneruskan ini.

Aku sudah tak sesempurna dulu.

Aku tak bisa maksimal bekerja.

"Maafkan aku rekan. Tapi ini aku sudah nggak bisa lagi bekerja dengan baik."

"Kita satu tim. Dan kita bekerja bukan hanya satu dua hari. Kamu tau itu kan?"

Aku mengangguk.

"Tapi lihat apa yang aku lakukan padamu. Aku menyiksamu teman. Karena aku sudah tak lagi dapat bekerja dengan maksimal, ini berdampak pada kinerjamu."

Dia terlihat lelah, sangat lelah dihadapanku. Tetapi dia masih memiliki semangat. Dia masih memacu dirinya untuk terus bekerja.

Dia tersenyum ditengah wajahnya yang sudah sangat payah.

"Kalau kau berhenti bekerja, maka aku juga akan berhenti." ucapnya.

"Ini memang semua berawal dari kesalahanku." aku berucap lirih.

"Jangan menyalahkan diri sendiri teman!"

"Bagaimana tidak, ini semua bermula dari aku. AKu yang tak lagi bekerja dengan baik, aku sudah tak lagi bekerja sesuai fungsi ku. Lihat aku, aku mengenaskan!"

Aku berteriak air mataku tak terbendung. Perasaan bersalah menyelimutiku.

"Aku sudah tak bekerja dengan baik! Aku tak lagi bisa memecah senyawa racun padanya! Tak ada lagi detoksifikasi yang baik padanya!" Aku semakin kencang berteriak.

"Lihatlah tubuhnya sudah membiru, semua racun telah mengalir padanya. Ini semua karena kesalahanku! Aku hanya bisa mengalirkan darah kotor, dan semua bermuara padamu teman!"

Dia yang tadi terlihat masih bersemangat memacu diri, tiba-tiba melemah.

"A..aku.. Aku rasanya juga sudah tak kuat lagi , hati. Darah yang aku terima tak lagi sehat untuknya, dan aku semakin melemah. Aku.. a..aku tak kuat."

Detak itu kurasakan melemah. Semakin melemah. Hingga berhenti.

:::

Tangis memecah diruangan serba putih itu. Meski ruangan putih, namun aura hitam terasa sekali. Aura duka.

"Ibu....."

Si anak terisak dan memeluk tubuh ibunya yang tak lagi bernyawa membujur biru kaku. Laki-laki berkacamata memeluknya dari samping. Itu kakaknya.

"Dek, Jantung dan Hati Ibu sudah lelah bekerja, jadi doakan saja Ibu sekarang tenang dan tak lagi tersiksa."

***

GaL
1:20 pm | 16 April 2010

Notes:
Bayangkan saat salah satu organ tubuh kita sudah tak sanggup lagi bekerja dengan baik. Kerusakan menyeluruh pada tubuh kita akan menjadi derita bagi kita. Mari, jagalah kesehatan kita di sisa kontrak hidup yang Allah beri.
Ingatlah perkara sehat sebelum sakit