Monday, August 24, 2009

Derajat aku dan dia

Jam dinding menunjukkan pukul 5 kurang 10 sore hari


'Alhamdulillahi rabbil 'alamiin...'

Aku tertegun sembari melipat mukenaku
Bukan kaget karena melihat sesuatu yang aneh
atau si Bos
atau melihat cowok cakep
Tapi syukur yang dilafalalkan OB yang membelakangiku tepat di depanku
Dia baru saja menyelesaikan sholatnya juga, sama seperti aku

Nada yang sangat tulus
berserah
jelas sekali dari intonasinya tadi
seraya mengusapkan kedua tangannya ke muka

Astaghfirullah..
Aku tersentak
Aku bukan siapa-siapa di hadapanNya
bahkan untuk bersyukur, aku hanya mengucapkannya sambil lalu
Sambil mengemasi mukenaku
Di otakku aku hanya terburu-buru segera kembali ke depan PCku
Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan

Dia,
Seorang OB
yang mungkin tanggung jawabnya hanya diseputaran urusan belakang kantor
Tetapi dia teramat sangat bersyukur atas nikmatNya

PLAK!
aku tertampar
Oleh ucapan syukurnya

Iya,
Allah melihat derajat manusia bukan dari siapa dia di kantor
apa jabatan dia
apa yang dia kerjakan di kantor
melainkan atas amal ibadah dan ketakwaannya

Aku berkaca,
aku hina
aku bukan siapa-siapa di hadapanNya
dia yang mengucap syukur tadi jauh lebih pantas menempati surga dibanding aku

Ya Allah ampuni aku
Berikanlah aku selalu keimanan dan ketakwaan terhadapMu
Kala Ramadhan menjemputku
Aku berharap dihantarnya sampai ke Syawal
dengan Fitri
AMIN


***
catatan dini hari menunggu dijemput Ramadhan