Wednesday, January 20, 2010

#10- Kartu As Laki-laki Banci



"Ow jadi elo orangnya, Sem!"

"Heh banciiii!" , AKu berteriak melengking.

"Elo yang banci!"

"Hehh sembarangan yey! Kalo eyke banci, eyke nggak bakalan bisa bikin wajah yey babak belur gitu you knowww... Cih!"

Tiba-tiba lenganku sudah dicengkeram olehnya.

"Awwww!!!Sakittt bannnciii...!!! Lepasin!!" Aku berteriak melengking lagi.

Aku disudutkan ke dinding. Terdesak. Tangan kirinya tetap mencengkram lenganku sementara tangan kanannya memegang rahangku .

"Heh! Gue nggak takut lo mau tereak ampe seluruh dunia tau juga gue nggak takut!"

Aku tak bisa menjawab. Tak bisa berkata-kata, tangan Setya sangat kencang memegangi rahangku.

"Lo mau bilang ke seluruh dunia kalau gue pernah nidurin lo juga gue nggak takut! Elo pasti cuma ditertawakan orang! Nggak akan ada yang percaya!"

Aku menggeram. Setya belum tahu kalau kartu As-nya ada padaku sekarang. Dia belum tahu korelasi Dinda, Wisnu, Wince, dan aku tentu saja. Kartu As ini mengancam pernikahan dia, berkedok dibalik sebuah perjodohan. Manusia picik!

"Sekali lagi gue bilang, NGGAK ADA YANG PERCAYA!"


Satu tusukan kurasakan menhujamku dan aku tak ingat apa-apa lagi.

**
"Dinda... kamu harus percaya padaku."

Aku terdiam. Merasa paling lemah dan paling tak berdaya kali ini.

"Setya bukan laki-laki baik. Apa yang aku ceritakan benar adanya. Kamu harus percaya aku , Dinda."

Pikiranku kalut , aku menyangka Setya laki-laki tepat. Meski aku sempat angkuh padanya, sempat mencoba mengenal Wisnu sebelumnya. Tapi Setya sabar memaklumiku. Runtuh dinding kekagumanku dalam semalam saat dia menjebakku. Tapi aku mencoba meyakinkan dialah orang yang tepat hingga aku memasrahkan diri. Sungguh bodoh. Dan malam ini Wisnu mencoba membuka siapa Setya sebenarnya dihadapanku.

"AKu harus sembuh Nu. Aku harus sembuh. Tapi aku sudah sangat tolol. Aku sudah ditiduri olehnya Nu..." tangiskupun pecah ditengah alunan musik coffeshop ini.

"Ya, aku tahu, menikahlah dengan orang yang tepat dan kamu akan sembuh. Aku tak peduli Setya sudah pernah menidurimu. Aku tak peduli! Kamu adalah perempuan yang kucari Dinda. AKu seperti sekarang tak lagi terjebak dalam raga Wince, karena kamu. Kamu Dinda."

Wisnu menghela nafas dan melanjutkan lagi kalimatnya

"Hari-hari yang kamu isi selama aku menemanimu bercerita atau melayanimu di salon, aku mendapat keyakinan saat itu. Kamu membuka hatiku. Membuat aku sadar!"

Lagi-lagi Wisnu memberi jeda.

"5 tahun memang waktu yang tak sebentar. keputusan egois saat aku tak paham menemukan jati diri. Apalagi trauma masa kecilku, membuatku tak sudi menjadi laki-laki. Laki-laki makhluk jahat! Ibuku teraniaya oleh laki-laki."

Kali ini aku yang semakin sesenggukan mendengar penjelasan Wisnu.

" Tapi, mengenalmu, sekarang membuatku ingin menjadi laki-laki yang baik. Aku akan menjadi laki-laki yang baik dan menjagamu. Tidak seperti ayahku!"

Wisnu mengusap wajahnya, pertanda resah dan melanjutkan kalimatnya.

"Dinda, tinggalkan Setya, lupakan perjodohan itu. Setya tidak baik untukmu. Bantu aku mewujudkan niatku untuk menjadi laki-laki baik dengan menjadi pendampingmu."

"Beri aku waktu berpikir Nu. Pernikahan ini sudah dipersiapkan."

"Ya aku tahu, pernikahanmu sangat matang. Tapi tidak dengan calon mempelai prianya."

"Beri aku waktu." Aku masih menangis. Aku masih tak percaya dengan semua penjelasan Wisnu malam ini. Setya mengecewakanku berkali-kali! Keluargaku tak ada yang tahu apa yang terjadi. AKu memilih menyelesaikan sendiri.

"Winceeeeee!!!"

Sebuah teriakan kencang memanggil Wisnu. Seorang yang berperawakan dan berpenampilan sama dengan Wisnu kala menjadi Wince kini berdiri didepan kami dan terengah-engah.

"Ya?" jawab Wisnu bingung.

"Semyyy wince.. Semmy....!!!"

"Kenapa Semmy?", tanya Wisnu bingung.

"Semyy luka berat nek!!" Dia masih terengah-engah menjelaskan.

"Eyke temen Semmy cyin... Eyke tau yey.. tadi Semmy cerita kalau yey ada disindang. Itu pesen diana sebelum diana nemuin si lekong sekong Setya itu di belakang gedung sana bok..."

"Mana Semmy sekarang??" Wisnu panik. sedangkan aku bingung. Siapa lagi Semmy? Apa hubungan Semmy dengan Wisnu?

"Masih disana, lagi nunggu bantuan....capcuss cyinn yukkk...! Cuuusss...!"


**
"Semmy! Semmy!"

"Hhhh...Nu... Mana... Dinda..." Semmy menjawab lirih saat mengetahui keberadaanku.

"Ya.. ya.. Sem.. ini aku Dinda..."

"Hhh... ka...kamu can..tik Dinda..."

Dinda mematung mendengar perkataan Semmy. Sementara aku masih memegangi kepala Semmy.Kurasa tusukan ini tepat mengenai sasaran dan menghabiskan banyak darah.

"Hhh...Din..da.. Percaya.. Wis..nu. Set..yaa bu..kan laki-la..ki ba..ik "

***
 Saturday, January 16, 2010 at 11:17am