Sunday, January 10, 2010

#4- Tersakiti Oleh Laki-laki, Lagi.



Aku tersenyum menatapnya. Matanya begitu tajam menjelajahi jiwaku. Itu yang membuatnya berhasil meraihku di setiap malam. Menerbangkanku menggapai kenikmatan. Seperti malam ini. Aku baru saja kembali mendarat ke bumi setelah terbang bersamanya ke langit dalam angan. Malam ini sangat istimewa, dia memanjakanku, sangat memanjakanku. Sehingga aku pasrah pada permainan malam ini. Pasrah.

Seperti yang sudah-sudah, pertemuanku dengannya selalu diakhiri di ranjang hingga pagi datang. Ini baru tengah malam. Masing-masing kami sedang mengatur nafas. Bila tadi aku cukup dimanjakan olehnya, menjelang dini hari ini aku akan membuatnya bertekuk lagi dihadapanku.

Aku masih tersenyum, kali ini menatap langit-langit kamar kontrakanku. Langit-langit ruangan yang menjadi saksi bisu, langit-langit yang selalu aku tembus bersamanya untuk mencapai langit yang lebih tinggi setiap malam.

"Sem." Tiba-tiba dia bersuara.
"Ya", jawabku.
Kudengar suara pematik korek dinyalakan. Dan tak lama aroma nikotin yang dibakar memenuhi ruangan ini. Ada jeda, dia tak meneruskan kalimatnya.

Aku masih menatap langit-langit kamar. Kudengar suara resleting yang ditutup dan denting gasper sabuk yang sedang dikenakan. Aku bangun dari tidurku dan terduduk memandangnya yang sudah berdiri di sudut ruangan.
"Mau kemana?" tanyaku panik.

Dia hanya diam. Terus mengenakan pakaiannya yang tadi aku tanggalkan satu persatu dari tubuhnya di sudut ruang ini.
"Kamu mau kemana, Ya?" tanyaku lagi.

Dia masih tak menjawab dan menghembuskan asap rokoknya. Pikiranku kalut. Setya tak pernah seperti ini. Kuambil Lingerie merahku dan segera mengenakannya. Dia kini terduduk di kursi menatap langit dari pinggir jendela.

Ku ambil rokok yang tengah dihisapnya, kumatikan. Aku memasuki wilayahnya, duduk di pangkuannya dan siap menggodanya dengan kecupan. Setya membalas kecupanku, dingin. Aku mematung, menatapnya ragu. Tak lagi kutemukan sorot mata yang biasanya disana.

Bila cermin disamping kami itu bisa berbicara, dia pasti mengatakan 'Ayo Semmy, kecup dia lagi. Kamu sangat seksi berada dipangkuannya! Lingerie merahmu sangat menggoda. Sibak rambut panjangmu, biarkan belahan payudara palsumu itu menantangnya Semy!'

"Aku akan menikah."
Dia berkata singkat. Aku terkejut dan berdiri dari pangkuannya, berjalan mundur hingga terduduk ditepi tempat tidur.

Ketakutanku kini nyata. Aku tak akan pernah bisa mencintai laki-laki hingga akhir hayat. Selalu cinta ini dikhianati. Aku selalu tersakiti dengan cara seperti ini. Raga ini sama dengannya, laki-laki. Tapi jiwa ini lebih sensitif dari wanita.

"Aku harus pergi."
Dia berdiri, mengambil kunci mobilnya dan berlalu dari hadapanku.

Aku menangis. Pikiranku hanya tertuju pada satu nama, Wince. Meski sudah sebulan lebih aku melupakan sahabtku ini karena kehadiran Setya, disaat seperti ini aku tetap butuh supportnya.

Ku kirimkan pesan singkat padanya.
Bok, hancur hati gue! Lekong gue mau nikah ma perempewi beneran. Gue disia-sia, setelah dia menikmati hari-harinya ma gue, melampiaskan nafsunye ke gue! Laki-laki sialan! Kesel gue kesel!

**
Ting tong...
Aku menghapus airmataku yang sudah membasahi bantal di pelukanku. Aku bergegas menuju pintu depan. Tanganku masih menggenggam handphone dengan tampilan balasan pesan singkatnya tadi.

Wince .aka. Wisnu
Aku kesana sekarang.

Meski lama merespon tapi jawabannya melalui sms melegakanku. Dan ini pasti Wince yang datang.

Kubuka pintu
"Wi..wince??" aku terbata-bata.
Aku terbelalak melihat sosok didepan pintu. Wince tak lagi mengenakan sumpalan untuk membentuk payudara dan bra atau makeup maupun rambut palsu panjangnya.

***
GaL
9 January 2010
 12:49pm