Thursday, January 07, 2010

Banci Adalah Laki-laki


Getty Images Stock

Kututup botol pembersih muka sesaat setelah aku menuangkan isinya ketelapak tanganku. Mulai kuratakan susu pembersih ini keseluruh bagian wajahku. Kuambil kapas dan perlahan kusapu wajah ini sehingga terangkat semua make up yang lebih dari 8 jam menempel di mukaku.

Pikiranku sedikit tidak fokus. Antara menatap cermin yang memantulkan bayangan wajahku dan otak ini yang terbayang-bayangi sosoknya beberapa minggu belakangan ini.

Kulanjutkan ritual membersihkan mukaku dengan cairan penyegar. Sembari tangan ini menggerakan kapas kemuka, pikiranku masih tak berhenti memikirkan dirinya.

Kuambil sepasang bulu mata palsu yang tadi kugunakan, dan mencoba membersihkan sisa perekat yang menempel pada ujung-ujungnya dengan seksama. Bulu mata ini masih bisa aku pergunakan suatu saat entah kapan lagi. Kuletakkan dengan rapi kedalam sebuah kotak.

Masih menatap cermin, memandangi diri sendiri. Dan masih terngiang-ngiang setiap detail pembicaraanku dengannya. Ini belum berlangsung lama, aku baru mengenalnya satu bulan terakhir. Tapi aku merasakan sesuatu yang tak biasa. Baru kali ini aku sulit mendefinisikan apa artinya ini.

Kami bertemu di salon, dan disanalah semuanya mengalir begitu saja. Aku melayaninya sebagai pelanggan tetap di salon. Pembicaraan-pembicaraan ringan membuat aku semakin mengaguminya di setiap pertemuan.

Kuambil sisir dan mulai menyisir rambutku. Cermin seperti tak lagi menyajikan pantulan bayanganku, melainkan seperti menyajikan potongan-potongan kejadian setiap menit yang kulewatkan bersamanya. Indah. Bagiku semua itu indah.

Kuletakkan sisir, dan kembali kupandangi cermin. Kedua tanganku menopang dagu. Kunaikkan alisku, kutahan hingga mata ini terbelalak, tersenyum, lalu kuturunkan lagi. Mukaku kembali datar. Aku mencoba tersenyum lebar hingga deretan gigi putihku terlihat, masih menatap cermin, lalu aku kembali memasang muka datar.

Aku resah. Malam ini aku berjanji menemuinya. Dan aku takut dia tak bisa menerimaku. Tapi aku berusah menyingkirkan ketakutanku. Aku harus bersikap. Perasaan ini cinta. Dan aku sudah memutuskan untuk menyatakannya. Ini kali pertama aku akan menyatakan cinta yang sesungguhnya.

*
Ini suapan terakhir makan malamku, dengannya tentu saja. Setelah ini aku akan mengutarakan semuanya padanya.
"Aku nggak nyangka Wince baik banget mau bantu kamu buat ngenalin ke aku!"
"Hahahah...Iya, dapat salam dari Wince."
"Hahahah..aku baru saja mengirim sms padanya. Aku bilang, kalau aku sudah dinner, Nu, di tempat yang sesuai dengan isi suratmu yang kamu titipkan ke Wince itu!"
"Iya."
"Terimakasih ya untuk makan malamnya."
"Sama-sama. Senang bisa mengenal kamu lebih dekat."
"Iya, aku juga kok. Meski baru bertemu sekali rasanya aku sudah kenal kamu lama."
"Mmmm..."
"Kenapa Nu?"
"Mmmm...Ada yang mau aku sampaikan..."
"Apa itu?"
"Mmm...Semoga kamu tidak marah."
"Soal apa?"
"Aku ingin jujur, dan aku harap kamu bisa menerima ini semua."
"Mmm...iya, ada apa, Nu?"
"A.. aku.. "
"Kamu, kenapa dengan kamu Nu?"
"Aku...Aku mencintaimu. mmm...Maukah, kamu menikah, denganku?" Sambil terbata kusodorkan cincin bermata putih kehadapannya.
Dia terpana, namun belum menjawab.
Kutarik nafas panjang mencoba lebih siap untuk meneruskan kalimatku.
"Aku, ya, Aku hanya seorang Wisnu, dan kamu sudah mengenalku sebagai Wince selama ini. Orang mengatakan aku banci. Tapi untuk urusan hati kali ini, aku tetap laki-laki."

***
6 January 2009 8:23 pm
GaL