Thursday, January 14, 2010

#6- Tiduri Aku , Laki-laki Banci!


vi.sualize.us

Nda, ijinkan aku ketemu. Banyak hal penting yang harus aku ceritakan. Hubungi aku segera ya. Aku mengkhawatirkanmu. Wisnu

Setelah mencoba menghubungiku dan mengirimiku sms beberapa hari ini, pesan singkat inilah yang terbaru kubaca.

Kuhela nafas. Maaf Wisnu, aku sudah menetapkan hatiku untuk menjalani perjodohanku dengan Setya. Cuma butuh sehari untuk menyendiri, sejak Wisnu memberanikan diri mengutarkan isi hatinya. Lalu aku menemui Setya keesokan harinya.

*
"Minumlah Dinda."
Aku menerima segelas air sirup dingin yang disodorkannya padaku. Malam ini aku memberanikan diri datang pada Setya, hanya untuk meminta maaf hari kemarin aku mendiamkan semua sms dan teleponnya. Padahal hari kemarin banyak agenda penting menuju pernikahan kami. Tapi, aku belum cukup berani untuk menceritakan kejadian Wisnu. Biar itu aku simpan sendiri.

Aku sudah lega telah meminta maaf, dan sangat tenang karena Setya sangat berbesar hati dan tidak mempermasalahkan itu. Dia mengatakan bahwa jadwal fitting baju pernikahan dapat direschedule minggu depan. aku semakin yakin menikah dengan Setya bukan sekedar alasan perjodohan. Aku mulai mengaguminya sekarang.

Aku menegak segelas sirup ini. Meletakkan gelasnya kembali ke meja. Apartemen Setya ini kelak akan menjadi tempat tinggal kami. Ini kali pertama aku mendatangi Setya ke apartemen. Aku luluh dari rasa angkuhku selama ini. Yang tak pernah merasa ikhlas menjalani perjodohan ini.

Kepalaku terasa berat. Ada apa denganku? Setya mendekatiku, bersuara tapi aku tak mendengarnya. Bahkan wajahnya nampak berbayang di pandanganku. Berbayang lalu gelap.


Gelap


Kupicingkan mataku, silau matahari menghajar kelopak mataku yang baru terbuka sedikit. Dimana aku? Aku perlahan mencoba membuka lebar mataku dan bangkit mencoba duduk.
"Damn!"
Aku baru menyadari aku tak berbusana disamping Setya yang masih tertidur dengan pulas. Aku menangis, meraung, meratapi diri. Apa yang terjadi?!

**
Tanganku masih memegang handphone dengan tampilan pesan singkat dari Wisnu. Aku masih memikirkannya. Sekali lagi kuhela nafas panjang dan meletakkannya di meja. Meja yang sama tempat beberapa malam yang lalu aku meletakkan gelas yang akhirnya membuatku tak sadar diri.

Setya memang bejat! Tapi aku sudah kadung menetapkan hatiku untuknya. Dia sudah membuatku tak bisa bermain-main dengan hati kepada orang lain. Dia telah merebut mahkotaku. Aku merasa sudah tak bernilai, dan sangat pasrah untuk menghadapi pernikahanku dengannya. Aku tak pantas untuk siapapun termasuk Wisnu, aku hanya pantas untuk Setya lelaki dengan mental banci ini.

Aku berjalan mendekati Setya yang sedang berdiri memandang luar dari jendela yang tertutup vitarase. Cahaya kota cukup jelas menembus korden tipis itu. Aku berada tepat dibelakangnya.

"Setya," panggilku.
"Ya."
Aku diam sejenak. Aku merasa sangat kotor saat ini. Hanya pada Setya aku merasa suci. Aku ragu, tapi aku harus. aku tak dapat berpikir lebih logis dari apa yang kupikirkan sekarang.
"Tiduri aku."
Setya berbalik menghadapku. Tak mengucapkan sepatah kata, lalu ia berlalu berjalan ke belakanganku seolah meninggalkanku

Aku masih mematung, menghadap jendela yang tadi tertutupi oleh badannya. Sekarang aku menunduk. Aku yang nista meminta, dia tak menjawab bahkan berlalu. Hati ini sudah tak berbentuk. Aku mungkin hanya boneka pelengkap hidupnya.

"Aw..!" aku menjerit tertahan saat badanku terdorong lurus kedepan menabrak jendela. Setya dibelakangku, memegang panggulku, mendorongku, menghimpitku dan mulai mengecupku dari belakang.

Aku diam. Mataku terpejam. Bayangan Wisnu yang muncul dari dalam pekat sana. Ya, Wisnu yang ada di otakku.

Setya melucuti pakaianku dengan cepat. Aku masih tertahan menghadap jendela, dan diam. Setya seolah-olah menggambari badanku dengan kecupannya. Menarik garis vertikal selaras dengan tulang punggungku dan berhenti di tengkuk dengan satu gerakan pelan.

Aku mengeluh saat ia menghentikan garisnya dan menegaskannya dengan kecupan tepat di tengkukku. Disibaknya rambut panjangku yang menutupi leherku, dengan cepat tangannya membalikan badanku dan menarikku lalu menghempaskanku ke hamparan putihnya tempat menjemput mimpi.

Aku tertelungkup di atas sprei nan putih bersih ini. Setya belum selesai, dia baru akan memulai. Melukis hasratnya di badanku, melalui sapuan, belaian, hingga kecupan. Dia membuat detail disetiap inchi raga ini. Dan aku hanya diam pasrah. Mencoba menyatu tapi aku tak mampu. Bayangan wisnu jelas disana saat mata ini terpejam mencoba mengikuti alur yang Setya ,mainkan.

Sesekali aliran darah ini terasa cepat menyebar keseluruh tubuhku kala Setya mempertemukan titik demi titik menjadi garis yang malang melintang menyelimutiku. Aku tak berbicara, hanya mendesah kala Setya berhasil memberi tanda di setiap titik sensitifku. Tapi tetap hanya Wisnu yang ada di kepalaku. Aku tak berhasil menyingkirkan bayangannya meskipun sekarang aku dibawah kendali Setya.

Setya masih mengukur badanku dengan usapan tangannya yang tak jua berujung. Terus menyapuku. Aku hanya diam, tak sedikitpun aku menyentuhnya. Ini yang aku inginkan. Aku menjadi bonekanya. Dia menguasai malam ini. Karena aku sudah tak merasa berarti. Pernikahan akan kujalani, dan dia sudah mencuri start untuk memulai ini semua. Aku tak mau memusingkan Wisnu lagi, aku memilih untuk dibawah Setya. Namun sepanjang malam ini bayangan Wisnu tak bisa pudar.

Raga ini terjamahi oleh Setya. Rapi, detail dan penuh sensasi, aku terbawa suasana, namun tak sepenuhnya disana, tak menikmati. Setya menyudahi, dan aku masih membisu. Apa aku salah membuat keputusan? Aku masih tergeletak lemah disini. Aku kembali teringat apa yang diungkapkan Wisnu malam itu.

Aku, ya, Aku hanya seorang Wisnu, dan kamu sudah mengenalku sebagai Wince selama ini. Orang mengatakan aku banci. Tapi untuk urusan hati kali ini, aku tetap laki-laki.

*** Mon at 12:22pm
GaL