Friday, January 08, 2010

#2 - Dia Banci, Aku Lebih Banci!


Aku mengirimkan pesan singkat ke Wince yang telah mengatur pertemuan aku dengan Wisnu malam ini. Kurapikan rambut yang tergerai ini dengan menyibaknya kebelakang. Aku senang malam ini. Sangat senang. Wisnu banyak bercerita, dan aku sangat nyaman bercerita dengannya.

Wisnu nampak membaca pesan singkat yang masuk ke handphonenya. Aku tak begitu ambil pusing, aku sibuk menata rambut ini yang sedari tadi tertiup angin. Dia nampak terburu-buru menyelesaikan suapan terakhirnya.

“Aku nggak nyangka Wince baik banget mau bantu kamu buat ngenalin ke aku!”, AKu membuka pembicaraan setelah dia menyimpan handphonenya kedalam saku.
“Hahahah…Iya, dapat salam dari Wince.” jawabnya singkat.
“Hahahah..aku baru saja mengirim sms padanya. Aku bilang, kalau aku sudah dinner, Nu, di tempat yang sesuai dengan isi suratmu yang kamu titipkan ke Wince itu!”
“Iya.”
“Terimakasih ya untuk makan malamnya.”
“Sama-sama. Senang bisa mengenal kamu lebih dekat.”
“Iya, aku juga kok. Meski baru bertemu sekali rasanya aku sudah kenal kamu lama.”
“Mmmm…”
“Kenapa Nu?”
“Mmmm…Ada yang mau aku sampaikan…”
“Apa itu?”
“Mmm…Semoga kamu tidak marah.”
“Soal apa?”
“Aku ingin jujur, dan aku harap kamu bisa menerima ini semua.”
“Mmm…iya, ada apa, Nu?”
“A.. aku.. “
“Kamu, kenapa dengan kamu Nu?”
“Aku…Aku mencintaimu. mmm…Maukah, kamu menikah, denganku?” Wisnu terbata tapi pasti menyodorkan cincin bermata putih kehadapanku.
Aku terdiam, tak menjawab. Aku tak siap.Semntara Wisnu mencoba mengatur nafas, ya, dia nampak grogi sekali, tapi aku jauh lebih kaget dengan semua ini. Dia meneruskan kalimatnya.
“Aku, ya, Aku hanya seorang Wisnu, dan kamu sudah mengenalku sebagai Wince selama ini. Orang mengatakan aku banci. Tapi untuk urusan hati kali ini, aku tetap laki-laki.”
"Apa?!!!"
Dia terdiam.
"Wince is Wisnu, Wisnu is Wince?!" Aku berteriak, kurasa orang di halaman restoran ini mendengar apa yang kuucapkan barusan.
Aku terdiam, menangis. Mengambil tasku dan berlari meninggalkan Wince yang berpenampilan maskulin malam ini.

*
Mataku masih sembab. Aku masih tak percaya. Wince adalah orang yang kuanggap karibku menjelang hari pernikahanku. Ya, satu bulan terakhir aku mempercantik diri ke salon demi hari besarku yang akan berlangsung satu setengah bulan lagi.

Kulirik tumpukan undangan diatas meja. Ya, bahkan undangan pernikahanku sudah tercetak. Dan malam ini, aku dilamar dengan orang yang diberi predikat banci oleh lingkungan sosialnya. Aku masih mematung. Diam. Tak percaya. Aku sangat nyaman berada di dekat Wince. Sangat nyaman. Tapi saat dia hadir sebagai Wisnu dan melamarku, aku bukan merasa nyaman, aku ketakutan!

Wisnu,
Wince.
Satu jiwa di dalam dua penampilan berbeda. Satu jiwa. Iya satu jwa. Wisnu adalah Wince, Wince adalah Wisnu.

Otakku tak hanya terus mendengungkan dua nama itu, melainkan juga nama Setya. Calon suamiku. Pikiranku melayang pada kala pertama aku berkenalan dengan Wince dan banyak momen percakapan kami yang sangat berharga menurutku.

*
"Halo jeungg..."
"Mmm , hai.."
"Silahkan jeung, mau apa nih? Potong, Creambtah, Lulur, Keriting? Ouuuww... kaki yey bagus banget sihhh.... mulus gitu...bagus banget ma rok mini yang yey pake ciinnn..."
"Ow, makasih" aku kikuk didepan banci salon yang satu ini.
"Jadi, mau apa nih? Kayanya rambut yey kudu di spa deh. yuk cin, gue kerjain. yuk mari sindang!"
Dengan ramah banci ini menggeretku kedalam dan langsung mengerjakan rambutku.

*
"Namanya Setya , Ce."
"Oww... macho pasti, hihihihi.."
"Bisa aja lo.."
"Namanya ajahh ude keren cyinnn"
"Tapi..."
"Ih, apanya yang tapi?"
"Gue dijodohin ma dia, Ce."
"Astaga naga bonar jadi duaaaaaaaaaaaaaaaa!!!"
"Paan sih Ce..."
"Lo bilang apa tadi? dijodohin? di J-O-D-O-H hin?!!" Wince histeris.
"Iya."
"Lo sebenernya nggak suka gitchu ma diana?"
Aku menggeleng. Dan diam.
Wince tak bersuara. Tangan Wince kali ini memijat bahuku. Ya, kali ini perawatan yang kulakukan adalah creambath. Ini kali ketiga aku bertandang ke salon ini. Semua ini demi hari pernikahanku. Dan ini semua atas perintah Setya. Mungkin ada yang lain, ya aku butuh teman bicara seperti Wince.


*
Suara ringtone handphoneku membuyarkan kenangan pertemuan-pertemuanku dengan Wince.

Setya Calling

Aku tak mengangkatnya. Kudiamkan telepon genggamku yang terus berteriak minta diangkat. Berkali-kali hingga mati. Aku sedang tak ingin berkomunikasi.

Handphoneku berbunyi lagi, kali ini bersuara lain, Ya, ringtone ini adalah khusus untuk nomer Wince. Aku yang biasanya bersemangat untuk merumpi setiap menjawab panggilan masuk darinya, tidak untuk kali ini. Sama seperti tadi, aku mendiamkan telepon genggamku.

Biarlah kali ini aku yang dikatakan banci. Tak punya nyali. Tak berani menghadapi keduanya. Aku butuh waktu, sendiri.
***
7 january 2010 4:18pm
GaL