Saturday, January 09, 2010

#3- Laki-laki Bermuka Dua itu Banci!

thumbs.dreamstime.com

Kuhisap rokokku, dan kuhembuskan membiarkan kepulan asapnya melayang bersama pikiranku. Kotak rokok dihadapanku sudah kosong, ini rokok terakhirku. Malam ini rasanya semakin sunyi. Semakin aku tak bisa memaknai.

Masih terngiang-ngiang suaranya yang dengan histeris “Wince is Wisnu, Wisnu is Wince?!”. Malam ini aku menggoreskan kekecewaan nampaknya. Padahal hari-hari sebelumnya semua terasa indah, meski aku dikenal sebagai Wince ketika berada di sampingnya.

Keputusan aku sudah bulat. Berhari-hari sejak berkenaan dengannya membuatku terpuruk. Ya terpuruk dan menyadari ketiadaanku sebagai hambaNya. Malam-malamku tidak hanya diresahkan bayangannya, perempuan cantik yang sedang menghitung hari menuju pernikahannya, melainkan juga dengan suara hatiku. Aku mencoba mendengar dan memahami kata hatiku. Aku menghabiskan malamku di atas sajadahku yang sudah lama tak kugunakan. Aku sadari, aku harus menetapkan hatiku. Untuk kembali menjadi laki-laki dan meminangnya.

Kuhembuskan lagi asap dari rokokku. Malam ini, aku semakin terbebani dengan reaksinya tadi. . Ini resiko aku. Aku harus bisa memahami dia. Bukan keputusan mudah untuk menjawab permohonanku tadi.

Kuambil handphoneku dan memanggil satu nomor. Aku hanya ingin menenangkannya. Kutunggu sampai dia mengangkat. Tapi hingga nada sambung terhenti berkali-kali aku tak mendengar suaranya menjawab teleponku. Aku frustasi, kuletakkan kembali handphoneku. Dia butuh waktu. Pasti dia masih ingin sendiri.

Aku bukan ingin jadi pahlawan kesiangan. Tapi aku berharap ada di waktu yang tepat untuk melamarnya. Ceritanya tentang perjodohan membuat aku semakin tersentuh dan dia membukakkan mata hatiku untuk kembali menyadari kelaki-lakianku. Tidak lagi terjebak dalam raga dan penampilan banci.

Rokokku sudah habis. Kumatikan api di putung rokok ini di atas asbak. Kutekan-tekan dengan kesal. Ya, aku ingin dia bahagia denganku, bukan dengan Setya. Pria yang diagung-agungkan keluarganya dan memaksakan hati mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Shit! Seorang Setya! Tak lebih dari seorang pecundang. Dia yang banci bukan aku! Otakku kembali teringat percakapanku dengannya di pertemuan ketiga kami.

*
“Namanya Setya , Ce.”
“Oww… macho pasti, hihihihi..” aku sedikit tercekat mendengar nama Setya, tapi aku berusaha bernada netral.
“Bisa aja lo..”
“Namanya ajahh ude keren cyinnn”
“Tapi…” dia ragu meneruskan kalimatnya.
“Ih, apanya yang tapi?”
“Gue dijodohin ma dia, Ce.”
“Astaga naga bonar jadi duaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” aku benar-benar terkejut kesekian kali.
“Paan sih Ce…”
“Lo bilang apa tadi? dijodohin? di J-O-D-O-H hin?!!” aku histeris.
“Iya.”
“Lo sebenernya nggak suka gitchu ma diana?” tanyaku berhati-hati.
Dia menggeleng lemah lalu diam.
Aku tak bersuara juga dan tanganku meneruskan proses creambath dengan memijat bahunya. Pikiranku tidak tenang. Satu, mendengar nama Setya. Dua, dia dijodohkan dengan Setya!

*
"Makasih ya Ce...."
"Iya Dee nekkk..."
Dia berlalu dari depan pintu salon bersama lelaki calon suaminya, Setya. Baru kali ini Setya datang menjemputnya, dikali ketiga dia datang untuk perawatan jelang pernikahan kesalon ini. Tak salah, Setya adalah orang yang kukenal dari temanku, Semmy.

*
Aku geram mengingat pertemuanku dengan Setya meski sekilas. Kuremas kotak rokokku, kesal. Malam ini masih sunyi dan aku masih memikirkannya yang tak menjawab teleponku.

Drrttt drrttt....
Handphoneku bergetar, memecah pikiran kalutku.

1 Message received
Semmy-Syamsul
Bok, hancur hati gue! Lekong gue mau nikah ma perempewi beneran. Gue disia-sia, setelah dia menikmati hari-harinya ma gue, melampiaskan nafsunye ke gue! Laki-laki sialan! Kesel gue kesel!

Kubanting handphoneku. Setya memang tak berhak menikahi Dinda! Tidak! Setya, laki-laki banci! Bermuka dua! Dinda tak boleh bersanding dengan Setya!

***
11:29am 8 January 2010