Thursday, January 14, 2010

#5- Laki-laki Sekong

gettyimages
gettyimages

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, Cobalah beberapa saat lagi

Kumatikan panggilan keluar dari handphoneku. Ini sudah memasuki hari keempat dan sudah kesekian kali dalam hari ini aku coba menghubunginya. Ya, nyaris genap seminggu dari hari aku melamarnya. Tapi rupanya Dinda masih ingin sendiri.

Sedikit frustasi kuletakkan handphoneku diatas meja kerja ini. Aku sekarang fokus dengan usahaku sendiri. Tak lagi menjadi capster di salon yang biasa dikunjunginya satu bulan terakhir. Hari dimana aku melamarnya, aku resmi berhenti bekerja di salon itu. Seiring dengan keuptusanku untuk kembali menjadi Wisnu menanggalkan nama Wince yang sudah nyaris 5 tahun aku sandang.

Aku sudah siap memulai babak baru hidupku dengan usaha butik ini. Meski baru jalan 3 hari pesanan baju sudah berdatangan. Mereka adalah pelangganku saat bekerja di salon.

Dinda belum tahu usaha terbaruku ini, dia belum mendengar penjelasanku soal Wince dan Wisnu. Dia belum tahu apa yang terjadi. dia tak tahu apapun fakta yang sedang mengelilinginya sekarang. Yang dia tahu hanya Wince is Wisnu, Wisnu is Wince, Titik. Dan Setya adalah calon suaminya, titik. Dan dia dijodohkan, titik.

Aku harus menemuinya segera. Aku harus menyelamatkannya dari Setya, Laki-laki yang lebih pantas dipanggil banci karena kemunafikannya! Laki-laki yang melukai perasaan sahabatku, dan juga akan melukai Dinda,pasangan jiwaku. Aku tak bisa membiarkan Dinda teraniaya nantinya oleh laki-laki banci itu!

Aku mencoba melakukan panggilan lagi ke nomer Dinda. Namun lagi-lagi jawaban yang sama yang aku terima. Semua pesan singkatku juga dalam posisi pending, bahkan failed. Nomor dia tidak aktif. Aku masih geram, teringat kejadian beberapa malam yang lalu.

*
Ting…tong..
Kutekan bel rumah kontrakan Semmy. Aku menyegerakan diri datang untuknya setelah menerima pesan singkatnya yang mengatakan bahwa Setya akan meninggalkannya.
Pintu terbuka.
“Wi..wince??” Semmy terbata-bata menyambutku.
Matanya terbelalak melihatku yang masih terdiam didepan pintu. Matanya menjelajahiku dari ujung kaki ke ujung kepala kembali ke ujung kaki. Semmy belum tahu apa-apa soal ketiadaan Wince.
“Panggil aku Wisnu , Sem. Boleh aku masuk?”
Semmy hanya terbengong-bengong namun tangannya mendorong pintu agar lebih lebar terbuka untuk mempersilahkan aku masuk.

*
“Begitulah ceritanya, makanya gue datang untuk ceritain semua ke elo Sem. Bantu aku juga untuk Dinda. Aku tak ingin Setya memperlakukan dia seenaknya dibalik kedok perjodohan, Sem.”
Aku menutup ceritaku tentang keputusanku, Dinda, dan soal Setya. Setelah Semmy sebelumnya sudah menuangkan semua isi hatinya soal Setya.

Lalu kami berdiam sesaat sambil terduduk di ruang tengah ini. Mata Semmy masih sembab ia memandangiku tak percaya. Dia mencoba mengatur nafasnya. Aku tahu ini kenyataan berat dan rumit. bukan hanya untuk dia, tapi untukku juga.
“Ce…”
“Wisnu, Sem. Panggil gue Wisnu.”
“Sory.. “
“Thanks.”
“Nu…akika pasti bantu yey. Akika tinta tau kalo diana mawar kawilarang bok. Apalagi kalo perenya ternyata ude deket ma yey dan yang ngebuat yey punya keputusan berani begindang. Dasar Setya! Lekong jadi-jadian juga! Sekong eyke, sekongggg!”
Aku tersenyum, Semmy marah tapi tetap menggunakan bahasa khasnya.
“Gue sementara belum bisa hubungi dia, si Dinda. Dia butuh waktu kali ya. Kalau sudah bisa kontak, gue hubungi lo buat nemenin gue nemuin diana ya.”
“Yuk cinn… pasti akika bantu!”

**
Suara dering telpon membuyarkan lamunanku.
“Halo.”
“Haiii Wisnuuuu…”
“Eh, Sem… “
“Apa kabar yey?”
“Baik.”
“Sutra ada kabar dari diana belom?”
“Belom.”
“Sabar ye cin… Nanda juga bakal jelas sapose sebenernya yang bences, cuih! Setya lekong sekong!”
Aku tertawa. “Iya Sem, thanks. Doain aje.”
“Yasut ya cyin akika mawar neglayani organ dulu niyy..uda ngantri bok. Deee nekk”
“dee…”
Semmy selalu menghubungiku menanyakan perkembangan Dinda. Masih duduk di meja kerjaku, diluar sana pelangganku sedang fitting baju ditemani asistenku. Aku belum bisa berkonsentrasi melayani pelangganku. Kubiarkan asistenku yang menghandle semua. Aku mencoba menghubungi lagi nomor Dinda.

Tuuutt… tuuut….

Kali ini terdengar nada sambung. aku panik, senang, entahlah campur aduk. Dan mempersiapkan kalimat apa yang akan kuucapkan. Nada sambung terhenti, bukan diangkat melainkan mati. Dinda belum sudi menjawab teleponku barangkali.

Laporan pesan terkirim masuk bertubi-tubi ke inboxku. Ya aku mengirmkan pesan singkat saja. Dinda pasti membacanya.

Nda, ijinkan aku ketemu. Banyak hal penting yang harus aku ceritakan. Hubungi aku segera ya. Aku mengkhawatirkanmu. Wisnu
***
10 January 2010 || 2:15pm
GaL