Thursday, January 21, 2010

#11- Doakan Kami




“Obatnya hanya hamil dan punya anak, itu yang bisa menyembuhkan endometriosis anda, Itu yang dokter sampaikan ke aku.”

"Arrghh, kita bicarakan itu besok-besok saja!" AKu membentaknya.

"Aku berusaha berterus terang denganmu Setya. Kamu mulai tak peduli denganku. Kamu suruh aku urus semua persiapan pernikahan sendiri, bahkan kamu nggak nanya gimana hasil aku periksa ke dokter!"

Aku diam tak menjawab lalu mengenakan jaket.

"Ka.. kamu mau kemana Ya?"

"Aku ada urusan!" Aku bergegas mengambil kunci mobil dan dompet.

"Kamu belum sembuh! Jangan kemana-mana dulu " Dinda berusaha mencegah.

Baru saja dia marah-marah, dan sekarang dia berusaha menunjukkan kepeduliannya padaku dengan mencegahku. Perempuan aneh, bahkan dia rela menyempatkan datang menjengukku yang sedang memulihkan diri dari luka dan memar keparat ini.

AKu tak menghiraukannya.

"Setya!"

"Dinda! Kamu nggak usah banyak bicara! Belum jadi istri saja kamu sudah banyak mengatur!"
Aku berlalu meninggalkannya sendiri di kamar

*

"Sekali lagi gue bilang, NGGAK ADA YANG PERCAYA!"

Aku sudah kesal dengan ulah wanita jadi-jadian ini. Dia mau menghancurkan semua rencana pernikahanku. Cemburu berlebihan. Satu tusukan membuatnya bungkam. Wanita jadi-jadian yang malang, Huh. Mengapa kau baru menyadari dengan siapa kau berurusan!

"Terimakasih atas materi dan semuanya!" AKu berbisik pelan sebagai ucapan selamat tinggal padanya.

Kutinggalkan Syamsul alias Semmy yang mulai terkulai bersimbah darah. AKu berjalan cepat menuju ujung gang. Aku memutuskan tidak langsung meninggalkan TKP. Aku harus bersembunyi dulu. Kurasa aku disini dulu sejenak. AKu mengatur nafasku.

Dari balik tembok di ujung gang aku duduk dan menyalakan rokokku. Memperhatikan TKP. Orang mulai ramai mendatangi. Sial! Banyak sekali banci mengerebuti Semmy. Aku masih menikmati pemandangan drama didepanku. Semua orang mengelilingi Semmy yang aku yakin sebentar lagi akan menghembuskan nafas terakhrinya.

Keparat!!

Apa yang dilakukannya disana? AKu mematikan rokokku dengan geram. Dia bersama seorang laki-laki?! Siapa lagi yang akan berurusan denganku?! Lelaki yang tengah menggandeng tangannya itu? Mengapa ada perempuan sialan itu! Apa korelasi Dinda dan laki-laki itu. Aku memicingkan mata memastikan siapa gerangan laki-laki itu.

Kukirimkan pesan singkat padanya.

Dinda, kamu dimana? Temui aku di kafe biasa sekarang!

Drrttt drrttt

1 Message received
Dinda
Aku nggak bisa


*

"Waktu anda setengah jam saja saudara Setya!"

Ini sudah genap 1 bulan aku mengenakan seragam. Ya, seragam. Semua orang disini menggunakan baju yang sama. Dan hanya ada dua golongan disini. Golongan tahanan dan golongan pengurus tahanan. Seperti sipir yang baru saja mengantarkanku ke ruangan ini.

"Hai Setya."
Aku tersenyum kecut. Perempuan ini masih sama, belum banyak berubah. AKu memandanginya dari balik kaca lengkap dengan teralis. AKu hanya diijinkan berkomunikasi dengan pembatas seperti ini.

Dibelakang Dinda, tampak Semmy. Dia sudah sehat, dia masih terselamatkan dari luka tusukanku dulu.
"Hallo bok... Apa kabar yey? Tinta endang pasti ya di dalam sindang, hiiiyy..." Gaya khasnya masih sama, dengan kipas centilnya dan baju yang seksi.

"Apa kabar kamu?"
Kali ini giliran laki-laki ini yang menyapaku dan mengulurkan tangannya. Aku menjabatnya. Laki-laki yang tadinya banci seperti Semmy, kali ini tampak gagah menemani Dinda menemuiku. Tidak seperti sebelumnya saat aku menjemput Dinda di salon tempat dulu ia bekerja. Dia nampak sangat gemulai.

AKu ingat, malam saat kejadian, sebelum aku tertangkap, aku sempat memicingkan mata demi mencari tahu siapa gerangan laki-laki yang bersama Dinda. Aku masih tak berkata apa-apa kepada mereka.

"AKu minta maaf, Setya. Dan aku sudah memaafkan kamu jauh sebelum aku meminta maaf."
Dinda berkata seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat keemasan.

"Doakan aku, kami akan menikah."

Kupandangi amplop yang sudah berada ditanganku

UNDANGAN

Menikah
Permata Dinda dan Wisnu Pamungkas


:::THE END:::


***