Sunday, January 17, 2010

#8- Dua Pesan Singkat




"Halo." suara wisnu terdengar berat di seberang sana, aku sudah mulai terbiasa tak mendengar nada centil lagi dari dia.
"Haiii Wisnuuuu..."
"Eh, Sem... "
"Apa kabar yey?" tanyaku
"Baik."
"Sutra ada kabar dari diana belom?"
"Belom." jawabnya singkat dan terdengar frustasi.
"Sabar ye cin... Nanda juga bakal jelas sapose sebenernya yang bences, cuih! Setya lekong sekong!"
"Iya Sem, thanks. Doain aje." Wisnu tertawa renyah.
"Yasut ya cyin akika mawar ngelayani organ dulu niyy..uda ngantri bok. Deee nekk"
"dee..."

Kututup teleponku. Perasaan ini semakin membuncah rasanya ingin menjambak Setya lekong sekong itu! Enak saja dia bermain-main denganku sementara sudah ada perempuan yang jelas-jelas akan dinikahinya. Sangat tak rela bila ingat berapa banyak materi yang aku relakan saat menghabiskan waktu bersamanya. Setya emang sekong!!!!

Aku masih menggenggam erat handphoneku. Terus merenung. Wisnu datang di saat yang tepat. Aku bangga atas sikap Wisnu. Aku harus membantu Wisnu. Ya, aku harus membantu Wisnu. Biarkan Wisnu berurusan dengan Dinda dan menjelaskannya, Setya adalah jatah gue!

"Semmmonggg!!!"
Panggilan temanku mengagetkanku.
"Iyee nekkkk..."
"Cusss cin... ada yang mo krembi tuhhhh..."
"Iye..."
Aku bergegas meninggalkan handphoneku menuju pelangganku.

*
"Nih bok, eyke kirim sms ke Setya, lihat deh."
Aku menunjukkan kotak keluar dari handphoneku.

Gimana luka lo,Banci? Banci yang malang. Kalo lo masih mau dipanggil laki-laki, temuin gue jam 9 malam di belakang gedung klub lo biasa nongkrong! Sendiri! cu, banci!

"Bisa banget lo, banci lawan banci donk Cin." Wisnu berkelakar.
"Biar Setya diabisin banci-banci yang sekong hatinya gara-gara ulahnya. Akika bukan satu-satunya ye cin. Banyak bener bibir-bibir banci yang ude diana cumi! jijay markijay deh! Hih!"

Wisnu tertawa . Tanganku masih sakit. Meski hanya mendaratkan dua pukulan pada badan Setya tapi tangan cantikku ini tetap tak menerima begitu saja.

"Ouchhh kuku eyke ancur Nu!!"
"Lagian elo nekad juga."
"Tapi akika yakin kok Nu, desse nggak liat eyke. Taman parkir itu gelep cyin! Dan diana tinta siap bok! Ihhhh eyke seneng banget, eyke bisa ninju desse!!! Padahal tadinya eyke mo jambak-jambak rambutnya Nu!!"
"Dasar benconggg! Pukulan lo ude bagus tuh! Make acara mo ngejambak pula... Bisa aja lo Sem!" Wisnu tertawa.

Kuseruput secangkir kopi di hadapanku dan meneruskan ceritaku.
"Abis eyke kesel! Tinta tau juga lah nek, akika bisa berani juga mukul diana. Hihihihihi..."
"Cukup jantan Sem..."
"Ih gilingan ye... gini-gini kan eyke sadar pernah jadi laki bok!"
"Masih laki juga kale!!" timpalnya.
Aku tertawa, tanganku mengetik pesan singkat.

Wisnu bersuara "Dinda semakin mendekati hari pernikahannya. Aku belum juga medapat kabar dari dia Sem."
Aku hentikan aktifitasku mengetik sms. "Tuhan itu tinta pernah tidur Nu. Percaya deh. Sekarang yey kudu fokus ma Dinda. Setya biar urusan eyke. Oke?"
Sejenak kami berdiam. Hanya suara keypad handphoneku yang mengisi kesunyian kami.

Handphone Wisnu berbunyi. Wisnu membaca tulisan di layar telepon genggamnya. Aku memperhatikan mimik Wisnu yang berubah, senang yang tanggung. iya senang tapi tertahan.

"Sem! Dinda!!! Ini Dinda yang mengirim sms!"
Ditunjukkannya padaku pesan singkat di kotak masuknya.

Dinda
Nu, maafkan aku baru membalas smsmu. Ini tidak gampang bagiku. Kapan kita bertemu? Aku juga harus bertemu denganmu.


***

 Thu at 12:03pm