Monday, January 18, 2010

#9- Hamil?



Lagi-lagi 1 panggilan tak terjawab di handphoneku. Nama Wisnu tertera disana. Aku masih tak mau menjawabnya. Aku masih tak bisa memahami keinginanku sendiri.

Tuhan!
Aku ingin berteriak! Setiap hariku hanya seperti mengulang adegan yang sama. Memandangi undangan yang sudah tercetak dan tersusun rapi di sudut meja. Namaku dan nama Setya sudah terukir disana. Aku memang tak pernah sudi akan bersanding dengannya. Hanya menuruti perintah Ayah yang sangat diktaktor.

Masih ingat malam itu, bahkan aku masih ingin mencoba bermain-main hati mencoba mengenal laki-laki lain. Ya, Wisnu yang direkomendasikan Wince, yang ternyata adalah orang yang sama. Wince sangat menemaniku. Sangat mengerti aku. Disela-sela perawatan yang kulakukan di salon selalu ada cerita dan curahan hatiku padanya. Ya, dia adalah Wisnu.

Ya malam itu, diri ini bimbang saat Wisnu tiba-tiba melamarku. Ia tak main-main. Sorot matanya mengatakan itu. Aku berharap punya pilihan tapi aku tak siap mendengar permohonan itu dari seorang yang dihari sebelumnya masih kulihat dengan rambut palsu dan payudara palsunya!

Tapi aku hanya butuh sehari untuk bimbang saat itu. Menemui Setya dan meminta maaf adalah jawaban dan keyakinan. Aku menghela nafas. Teringat beberapa malam yang lalu , aku dijebak. Manisnya perkataan dan perlakuannya yang telah membuatku kembali simpati dihitamkan dengan ulahnya. Keangkuhanku terhadap Setya runtuh seketika saat aku sudah didominasi olehnya. Ya aku memasrahkan diri saat hati ini terombang-ambing bimbang.

Air mataku kembali bergulir. Aku tak punya pilihankah saat ini? Tapi wajah Wisnulah yang selalu mengusik malam-malamku. Bahkan setiap detik waktu berlalu aku risau, karena aku belum menemuinya. Aku belum memberi respon atas lamarannya. Aku tak tahu kabarnya nyaris seminggu ini.

Dddrttt drrrtt
Nda, besok uruslah sendiri semua persiapan pernikahan kita. Aku sedang sakit.

Kutekan panggilan keluar dengan segera, terdengar nada panggil dan tak lama suara Setya terdengar, lirih.
"Ya.."
"Sakit apa kamu Ya?"
"Ah, aku hanya sedikit luka. Memar juga."
"Ha?Kamu kenapa?"
"Aku diserang. Ah sudahlah. Besok jangan menghubungiku, selesaikan urusan pernikahan kita sendiri."
"Tapi Ya... Gimana ceritanya? Kamu baik-baik saja?"
"Sudahlah!" ia membentak dan tak lagi kudengar apa- apa dari seberang hanya suara nada panggilan yang terputus.

*

Aku menunggu di ruang tunggu ini sendiri. Dinding putih disekelilingku ini sangat angkuh , dingin, sangat tak bersahabat. Disana ada seorang wanita muda sedang hamil bersama ibunya. Disisi lain seorang wanita hamil besar bersama suaminya. Butuh nyali untuk duduk disini.

Aku? Ya aku sendiri. Setya sedang sakit tak bisa menemaniku. Aku menyingkirkan kebosananku dengan membaca majalah. Sedikit tak berselera kubolak-balik majalah ini. Disini hanya ada majalah mengenai kehamilan, keluarga, mendidik anak. Kututup kesal majalah ini.

Aku tak punya pilihan lain, datang untuk memeriksakan diri, seorang diri. Aku menderita, sangat menderita. Pikiranku masih melayang-layang pada Setya. Nasibnya yang kesakitan. Entah apa yang terjadi padanya.

Lalu, Wisnu. Hufff... aku masih memikirkan dia. Sangat memikirkan dia. Kenapa pikiran aku dipenuhi dengan bayangan wajahnya? Semua cerita-cerita lucu kami selama di salon. Aku sedih. seidh berada di titik dilema seperti ini.

Aku harus menikah, itu kata orang-orang disekelilingku. Tapi apa harus dengan dijodohkan? Tidak bisakah aku mencari sendiri? Aku masih tak bisa memahami perasaan sendiri.

"Permata Dinda!" Namaku sudah dipanggil.

Dokter tak berlama-lama lalu mempersilahkan aku berbaring untuk diperiksa.
“Kita coba USG ya mbak”
“Baik Dok..”
Ini kali kedua aku melakukan USG. Aku hanya memastikan kali ini. Aku berbaring dan suster menyiapkan alat USG disampingku. Dokter datang dan mulai memeriksaku. Tidak ada rasa sakit bila hanya USG. Hanya kau butuh penglihatan dan pemahaman lebih cerdas untuk bisa membaca layar seperti dokter.

Dokter tidak banyak berkata apa-apa selama menggerakkan alat USG diseputaran perut bgaian bawahku. Suster datang kembali, membantu aku membersihkan sisa gel di perutku dan merapikan semua peralatan USG ke posisi semula.


“Jadi Dok?”
Dokter menuliskan sesuatu pada lembaran resep masih tak merespon pertanyaanku. Yap dia telah selesai.
“Jadi dok?” aku mengulangi pertanyaanku.
“Sama siapa kemari?”
Mengapa dia malah balik bertanya?
“Sendiri ,dok”
“Punya pacar?”
Aku mengangguk
“Segeralah menikah”
Jawaban yang cukup menohokku. Selama ini aku hanya membaca dari buku atau internet, dan sedikit tertekan. Kali ini aku mendengar solusi ini langsung dari seorang dokter.


“Obatnya hanya hamil dan punya anak, itu yang bisa menyembuhkan endometriosis anda”

***
Fri 15 Jan 2010 at 5:13pm
GaL