Wednesday, December 09, 2009

Aku untukmu, Bu.


"Gelep banget disini!"
Aku mulai gerah.
"Ah..panas banget! "
Aku mulai mengeluh dan meracau sendiri. Padahal aku tak sendiri, kami berlima terkurung di tempat ini. Tapi aku tak sudi berbicara dengan mereka. Aku ini jauh lebih bernilai, penampilanku jauh lebih menarik. Jadi aku tak mau disetarakan dengan mereka.

Mereka menatapku tajam, aku yakin sorot mata mereka menyatakan ketidaksukaan teramat sangat padaku. Aku memang baru saja tiba di tempat ini dibandingkan mereka. Tak peduli, aku lebih baik dengan lamunanku tanpa bercakap-cakap dengan mereka.

Tiba-tiba sinar matahari menerangi tempat ini. Hanya sebagian ruang, tetapi cukup memberi pencahayaan. Aku berusaha menarik perhatian agar siapapun itu yang membuka ruangan ini dapat mengeluarkanku darisini. Segera.

"Yes!"
Aku berhasil lebih dulu terbebas dari ruang pengap dan gelap itu dibandingkan keempat rekanku. Udara diluar sangat segar. Rasanya seperti tahunan tak menghirup udara seperti ini, padahal aku baru sekitar 2 jam ada di dalam ruangan itu.

"Ouch!"
AKu terjatuh dan terguling di permukaan aspal hitam nan panas. Sakit rasanya! Bila keluar dari ruangan tadi hanya untuk terjatuh, aku lebih baik memilih diam meski dalam gelap. Untung aku masih baik-baik saja..meski panas aspal ini seperti menikahiku seketika. Badanku menjadi panas.

Matahari terik menambah panas suhu badanku yang tergeletak di aspal. Tiba-tiba aku merasa melayang.
"Hei, aku melayang!"
Aku menjerit dan benar rasanya aku mendekat dengan langit, merasakan angin. Terdengar suara siulan yang mengiringi aku melayang. Tapi..lalu aku merasa pusing. Aku berputar-putar dan melayang. Sekelilingku tak lagi indah. karena yang kulihat dalam keadaan terbalik dan berputar tak jelas.
"Pusing! Ada apa ini???"

Belum berhenti juga sekelilingku dalam keadaan berputar-putar tak jelas. Apa yang terjadi?? Hup. Dan mengapa sekarang menjadi gelap lagi? Ada yang salah dengan pandanganku? Gelap kali ini berbeda dengan ruangan tadi.

Lama aku merasakan gelap. Tapi permukaan tempat aku merebah sangat empuk. Dan aku nyaman.
"Aw!!"
Baru saja aku menyatakan nyaman seperti dalam pelukan, tiba-tiba aku tergencet. Beri aku ruang!!! Aku tak bisa bernafas!! mengapa semua sisi ruang ini mendekatiku?? Kudengar suara tawa keras sekali, seakan puas melihat penderitaanku.
"aaaaaaaaaaa...."
Aku berteriak dan tiba-tiba merasa berayun-ayun lalu melambung dan mendarat, terhempas.

Kali ini sekelilingku terang. AKu seperti sakit jiwa. Apa yang kurasakan sedari tadi? Aku masih tak bisa paham dengan diri sendiri. Sakit, aku terhempas lagi. Aku baru tersadar, aku bertemu dengannya. Iya si dia salah satu penghuni ruang gelap bebrapa jam yang lalu. Tapi mengapa kali ini dia beramai-ramai? tidak hanya berempat!

Aku masih tak sudi menegurnya. Ini jauh lebih tragis. Aku masih yang paling menarik, bukan dia dan teman-temannya yang jumlahnya banyak itu. Disini berisik sekali! Aku bahkan tak bisa menangkap pembicaraan orang-orang ini. Dan aroma makanan tercium sangat jelas.

Mengapa suara orang ini memelas sekali? MAsih ada orang mengeluhkah di jaman sekarang?
"Aw!!!"
Aku lagi-lagi tehempas. Ow..ini gempakah? mengapa aku terguncang-guncang!! Ini tidak nyaman!!!!
Terguncang dan lagi-lagi berputar cepat sangat cepat. Dan jatuh lagi.
"Awwwwwwwwww!!!"
Kali jeritanku disusul juga dengan jeritan sama dalam jumlah suara yang lebih banyak.

Dimana aku, ini ruang berkaca. Dan kutatap sekelilingku. Kali ini aku bersama dalam jumlah yang sangat banyak lebih banyak dibanding di ruang gelap maupun di tempat yang sangat ramai itu tadi.

Kali ini, aku merasa sama. Banyak dari mereka yang kuperhatikan sama denganku. Iya aku sama dengan mereka.

Diluar sana tampak orang bercakap satu sama lain. Satu orang nampak sangat cantik lengkap dengan makeupnya memegang mic, Satu lagi adalah yang tadi membawaku terguncang-guncang, berpenampilan kumuh, berkulit kelam, dan memegang gelas plastik.
Sayup-sayup aku menyimaknya
"Jadi ibu tadi berlari-lari untuk memasukkan koin ini kemari?"
"Iya.. ta..tadi saya baru dapat di... di tempat makan si..situ mbak." Terbata-bata dia menjelaskan dan menunjuk warung-warung tenda diluar gedung tempat makan orang perkantoran.
"Mengapa ibu melakukan ini?"
"Meski rakyat kecil, ennn.. enggak punya uang banyak.. tapi.. sa.saya punya hati mbak."
"Pemirsa, inilah potret dimana hati berbicara menghadapi keadilan di negeri ini. Seorang ibu yang tunawisma yang berniat baik membantu Ibu Prita. Jangan kemana-mana, masih banyak berita menarik setelah jeda berikut.Tetaplah bersama kami."
Mereka berjabat tangan.

"Aku untukmu, Bu" Aku bergumam memandangi diriku yang berkilat dengan angka 1000 tercetak pada badanku.
Kupandangi ruang kaca tempat aku sekarang berkumpul dengan koin lainnya. Diluar sana tertulis :
Koin Peduli Prita