Wednesday, December 23, 2009

Sampah



"Pulang bang?" aku menyapa Bang Alim, seorang pendatang dari Jawa yang sudah cukup lama tinggal di kampung ini.
"Iya, mari" Dia menjawab sambil mengangguk ramah.
"Kerja dimane sih Bang!". Aku berteriak.
"Proyek di Kali Baru situ. Mari, saya duluan ."
"Oooo...iye iye.. kagak ngopi dulu?"
Dia menggeleng dan berlalu.

*
"Ow, jadi itu proyeknya pemerintah ye?" tanyaku.
"Iya bang. Di kali itu, sudah dua minggu ini." Dia meneguk kopinya sampai habis.
"O.. ya ya ya.. lumayan pan ye, ada kerjaan situ."
"Iya bang. Mari ya, saya duluan."

*
"Mari bang Somat..."
"Eh, iye iye... silahkan bang.. baru pulang ye?" Aku seperti biasa menyapa Alim yang baru pulang kerja setiap senja.
"Iya..."

*
Ini sudah senja, biasanya Alim sudah pulang. Atau mampir minum kopi di warungku. Tapi kemana dia? Apa karena hujan dia terjebak macet? Atau?

Aku membesarkan volume TV warung saat mendengar siaran langsung breaking news, menyimak berita terbaru yang disampaiakan penyiar.

Empat pekerja pembersih gorong-gorong tewas di Kali Baru, Gunung Antang, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Diduga tewas kekurangan oksigen dan terjebak dalam genangan air.

Layar kaca menampilkan 4 nama orang tewas, dan salah satunya nama Alim disana.

***

Mengenaskan. Mengapa kukatakan mengenaskan pada catatan kaki kali ini. 4 Pekerja tewas ini sedang melakukan tugas membersihkan saluran air , gorong-gorong. Membersihkan disini termasuk menyingkirkan smapah-sampah yang menyumbat.

Indonesia, selalu melihat peluang apapun sebagai mata pencaharian. Ya, termasuk kuli pembersih gorong-gorong.

Seandainya tidak ada orang yang buang sampah sembarangan, pasti tidak akan ada sampah yang berserakan dan menyumbat di dalam gorong-gorong.

Itu artinya tidak harus ada sampah yang dibersihkan oleh orang dengan profesi pekerjaan sebagai pembersih gorong-gorong.

Semoga tidak ada lagi kelalaian manusia yang menjadi faktor pemicu berita buruk. Mulai dari diri sendiri, dari sekarang dan dari hal kecil :)