Friday, December 18, 2009

SMS Ibu

Dek, Pulang!

Singkat saja bunyi sms ini. Menyesal kadang sudah punya handphone, Ibu bisa mengingatkanku setiap saat. Bukan untuk mengingatkanku agar tak lupa makan, tapi mengingatkanku akan waktu.

"Pak, ijin, aku duluan ya."
"Uda disms Ibu ya?" tanya pak Ketua.
Aku mengangguk.
"Dikit lagi nih rapat kita, tinggal masuk ke Intern bagian TMB soal progres lapangan."
Pak Sekum meminta aku tinggal sebentar lagi. Dan seperti biasa, aku mengabaikan sms Ibu, memilih kembali duduk dan berpendapat dalam rapat.

*
"Kenapa aku nggak boleh pulang malam?!!"
"Rapat itu ada ukurannya lah dek. Ngomongin apa ajah sih di MB kok ampe tengah malam??"
"Ya pasti ada yang dibahas lah bu! Nggak mungkin aku keluyuran malam kemana-mana, wong aku cuma di sekret!"
"Bilang sama ketuamu itu, mas sopo? Ridwan? Rapat itu yang to the point saja!"
"Ibu tu nggak ngerti!"
"Ibu ini dulunya juga pernah mahasiswa kaya kowe. Tapi ya nggak sampai larut malam kaya gini!"
"Oya ibu mudanya juga aktivis tho? Jadi jangan salahkan kalo aku sekarang pulang malam karena rapat!"

Ibu seorang aktivis mulai dari mudanya hingga saat ini. Termasuk orang yang sangat dekat dengan organisasi apapun ditempat dia tinggal. Tak heran, aku suka berdebat. Berdebat dengan Ibuku sendiri. Ini bakat yang diturunkan beliau.

*
Baru saja kuletakkan perlatan Color guardku kedalam gudang alat. Lalu aku memilih menghela nafas terduduk di depan sekret. Mengipas-ngipas diri dengan lembaran chart display yang hampir koyak. Kuambil handphone dari dalam tasku. Yak, pesan dari Ibu sudah masuk.

Dek, selesai latihan pulang!

Kesal! Agenda malam ini rapat pembahasan terakhir untuk keberangkatan GPMB. Bagaimana aku tidak hadir? Ibu mengapa tidak mengerti sekali saja sih?!

Ada rapat Bu. Ini penting. Aku pulang malam.

Tidak ada balasan, kupilih mematikan handphone. Aku tak mau mood rapatku terusik oleh teror Ibu yang menyuruhku segera tiba dirumah.

"Rapatttt!!! Lantai 3 yeee!!"
Suara teriakan sang Sekum sudah membahana di sudut lorong sekret MBUII.

*
"Bu, aku pergi."
Aku menjabat dan mencium tangan ibu dan berlalu.
"Kebiasaan..."
Aku terhenti di depan pintu garasi sebelum mengeluarkan motorku.
"Apa bu?"
"Kalau pamitan itu yang jelas, kamu sampai jam berapa?"
Kubenarkan posisi tasku yang cukup besar dengan tabung kertas kalkir didalamnya.
"Aku ini kuliah Stupa, sampe jam 12. Trus ada kuliah lagi, sampe jam 3. Langsung ke pusat, latihan."
"Langsung ono rapat meneh?"
"Iya selesai latihan, ada rapat persiapan TC besar."
"Kapan tho mau ke Jakartanya?"
"24 Malam bu."
"TC itu kapan?"
"Tinggal dua minggu lagi."
Ibu terdiam. Mungkin sedang mengkalkulasi tanggalan di pikirannya. Aku men-starter motorku dan mengucap salam "Assalamualaikum!"

*
Kubuka pintu garasi dengan perlahan. Ini sudah jam 1 dini hari. Sedikit mengendap aku memasukkan motorku kedalam garasi. GPMB semakin dekat, intensitas pulang malamku semakin tinggi. Selesai latihan dilanjutkan rapat. Begitu keseharianku. Berangkat pagi, menuju kampus terpadu, ujian- ya ini sudah memasuki minggu ujian akhir semester, lalu turun ke kampus pusat untuk latihan MB, dan rapat setelahnya.

Nampaknya Ibu sudah tidur. AKu berjalan menuju kamar. Meletakkan tasku yang selalu penuh. Waktunya berbersih diri dan melanjutkan tugas yang harus selesai malam ini.

*
"Belum tidur dek?"
Aku sempat kaget mendengar suara ibu dari pintu kamarku.
"Uda lama bu disitu?"
"Kamu itu ditanya malah nanya balik."
"Belom, ini masih nyelesein maket..."
"Kamu nggak pegel duduk dibawah situ? Mbok ya ngerjain diatas meja makan."
"Tanggung bu. Uda ribet disini. Dikit lagi selesai kok."
"Jangan ngeluh sakit pinggang ma punggung besok."
Aku menghela nafas. Ibu perhatian, tapi cara menyampaikannya membuat aku emosi. Selalu.
"Iyo, ora... Uda tho, Ibu tho, ibu tidur saja... Aku sebentar lagi juga tidur kok."
"Kamu mau teh anget?"
Aku hanya mengangguk. Kami seringkali berkomunikasi secara dingin. Iya aku dan Ibuku, memiliki sifat yang kurang lebih sama.

*
"8 hitungan kamu uda sampai disana! Gerakannya yang gini nih!!!"
Aku sedikit kehilangan kesabaran mengajari temanku ini.
"Ooo ya.. jadi, tu wa ga pat....terus?"
Dia terhenti ditengah melupakan gerakannya
"ma nam ju pan..." aku melanjutkan dan memberi tahu gerakan selanjutnya
"Oyaa ya ya ma... nam.. ju ...n pan!" Dia mengulanginya dengan tempo lebih lambat.

Malam semakin larut. Tapi mata ini tak jua mengantuk. Lapangan masih penuh. Timku sudah siap untuk ada di Istora senayan akhir minggu depan. Tak ada lagi alasan lupa gerakan atau not. Ya, kami siap berjuang di Istora untuk GPMB tahun ini.

Siap Grak!
Field comander mengomando , dan memberi tanda untuk bersiap satu paket penampilan dari awal hingga akhir. Ini malam terakhir TC, besok akan pentas pamit.

UII!
semua melakukan balik kanan bubar jalan dan mempersiapkan satu paket gladi kotor.

*
Ibu, besok aku pentas pamit.Ibu nonton ya!

Kukirimkan pesan singkat ke Ibu sebelum memejamkan mata. Sejak TC, Ibu tak lagi menggangguku dengan sms-nya. Karena jelas, aku 5 hari akan berada disini tidak pulang kerumah demi latihan intensif bersama tim untuk kejuaraan GPMB akhir bulan ini di Jakarta.

Ada yang hilang, ya, aku merindukan omelan ibu.

*
"Ujianmu sudah selesai nduk?"
"Udah."
Aku menjawab seraya menyuap sesendok nasi ke mulutku.
"Kapan kamu berangkat ke Jakarta?"
"3 hari lagi. abis ini aku ke sekret, mau checking untuk semuanya."
"Jangan malam-malam pulangnya"

Pesan ibu selalu sama, meski sama, aku selalu tak menepatinya. Aku selalu pulang malam, bahkan pagi hari demi MBUII. Tak peduli aku harus menangis esoknya karena mendapat omelan atau bahkan didiamkan seharian tanpa satupun sapaan.

*
Aku masuk final Bu!!Doakan ya!

Ya, tim kami masuk Final untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun vakum dari kejuaraan GPMB. Dan aku terharu atas semua perjuangan bersama teman-teman.

Terlintas bagaimana setiap malam-malamku penuh dengan latihan. Telinga terkadang dijejali makian dari pelatih. Otak ini berpikir keras untuk pendapat dalam rapat dan kordinasi.

Rasa lelah harus disingkirkan ketika tugas gambar di kertas kalkir berlembar-lembar menanti. Atau setengah maket skala 1:200 menunggu diselesaikan.

Belum lagi sms ibu yang bukan lagi teguran untukku tapi sebagai teror di setiap malamku saat masih berada diluar rumah. Belum lagi di pagi harinya selalu ada sidang mengapa semalam tidak membalas sms, tidak bisa ditelpon, masuk rumah jam berapa, dan sebagainya. Belum lagi berdebat sebelum pamit keluar rumah dengan mau kemana, pulang jam berapa, jangan lupa sms bila telat pulang. Dan aku selalu mengulangi kesalahan, tak meberi tahu kapan akan pulang bila ada diluar rumah.

Selamat. Insya Allah dek, semoga MBUII juara.

Singkat dan jelas. Ibu mendoakanku!

Tak lama masuk lagi sms dari Ibu.

Transkrip nilai semester ini sudah dikirim kerumah. Selamat sekali lagi untuk IPmu nduk.

Deg! Ibu mengucapkan selamat untuk IPku?

*
"Ibu hanya sangsi studimu."
"Hahahahah ternyata Ibu punya ketakutan?"
"Tapi ibu salah..."
Aku tersenyum.
"Meski kowe sibuuukk di MBmu, tapi yo nilaimu bagus. Dan kamu lulus sekarang nduk."

**
Ibu memang jarang berkata dengan lembut ke aku. Aku sendiri jarang bertutur dengan rapi bila sedang menganggap ibu berlebihan kepadaku. Itu kala aku masih duduk di bangku kuliah. Umurku yang masih dikategorikan labil, dengan emosi meledak-ledak.Tapi dibalik itu, aku tahu Ibu sayang padaku.

Semakin hari semakin aku sadari. Sekarang kitalah yang mengalah memperhatikan Ibu, mendengarkan ibu. Aku sangat tahu aku sayang Ibu.

Happy mothers day Mom, I love U

Kukirimkan pesan singkatku.

Love U too nduk

Ibu membalas, tak ada lagi sms teror dari ibu. :)


*******


Untuk semua Ibu di dunia,
Selamat hari Ibu 22 Desember

dan
untuk rekan-rekan MBUII, yang sedang akan berjuang di GPMB semangat!!!!!!!!

buat
rekan-rekan MBUII seperjuangan, 'keajaiban tiada tara berkenalan dan bergaul dengan kalian menuju kemenangan!!!'