Monday, December 07, 2009

Balapan Dengan Matahari



"Minum dulu lah bang kopi ini.."
"Iya."
Secangkir kopi sudah tersaji dimeja. Seperti biasa aku meneguknya di pagi hari.
"Bah, kurang manis! Macam mana kau buatkan aku kopi ini?"
"Abang ini mengada-ada, itu seperti biasa!"
Kutinggalkan istriku yang masih meracau. Pagi hariku selalu dipenuhi adu mulut. 'Terserah kau lah' aku mengumpat dan menuju kendaraanku. Matahari belum terbit, setiap pagi aku mengantarkan banyak orang menuju terminal Blok M dari pinggir Jakarta.

*
Kututup tudung saji di meja makan. Semua lauk sudah siap.
"Aku pamit yo mas. Itu nasi dan lauk uda siap untuk makan siang."
"Iyo. Sana cepet berangkat uwis jam limo lho."
Kukecup anakku yang masih terlelap. Aku bergegas setelah mencium punggung tangan suamiku.
"Ojo lali, tuku sampo sebelum mandiin Woro nanti. Beli yang nggak perih dimatanya yo mas."
"Iyo."
Setiap pagi aku berberes rumah sebelum nantinya membereskan semua ruangan di gedung bertingkat tempat aku bekerja. Aku harus berlomba dengan matahari, karena semua ruangan harus bersih sebelum karyawan berdatangan.

*
"Aku berangkat."
"Iya."
Suamiku menjawab singkat sambil menarik sarungnya dan kembali mendengkur.
Matahari belum terbit, aku harus tiba di jembatan sebelum ramai orang berangkat kerja.Kugendong buah hatiku yang belum genap berusia dua tahun. Dia yang setia menemaniku selama hidupnya, setiap hari hingga malam tiba menjadi saksi rutinitas kota. AKu bergegas meninggalkan bangunan 4x4 m yang kusebut rumah.

*
Kubasuh wajah dan kedua tangan dan kakiku.
"Kang! Aku duluan!"
"Yo!"
Kualambaikan tangan dan kembali meneruskan membersihkan sisa-sisa tanah yang menempel disekujur tubuhku.
Sudah dua minggu ini aku bekerja di malam hari, dan pulang dikala matahari akan terbit. Proyek galian ini menjadi mata pencaharian aku. Ini adalah galian proyek pemerintah yang membentang sepanjang jalan raya Jakarta pinggiran.

*
Rangkaian bunga ini tampak cantik sekali. Sebentar lagi tugasku untuk membawanya ke alamat tujuan. Setiap hari selalu ada karangan bunga yang kukirimkan. Setiap hari selalu ada bunga untuk yang bahagia karena bertambah umur maupun bunga berduka untuk yang tiada.
"Bunga yang ini diantar ke alamat ini."
Aku menerima secarik kertas alamat yang bersangkutan."Iya Bu"
Kunaiki sepeda motorku dan melaju menuju alamat tersebut. Kali ini bunga bahagia dengan selipan kartu 'selamat ulang tahun sayang'

***
Aku sudah di metro mini. 'Sepagi ini?' Itu pertanyaan kakakku. Tak perlu kujawab, bekerja di media tak mengenal waktu kerja seperti pegawai bank atau PNS bukan?

Matahari belum bersinar. Pekerja proyek galian berbondong-bodong meninggalkan posko proyek galian. Tentu lelah semalaman bekerja untuk pekerjaan berat galian yang entah dimana berujung.

Sopir sepagi ini sudah memaki-maki kenek dengan logat khas bataknya. Barangkali dia selalu punya masalah pagi dengan istrinya? Entahlah.

Setengah perjalanan menuju kantor, ada yang menarik perhatian diluar sana. Sepeda motor yang membawa karangan bunga. Manis sekali, pasti bahagia mendapat kejutan pagi hari berupa bunga. Dan aku yakin itu bunga bahagia, bukan karangan bunga belasungkawa.

Aku sudah tiba di halte tempat aku turun. Seperti biasa aku harus melalui jembatan penyebrangan. Dan di sudut sana selalu aku temui seorang ibu dengan bayinya yang duduk berharap ada yang memberinya sepeser uang. Aku melintasinya tergesa. Aku tak mau berpendapat banyak atas pekerjaan ini.

Sampai juga aku di kantor. Ruangan kantor sudah dipenuhi OB. Tidak semua 'boy' sebenarnya ada beberapa darinya wanita bahkan ibu rumah tangga. Mereka sedang membersihkan ruangan sesuai dengan tugasnya masing-masing.

Pagi ini aku berada dibelakang matahari. Nyaris menang dengan matahari sampai di lantai 31. Tapi kata temanku, 'Kita gak mungkin mengalahkan sistem alam'.

Selamat pagi!
Enjoy ur monday!

***
Potret Jakarta pagi hari
7/12/09