Thursday, December 03, 2009

Separuh Yang Luruh

"Huh!!!"
Antrian panjang kemacetan jalan ini cukup membuatku muak. Sudah satu jam lebih aku hanya bergerak sekitar 200 meter saja. Dan sialnya, AC mobil buruk ini menambah penderitaanku. Siang ini matahari tak segan-segan bersinar. Sudah puluhan makian kulontarkan dari mulut. Entah karena ulah supir angkutan umum yang seenaknya memotong jalanku, atau pengendara motor yang membuat aku kaget dengan manuver-manuvernya.

Tuhan..., kalau saja aku orang nomer satu di negeri ini, aku nggak akan tersiksa seperti ini.

Sial! Ini sudah lebih setengah jam aku terlambat dari janjiku kepada seorang rekan.

Apes! Ini rokok terakhir yang aku nyalakan.

Aku membuka jendela mobilku lebih lebar lagi. Tak ada pedagang asongankah? Aku mencari seteguk air. Tenggorokan ini sudah kering sekali. Sial! Aku hanya bisa menelan ludah berkali-kali.

Sial! Sampai kapan aku akan terjebak dalam kemacetan ini! Bisakah mobil-mobil ini tidak menghalangi jalanku? Sial tujuh turunan!

"Kau bukan orang beriman!"
"Aku?"
"Iya, kamu!"
"Aku selalu menyebut namaMU, apa itu kurang?"
"Tidak..."
"Aku selalu percaya dengan utusanMu, KitabMu, bahkan hari kiamat dan ketetapanMu!Apa ibadahku tidak sempurna kepadaMU?"
"Kau harus ingat, iman-mu itu terdiri atas dua bagian..."
"Apa itu?"
"Separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur. Dan baru saja separuh sabarmu mu meluruh memudarkan keimananmu!"



Sabda Rasulullah SAW bahwa iman terbagi dua, separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur. (HR. Al-Baihaqi).


Posted on my Notes FB:
Sunday, October 25, 2009 at 10:30am